Gelombang PHK Terus Berlanjut, Psikolog: Saatnya Pekerja Ganti Profesi

Semarang, IDN Times - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus berlanjut menerjang industri padat karya. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang, per September 2024, sebanyak 1.106 pekerja harus kehilangan mata pencaharian karena perusahaan tutup dan melakukan efisiensi.
1. Dampak perkembangan teknologi yang pesat

Kondisi itu diprediksi akan terus terjadi di tahun 2025. Menyikapi persoalan PHK dari industri padat karya itu, Psikolog Industri Organisasi, Ade Ayu Surya Ariesta, S.PSi, M.PSi, Psikolog mengatakan, fenomena gelombak PHK yang terjadi di Indonesia ini menunjukkan bahwa zaman memiliki masalah semakin kompleks.
“Badai PHK ini merupakan dampak dari perkembangan teknologi yang pesat. Saat ini tenaga manusia sudah tergantikan oleh mesin. Akhirnya, tergeruslah para pekerja yang bekerja di industri padat karya dan terjadilah gelombang PHK seperti sekarang,” katanya saat ditemui, Jumat (10/1/2025).
Selain perkembangan teknologi, aktivitas impor komoditas yang merajalela dari luar negeri seperti Tiongkok juga mengurangi potensi pekerja di Indonesia. Disamping itu bagi industri dan pengusaha, persaingan makin tinggi dan mereka harus menghadapi daya beli yang menurun.
2. Pekerja harus tingkatkan soft skill

Menurut Ade, impor mengurangi potensi pekerja di Indonesia. Sebab, di era globalisasi seperti sekarang membuat akses perdagangan semakin mudah, sehingga berdampak pada pengurangan tenaga kerja di industri. Selain itu, artificial intelligence (AI) juga berperan dalam badai PHK ini.
“Pengusaha pemilik industri memangkas tenaga manusia sebagai pekerja dan menggantikan dengan mesin. Misalnya di industri tekstil, banyak pekerja yang kena PHK karena tugas mereka sudah tergantikan dengan mesin-mesin canggih,” jelas psikolog dari Indonesia Mental Inspirasi (IMI).
Kondisi itu otomatis membuat para pekerja yang kena PHK mengalami shock karena kehilangan pekerjaan.
Ade menuturkan, dalam kondisi demikian atau saat menghadapi gelombang PHK, para pekerja harus meningkatkan soft skill. Sebab, kondisi seperti ini saat yang tepat untuk beralih profesi.
3. Jangan cari jalan pintas ke judol dan pinjol

“Jangan mencari jalan pintas dengan melakukan judi online atau pinjaman online. Masih banyak peluang untuk beralih profesi dengan menjadi wirausaha atau konten kreator yang menjanjikan,” tandasnya.
Sementara, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang akan memberikan pendampingan kepada pekerja yang terkena PHK.
Kepala Disnaker Kota Semarang, Sutrisno mengatakan, untuk mengantisipasi meningkatnya angka pengangguran, Sutrisno pihaknya memiliki program pelatihan bagi pekerja yang terdampak PHK.
“Kami akan membuka pelatihan bagi pekerja yang kena PHK tersebut pada tahun 2025 ini,” katanya.
4. Sebanyak 8.231 pekerja di Jateng terkena PHK

Sementara itu data dari Disnakertrans Jawa Tengah Sebanyak 8.231 pekerja di Jateng terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada periode Januari-Agustus 2024.
Dari total 8.231 kasus PHK, jumlah paling tinggi ada di Kabupaten Boyolali yang mencapai 20,19 persen atau 1.166 pekerja. Kemudian, Kabupaten Pekalongan sebesar 15,41 persen atau 1.268 pekerja dan Kota Semarang sebesar 14,71 persen atau 1.210 pekerja.
Kepala Bidang Hubungan Industri Disnakertrans Jateng Ratna Dewajati mengatakan sektor yang paling besar berkontribusi terhadap adanya PHK yakni adalah tekstil dan garmen. Penyebab banyaknya PHK juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, yakni perang Rusia-Ukraina ebab berdampak pada impor bahan baku untuk tekstil, yakni dari segi waktu pengiriman lebih lama dan biaya juga lebih tinggi. Selain itu juga pengaruh hubungan China dan Amerika juga mempengaruhi produk, orderan jadi turun, ditambah kebijakan produk impor yang membanjiri pasar Indonesia.
Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi beberapa waktu lalu mengatakan banyaknya PHK salah satunya disebabkan peralatan yang dimiliki pabrik garmen, tekstil dan tekstil produk tekstil (TPT) yang sudah tua. Apabila dibanding peralatan milik pabrik luar negeri, Frans berkata pengusaha garmen dalam negeri sudah kalah bersaing.



















