Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Haru! Tangis Orang Tua Relakan Anaknya Masuk Sekolah Rakyat Rowosari Semarang
Nurin Safita bersama temannya yang bernama Ayu Sekar berpose dengan simbol jari berbentuk love. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Sekolah Rakyat Rowosari Semarang resmi menggelar MPLS bagi ratusan siswa SD, SMP, dan SMA dengan suasana haru saat orang tua melepas anak-anaknya menempuh pendidikan.
  • Banyak orang tua seperti Kaminem rela melepas anaknya bersekolah di Sekolah Rakyat karena keterbatasan ekonomi, berharap pendidikan bisa mengubah nasib keluarga mereka.
  • Kepala Sekolah Ridho Irwanto menyebut ada 270 siswa dan 61 pendamping, serta menegaskan pentingnya pengawasan untuk mencegah bullying di lingkungan sekolah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Sekolah Rakyat Rowosari Semarang hari ini, Selasa (14/7/2026), resmi menggelar masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bagi para siswa-siswi. 

Kegiatan MPLS diikuti ratusan siswa-siswi dari jenjang SD, SMP dan SMA. Masing-masing siswa Sekolah Rakyat diajak mengenal teman-temannya di gedung aula utama.

Setiap siswa ada yang ditemani orang tua. Namun tak sedikit juga didampingi sanak keluarga.

Cerita getir pun muncul dari pengakuan para orang tua siswa. Tak sedikit orang tua yang menangis ketika mengantar anaknya ke Sekolah Rakyat Rowosari.

Kaminem, salah satu orang tua siswa sengaja datang bersama suaminya demi mendampingi putri kesayangannya mengikuti MPLS di Sekolah Rakyat Rowosari.

Putrinya yang bernama Ela Nur Setyaningrum mulai hari ini menempuh pendidikan SMP di Sekolah Rakyat Rowosari. Ela yang berusia 13 tahun tersebut dimasukan ke Sekolah Rakyat lantaran hidupnya selama ini sangat pas-pasan.

Ia ingin Ela kelak jadi anak sholehah dan cerdas. "Berharapnya dia jadi anak yang pinter, cerdas sholehah begitu," kata Kaminem saat berbincang dengan IDN Times.

Kaminem mengaku dengan penghasilannya sebagai pekerja rumah tangga (PRT) tidak bisa mencukupi untuk membiayai sekolah anaknya. 

Sebab saban bulan ia hanya dapat penghasilan Rp500 ribu. Sedangkan suaminya yang jadi tukang bangunan juga tidak punya penghasilan tetap.

Alhasil jalan satu-satunya dirinya musti mengikhlaskan anaknya mengenyam pendidikan kelas 1 SMP di Sekolah Rakyat Rowosari.

"Penghasilan saya kurang lebih Rp500 ribu satu bulan," kata warga Kampung Gandekan RT 01/RW VII Kelurahan Jagalan Mataram Semarang Timur ini.

Selama mendampingi Ela mengikuti MPLS di Sekolah Rakyat Rowosari, perasannya campur aduk. Sebetulnya ia merasa kasihan. Tapi di sisi lain hanya bisa pasrah sembari berharap Ela pada masa mendatang mampu mengangkat derajat keluarganya.

"Pertama-tama ya kayak gitu. Tapi lama-lama (terbiasa). Sudah saya ikhlas dia sekolah disini," kata Kaminem dengan suara tercekat.

Dengan keberdaan Ela yang menginap di asrama putri Sekolah Rakyat, ia juga sudah menyiapkan perlengkapanya. Yang terpenting mentalnya siap. "Iya sudah siap," katanya.

Jasmin diliputi perasaan galau

Sedangkan perasaan yang berkecamuk dirasakan Jasmin Nadira saat pertama kali menginjakan kaki di Sekolah Rakyat Rowosari. Bahkan, Senin kemarin siswi kelas 1 SMP ini tak bisa tidur semalaman.

"Semalaman saya ndak bisa tidur. Di kamar cuma rebahan. Rasanya kangen sama teman-teman satu geng di rumah," ujar dara berusia 13 tahun tersebut.

Perasannya sedikit galau. Ia yang terbiasa menempuh pendidikan di pondok pesantren di Kendal, sekarang belum terbiasa berbaur dengan siswa lainnya.

"Kalau pas Mulud boleh pulang ndak ya," ungkapnya dengan tatapan nanar. Mulud yang ia maksud adalah perayaan hari besar kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW yang kerap disebut Maulid Nabi.

"Saya penginnya habis sekolah disini, pas SMA mau ke pondok lagi biar gak lupa hafalannya," sambungnya.

Lain halnya dirasakan Nurin Safita yang harus pasrah mengenyam pendidikan SMA di Sekolah Rakyat Rowosari karena keluarganya berada di bawah garis kemiskiskinan.

Ibunya hanyalah seorang penjahit di Wonderia. Sedang bapaknya kuli yang penghasilannya tak menentu. 

Nurin kepengin selepas dari Sekolah Rakyat, dirinya bisa berkuliah di perguruan tinggi. "Habis lulus dari sini penginnya kuliah. Kan katanya bisa dapat kuliah gratis," ujarnya.

Berdasarkan data dari Sekolah Rakyat Rowosari tercatat jumlah siswa SD sebanyak 90 orang, siswa SMP sebanyak 90 orang dan siswa SMA juga 90 orang.

"Kita total ada 61 tenaga pendamping. Satu wali asuh atau pendamping mendampingi 10 anak. Kalau guru jumlahnya masih mencukupi," kata Kepala Sekolah Rakyat Rowosari, Ridho Irwanto.

Ridho dalam MPLS juga menekankan pentingnya mencegah bullying. Agar bullying tidak berkembang, pihaknya perlu melakukan pengawasan yang menyeluruh bagi para siswa-siswi semua jenjang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article