Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Sejarah Croissant yang Sering Dikira dari Prancis, Padahal...
ilustrasi croissant (pexels.com/Claudio Segovia)
  • Pastri populer croissant sebenarnya bukan kuliner asli Prancis, melainkan berasal dari kue tradisional Wina, Austria, yang bernama Kipferl.

  • Bentuk bulan sabit tercipta sebagai simbol perayaan kemenangan warga Austria atas invasi bawah tanah Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1683.

  • Kue ini dibawa ke Prancis oleh Marie Antoinette, lalu disempurnakan menjadi pastri renyah bermentega lewat teknik lamination oleh koki lokal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Croissant dulu bukan dari Prancis. Kue ini dari Wina, Austria, namanya Kipferl dan bentuknya bulan sabit. Saat tahun 1683, pembuat roti membantu kota Wina saat ada musuh datang. Marie Antoinette lalu membawa kue itu ke Prancis. Koki Prancis membuatnya lebih renyah dan banyak mentega.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah membayangkan asyiknya menikmati sepotong croissant hangat beraroma mentega sambil menyesap kopi di kafe estetik? Banyak orang mengira pastri berlapis berbentuk bulan sabit ini adalah kuliner autentik kebanggaan Prancis. Kerap dijadikan menu sarapan berkelas, siapa sangka ada rentetan peristiwa luar biasa di balik gigitan renyahnya.

Kenyataannya, pastri favorit sejuta umat ini menyimpan kisah perlawanan militer, strategi perang bawah tanah, hingga infiltrasi istana di Eropa Tengah. Tenang, yuk bedah fakta unik perjalanan sejarah asli kue ikonik ini biar sesi nongkrong di kafe makin berwawasan!

1. Berawal dari Kue Tradisional Austria Bernama Kipferl

ilustrasi perempuan membuat croissant (magnific.com/fmagnific)

Jauh sebelum masyarakat Prancis mengenal croissant, warga Wina, Austria sudah lebih dulu memakan kue berbentuk bulan sabit bernama Kipferl sejak abad ke-13.

Resep asli Kipferl tradisional memiliki tekstur yang cenderung padat, rasanya lebih manis, sering kali ditaburi kacang, dan adonannya mirip roti biasa. Karakteristik ini tentu sangat berbeda dengan croissant modern yang dikenal sangat renyah, berongga, dan dipenuhi lelehan mentega.

2. Mitos Pengepungan Kota Wina Tahun 1683

ilustrasi croissant (unsplash.com/Conor Brown)

Bentuk ikonik bulan sabit ternyata lahir dari peristiwa menegangkan saat Pertempuran Wina pada tahun 1683. Kala itu, pasukan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) mencoba menembus pertahanan kota secara rahasia dengan menggali terowongan bawah tanah di tengah malam.

Para pembuat roti yang bekerja sejak dini hari mendengar suara dentuman sekop dari bawah tanah. Mereka langsung membunyikan alarm kota untuk memperingatkan militer, sehingga invasi musuh berhasil digagalkan.

Sebagai bentuk perayaan kemenangan, raja meminta pembuat roti memodifikasi Kipferl menyerupai lambang bulan sabit yang ada pada bendera musuh. Secara simbolis, memakan kue ini berarti "menaklukkan" lawan mereka.

3. Bertransmigrasi ke Prancis Lewat Marie Antoinette

ilustrasi croissant (unsplash.com/Jhunelle Francis Sardido)

Kue legendaris ini pertama kali menginjakkan kaki di tanah Prancis pada tahun 1770 melalui jalur pernikahan kerajaan. Putri bangsawan asal Austria, Marie Antoinette, menikah dengan calon Raja Prancis, Louis XVI.

Karena rindu dengan makanan masa kecil di kampung halamannya, sang putri meminta koki istana Versailles untuk membuatkan kue Kipferl. Masyarakat lokal kemudian mulai menyebut kue tersebut menggunakan bahasa Prancis untuk kata bulan sabit, yaitu Croissant.

4. Disempurnakan Lewat Teknik Lamination ala Koki Prancis

ilustrasi croissant (pexels.com/ Manish Jain)

Popularitas croissant meluas pada abad ke-19 ketika mantan perwira militer Austria, August Zang, membuka toko roti Boulangerie Viennoise di Paris pada tahun 1839. Ia memperkenalkan Kipferl versi premium yang dijuluki Viennoiserie (kue gaya Wina).

Teknik tersebut kemudian disempurnakan oleh koki-koki Prancis pada awal abad ke-20 melalui metode lamination, yaitu melipat adonan tepung dengan mentega secara berulang-ulang. Inovasi inilah yang akhirnya melahirkan tekstur rapuh di luar, lembut di dalam, dan beraroma gurih (flaky and buttery).

Karakteristik

🇦🇹 Kipferl Tradisional

🇫🇷 Croissant Modern

Tekstur

Padat, menyerupai tekstur roti biasa

Sangat renyah di luar, berongga di dalam

Adonan

Adonan ragi standar tanpa lipatan mentega

Laminated dough (dilipat berulang kali dengan mentega)

Rasa

Cenderung manis, sering diisi kacang atau buah

Gurih dominan mentega (rich buttery flavor)

Perjalanan panjang sepotong croissant membuktikan bahwa kuliner populer dunia sering kali lahir dari proses adaptasi budaya yang luar biasa. Dari simbol kemenangan perang di Austria, dibawa putri kerajaan ke Prancis, hingga disempurnakan oleh koki Paris, croissant sukses menjelma menjadi identitas kuliner global.

Nah, setelah tahu sejarah aslinya, pastri mana nih yang paling sering menemani waktu ngopimu? Yuk, bagikan artikel ini ke circle nongkrongmu biar mereka ikutan kaget!

Curated For You

Editorial Team

Related Article