Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Filosofi Bubur Asyura 10 Muharram di Jateng, Kenapa Pakai 7 Bahan?

Filosofi Bubur Asyura 10 Muharram di Jateng, Kenapa Pakai 7 Bahan?
ilustrasi bubur suro (vecteezy.com/Artoniumw)
Intinya Sih
  • Tradisi Bubur Asyura di Jawa Tengah memperingati kisah Nabi Nuh AS, ketika sisa bahan makanan dikumpulkan dan dimasak bersama sebagai simbol rasa syukur atas keselamatan.
  • Penggunaan tujuh bahan utama mencerminkan filosofi Jawa tentang angka 'pitu' yang berarti pitulungan dan pitutur, melambangkan doa untuk pertolongan serta nasihat baik dalam kehidupan.
  • Pembuatan Bubur Asyura dilakukan secara gotong royong oleh warga, lalu dibagikan kepada masyarakat dan anak yatim sebagai wujud sedekah serta kebersamaan di bulan Muharram.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times — Menyambut Hari Asyura yang jatuh pada Kamis (25/6/2026), masyarakat di berbagai daerah di Jawa Tengah tidak hanya bersiap menunaikan ibadah puasa sunnah. Salah satu tradisi kultural-keagamaan yang paling dinanti saat 10 Muharram adalah pembuatan Bubur Asyura.

Bubur gurih dengan warna kuning khas ini bukan sekadar takjil biasa untuk membatalkan puasa, Lur. Di balik kelezatan rasanya yang kaya rempah, Bubur Asyura menyimpan sejarah spiritual yang mendalam serta perpaduan filosofi budaya Jawa yang sangat kental. Salah satu ciri khas utamanya yang paling unik adalah kewajiban mencampurkan 7 macam bahan yang berbeda ke dalam satu kuali besar.

Penasaran apa makna di balik tradisi ini dan kenapa harus persis 7 bahan? Yuk, bedah filosofi lengkap kuliner legendaris 10 Muharram khas Jawa Tengah berikut ini!

1. Napak Tilas Sejarah: Bermula dari Bahtera Nabi Nuh AS

ilustrasi cara penyajian bubur suro khas Semarang (unsplash.com/Натали А.)
ilustrasi cara penyajian bubur suro khas Semarang (unsplash.com/Натали А.)

Secara historis Islam, tradisi memasak Bubur Asyura merujuk pada kisah penyelamatan besar yang dialami oleh Nabi Nuh AS dan para pengikutnya yang beriman.

Konon, saat bahtera Nabi Nuh AS akhirnya berlabuh di Bukit Judi setelah terapung berbulan-bulan akibat air bah raksasa, persediaan makanan di dalam kapal sudah sangat menipis. Nabi Nuh AS kemudian meminta para sahabatnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan apa pun yang masih ada di dalam kantong mereka.

Dari pengumpulan tersebut, didapatkanlah sedikit demi sedikit biji-bijian, kacang-kacangan, dan gandum. Karena porsinya tidak akan cukup jika dimakan masing-masing, Nabi Nuh AS memerintahkan agar seluruh bahan tersebut dimasukkan ke dalam satu kuali besar dan dimasak menjadi bubur agar bisa mengenyangkan seluruh penumpang kapal. Peristiwa penuh syukur itulah yang diperingati hingga kini setiap tanggal 10 Muharram.

2. Filosofi Angka 7 dalam Budaya Jawa: Kebersamaan dan "Pitulungan"

ilustrasi Tips Membuat Bubur Suro Khas Semarang (unsplash.com/Content Pixie)
ilustrasi Tips Membuat Bubur Suro Khas Semarang (unsplash.com/Content Pixie)

Ketika tradisi Islam ini masuk ke tanah Jawa, para ulama menyelaraskannya dengan kearifan lokal. Pemilihan 7 macam bahan utama dalam pembuatan Bubur Asyura di Jawa Tengah ternyata memuat makna filosofis yang sangat sakral.

Angka 7 melambangkan jumlah hari dalam seminggu, tujuh lapis langit, dan tujuh lapis bumi, yang mengisyaratkan totalitas kehidupan manusia di dunia.

Dalam bahasa Jawa, angka tujuh disebut "pitu". Para sesepuh Jawa memaknai kata pitu ini sebagai sanepo atau singkatan dari "pitulungan" (pertolongan) dan "pitutur" (nasihat baik).

