Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gak Perlu Mahal! Ini 5 Cara Cek Stunting dan Tumbuh Kembang Anak Sendiri di Rumah
ilustrasi stunting (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
  • Stunting masih jadi isu penting di Indonesia, terjadi akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan anak.
  • Orang tua bisa memantau tumbuh kembang anak di rumah dengan mengukur tinggi, berat badan, serta mencatat hasilnya di Buku KIA atau aplikasi Primaku.
  • Pemeriksaan mandiri juga mencakup pengamatan milestone motorik, pertumbuhan gigi, proporsi tubuh, nafsu makan, dan daya tahan anak untuk deteksi dini risiko stunting.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times — Isu stunting atau tengkes pada anak masih menjadi perhatian utama para orang tua di Indonesia. Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal tidak selalu harus mengeluarkan biaya mahal dengan rutin berobat ke klinik swasta, lho. Ibu dan Ayah sebenarnya bisa melakukan pemantauan mandiri secara berkala di rumah menggunakan alat-alat sederhana.

Penasaran bagaimana caranya? Yuk, simak 5 cara praktis mengecek tumbuh kembang dan potensi stunting anak sendiri di rumah, Lur!

1. Ukur Panjang/Tinggi Badan dan Berat Badan Secara Berkala

Ilustrasi stunting (pexel)

Langkah paling mendasar dalam mendeteksi stunting adalah dengan memantau pertambahan panjang atau tinggi badan anak.

Cara Pengukuran yaitu untuk anak di bawah usia 2 tahun, ukur panjang badan dalam posisi berbaring telentang. Sedangkan untuk anak usia di atas 2 tahun, ukur tinggi badan dalam posisi berdiri tegak tanpa alas kaki menggunakan pita ukur atau microtoise.

Frekuensi dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan minimal 1 bulan sekali untuk bayi di bawah 1 tahun, dan 2–3 bulan sekali untuk anak usia di atas 1 tahun.

2. Pantau Grafik Pertumbuhan di Buku KIA atau Aplikasi Primaku

play.google.com/PrimaKu

Mencatat angka saja tidak cukup, Lur. Angka hasil pengukuran harus diplot ke dalam grafik pertumbuhan resmi dari WHO yang ada di Buku KIA (Kartu Ibu dan Anak) atau aplikasi telepon pintar seperti Primaku (aplikasi resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia/IDAI).

Indikator Stunting dengan fokus pada grafik Tinggi Badan menurut Usia (TB/U).

Cara Membaca yaitu jika grafik tinggi badan anak berada di bawah garis hijau, apalagi menyentuh atau berada di bawah garis merah (minus 2 Standar Deviasi / -2 SD), anak berisiko mengalami stunting dan membutuhkan evaluasi dokter.

3. Amati Perkembangan Milestone dan Kemampuan Motorik Anak

Ilustrasi melatih motorik anak (pexels.com/Alex Green)

Ciri-ciri stunting tidak hanya terlihat dari fisik yang pendek, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak dan saraf anak.

Perkembangan Motorik dengan mengamati apakah anak sudah mencapai kemampuan sesuai usianya. Misalnya, usia 6 bulan sudah bisa duduk dengan ditopang, usia 12 bulan mulai belajar berjalan, dan usia 18–24 bulan sudah lancar berlari serta mengucapkan beberapa kata jelas.

Interaksi Sosial anak yang mengalami kekurangan gizi kronis cenderung terlihat kurang aktif, lemas, dan kurang responsif terhadap lingkungan sekitarnya.

4. Perhatikan Pertumbuhan Gigi dan Proporsi Tubuh

ilustrasi pemberian gizi anak (unsplash.com/Kelly Sikkema)

Pertumbuhan fisik anak yang optimal juga bisa diamati dari perkembangan organ tubuh lainnya secara visual.

Erupsi Gig biasanya terjadi pada anak yang mengalami kendala gizi kronis atau stunting sering kali mengalami keterlambatan pertumbuhan gigi susu dibanding anak seusianya.

Proporsi Wajah & Tubuh: Anak stunting biasanya memiliki proporsi tubuh yang tampak normal tetapi berukuran lebih kecil dari usianya (tampak seperti anak yang usianya lebih muda).

5. Evaluasi Nafsu Makan dan Daya Tahan Tubuh Anak

Ilustrasi nafsu makan meningkat

Daya tahan tubuh berhubungan erat dengan asupan gizi yang diterima anak sehari-hari.

GTM dan Pola Makan: Perhatikan apakah anak mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM) berkepanjangan atau hanya mau mengonsumsi Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kurang kaya akan protein hewani (seperti telur, daging ayam, ikan, dan daging sapi).

Frekuensi Sakit: Anak yang berisiko stunting umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, sehingga lebih sering terserang penyakit infeksi berulang seperti batuk, pilek, hingga diare.

Nah, itulah 5 cara mudah dan hemat untuk memantau tumbuh kembang serta mencegah stunting pada anak langsung dari rumah. Yuk, lebih peka terhadap tumbuh kembang si Kecil demi masa depannya yang cerah, Lur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article