ilustrasi croissant (pexels.com/ Manish Jain)
Popularitas croissant meluas pada abad ke-19 ketika mantan perwira militer Austria, August Zang, membuka toko roti Boulangerie Viennoise di Paris pada tahun 1839. Ia memperkenalkan Kipferl versi premium yang dijuluki Viennoiserie (kue gaya Wina).
Teknik tersebut kemudian disempurnakan oleh koki-koki Prancis pada awal abad ke-20 melalui metode lamination, yaitu melipat adonan tepung dengan mentega secara berulang-ulang. Inovasi inilah yang akhirnya melahirkan tekstur rapuh di luar, lembut di dalam, dan beraroma gurih (flaky and buttery).
Karakteristik | 🇦🇹 Kipferl Tradisional | 🇫🇷 Croissant Modern |
Tekstur | Padat, menyerupai tekstur roti biasa | Sangat renyah di luar, berongga di dalam |
Adonan | Adonan ragi standar tanpa lipatan mentega | Laminated dough (dilipat berulang kali dengan mentega) |
Rasa | Cenderung manis, sering diisi kacang atau buah | Gurih dominan mentega (rich buttery flavor) |
Perjalanan panjang sepotong croissant membuktikan bahwa kuliner populer dunia sering kali lahir dari proses adaptasi budaya yang luar biasa. Dari simbol kemenangan perang di Austria, dibawa putri kerajaan ke Prancis, hingga disempurnakan oleh koki Paris, croissant sukses menjelma menjadi identitas kuliner global.
Nah, setelah tahu sejarah aslinya, pastri mana nih yang paling sering menemani waktu ngopimu? Yuk, bagikan artikel ini ke circle nongkrongmu biar mereka ikutan kaget!