Mengonsumsi Bubur Asyura dengan 7 bahan menjadi simbol doa dan harapan kolektif masyarakat agar senantiasa mendapatkan pertolongan (pitulungan) dari Allah SWT dalam menghadapi segala rintangan hidup di tahun yang baru.

3. Menilik 7 Macam Bahan Utama Bubur Asyura Jateng

ilustrasi bubur suro (Unsplash.com/Lampos Aritonang)
ilustrasi bubur suro (Unsplash.com/Lampos Aritonang)

Setiap daerah di Jawa Tengah—seperti di Demak, Kudus, hingga Solo—memiliki variasi isi yang sedikit berbeda tergantung hasil bumi lokal. Namun secara umum, berikut adalah 7 jenis bahan pangan pokok yang wajib ada di dalam racikan Bubur Asyura tradisional:

Menilik 7 Macam Bahan Utama Bubur Asyura Jateng

Biar lebih jelas dan gampang dipahami, berikut adalah rincian 7 jenis bahan pangan pokok yang wajib ada di dalam racikan Bubur Asyura tradisional Jawa Tengah beserta simbol filosofinya dalam format vertikal, Lur:

1. Beras

Sebagai bahan dasar utama, beras melambangkan kemakmuran, kecukupan pangan, serta tiang fondasi kehidupan bagi masyarakat.

2. Kacang Hijau

Bentuknya yang mudah bertunas melambangkan pertumbuhan spiritual, kesuburan, serta kebaikan yang harus selalu tumbuh dalam diri manusia.

3. Kacang Tanah

Karena buahnya tumbuh di dalam tanah, bahan ini menjadi simbol kerendahan hati (andhap asor) agar manusia selalu ingat asal-usulnya dan tidak sombong.

4. Kedelai

Melambangkan ikatan persaudaraan, persatuan, dan jalinan kerukunan antarwarga yang erat agar tidak mudah terpecah belah.

5. Jagung

Menyimbolkan ketahanan pangan, kekuatan fisik, serta rasa optimisme untuk terus bekerja keras dan beribadah di tahun yang baru.

6. Ubi Jalar / Singkong (Polo Pendem)

Merupakan lambang kesederhanaan hidup (nrimo ing pandum), mengajarkan kita untuk selalu bersyukur mulai dari hal-hal yang paling mendasar.

7. Pisang / Santan Kelapa

Berperan sebagai pemberi rasa manis dan gurih alami, bahan penutup ini menjadi lambang keharmonisan, kelembutan tutur kata, serta kedamaian antar sesama.

Ketujuh bahan di atas nantinya akan dimasak dan dilebur jadi satu di dalam kuali besar bersama bumbu kunir (kunyit), daun salam, serai, dan garam hingga menghasilkan tekstur bubur yang lembut, gurih, dan harum.

4. Tradisi "Gentong Kanggo Sopo saja": Nilai Sedekah yang Kuat

ilustrasi Bubur Suro Khas Semarang (unsplash.com/Bakd&Raw by Karolin Baitinger)
ilustrasi Bubur Suro Khas Semarang (unsplash.com/Bakd&Raw by Karolin Baitinger)

Ciri khas utama pembuatan Bubur Asyura di perkampungan Jawa Tengah adalah aspek gotong royong. Bubur ini jarang sekali dimasak sendirian di dapur rumah pribadi.

Biasanya, para ibu-ibu di tingkat RT atau pengurus majelis taklim masjid akan berkumpul sejak Kamis pagi membawa bahan-bahannya sendiri dari rumah (iuran). Proses mengaduk bubur di atas tungku kayu bakar yang besar membutuhkan tenaga ekstra, sehingga para pria pun ikut ambil bagian.

Setelah matang menjelang waktu ashar atau maghrib, bubur ini akan dibagi-bagikan secara merata kepada seluruh warga kampung, anak-anak yatim, dan para jemaah masjid yang sedang menunaikan ibadah Puasa Asyura. Ini adalah implementasi nyata dari esensi bulan Muharram sebagai bulan berbagi dan menyantuni sesama.

Nah, itulah filosofi mendalam di balik mangkuk hangat Bubur Asyura khas Jawa Tengah. Apakah di kampungmu besok juga ada tradisi masak besar ini, Lur? Selamat menyambut Hari Asyura 10 Muharram, selamat berpuasa, dan semoga kita semua mendapatkan kelimpahan pitulungan tahun ini!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More