Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ibu-ibu Wajib Tahu! Trik Bedakan Daging Sapi Segar dengan Gelonggongan
ilustrasi daging sapi (pexels.com/Boys in Bristol Photography)
  • Artikel mengingatkan pembeli agar waspada terhadap daging sapi gelonggongan yang dijual pedagang nakal karena merugikan dan berisiko cepat busuk.
  • Daging segar bisa dikenali dari permukaan kesat, tekstur elastis, warna merah cerah, serta tidak meneteskan air berlebihan di lapak penjual.
  • Daging gelonggongan biasanya lembek, pucat, banyak rembesan air, dan sering dijual jauh lebih murah dari harga pasar untuk menarik pembeli.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times — Memasak hidangan berbahan dasar daging sapi untuk keluarga tercinta memang selalu jadi andalan ya, Lur? Mau diolah jadi rendang, semur, empal, atau sekadar sup hangat, kelezatan masakan tentu sangat bergantung pada kualitas daging yang kita beli di pasar tradisional.

Namun, Ibu-ibu dan Sedulur semua harus ekstra jeli saat berbelanja. Pasalnya, sampai saat ini masih saja ada oknum pedagang nakal yang nekat menjual daging sapi gelonggongan—yaitu daging dari sapi yang dipaksa meminum air sebanyak-banyaknya sebelum disembelih agar bobotnya naik drastis. Selain merugikan secara ekonomi karena kita membeli "air" dengan harga daging, daging gelonggongan juga cepat busuk dan rentan terkontaminasi bakteri.

Biar gak gampang terkecoh trik pedagang nakal, yuk bongkar 4 trik taktis membedakan daging sapi segar dengan daging gelonggongan berikut ini, Lur!

1. Amati Rembesan dan Tetesan Air di Sekitar Daging

Ilustrasi daging sapi (pexels.com/J-Steve Pham)

Ini adalah cara paling kasat mata dan paling mudah untuk mendeteksi kecurangan di lapak penjual daging.

Daging Segar: Permukaannya cenderung kesat, lembap alami, dan tidak mengeluarkan cairan secara berlebihan. Jika digantung, daging segar tidak akan meneteskan air.

Daging Gelonggongan: Cairan di dalam serat daging sangat jenuh. Akibatnya, daging ini akan terus-menerus meneteskan air. Perhatikan meja lapak penjual; jika terdapat genangan air berwarna kemerahan di bawah daging, atau pedagang sengaja menaruh wadah penampung tetesan air, kamu wajib curiga, Lur!

2. Tekan Tekstur Daging dengan Jari (Cek Elastisitas)

ilustrasi daging sapi (unsplash.com/Satmar Meats)

Jangan ragu untuk menyentuh dan menekan sedikit permukaan daging sebelum memutuskan untuk membelinya. Trik ini sangat akurat untuk menguji kepadatan serat.

Daging Segar: Memiliki tekstur yang padat, kenyal, dan elastis. Saat Sedulur menekan daging dengan ujung jari, permukaan daging akan langsung kembali ke bentuk semula (membal).

Daging Gelonggongan: Terasa lembek, lembek karena air, dan tidak elastis. Jika ditekan dengan jari, bekas cekungan tekanan tadi tidak akan kembali atau butuh waktu lama untuk rata kembali karena seratnya sudah rusak terendam air.

3. Perhatikan Perubahan Warna Daging

ilustrasi daging sapi (pexels.com/ 女子 正真)

Warna daging sapi bisa menjadi indikator utama apakah daging tersebut baru dipotong atau sudah mengalami rekayasa bobot.

Daging Segar: Berwarna merah segar, cerah, dan tampak mengilap alami. Lemak pada daging segar biasanya berwarna putih kekuningan yang padat.

Daging Gelonggongan: Warnanya cenderung pucat atau merah agak keabu-abuan. Hal ini terjadi karena pigmen warna daging alami sudah pudar akibat terencerkan oleh volume air yang masuk ke dalam sel-sel daging sapi.

4. Jangan Mudah Tergiur dengan Harga yang Terlalu Murah

gambar daging sapi segar (magnific.com/bublikhaus)

Hukum ekonomi dasar di pasar tradisional: ada harga, ada rupa. Trik psikologis pedagang nakal biasanya menyasar pembeli yang mencari harga miring.

Daging Segar: Dijual dengan harga stabil mengikuti standar pasar yang berlaku di daerah tersebut.

Daging Gelonggongan: Sering kali ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah (bisa selisih Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram) dari harga pasaran normal dengan alasan "habisin stok". Oknum pedagang berani jual murah karena modal bobotnya sudah terbantu oleh berat air.

Nah, itulah rahasia membedakan daging sapi murni dengan daging tiruan gelonggongan. Mulai besok pagi saat ke pasar, praktikkan trik ini ya Bu-ibu, biar masakan di rumah tetap sehat, bergizi, dan berkah untuk keluarga. Selamat berbelanja, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article