Ikut Mudik Gratis PP, Dina Ngirit Ongkos Rp4 Juta

- Program mudik dan balik gratis dimanfaatkan perantau seperti Dina untuk menghemat biaya perjalanan hingga Rp4 juta saat pulang-pergi antara Tangerang Selatan dan Semarang.
- Banyak perantau, termasuk Nani Rusmalani dan Susanto, merasa terbantu secara ekonomi berkat layanan gratis ini yang disediakan pemerintah melalui moda bus dan kereta api.
- Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melepas 360 peserta arus balik dari Stasiun Tawang serta berpesan agar para perantau tetap bekerja keras, menaati hukum, dan menjaga nilai-nilai rukun.
Semarang, IDN Times - Layanan mudik dan balik gratis dimanfaatkan para perantau agar dapat memangkas biaya pulang kampung ke Semarang.
Bahkan, ada yang benar-benar memanfaatkan layanan tersebut dengan maksimal. Salah satu perantau yang rutin memanfaatkan layanan mudik dan balik gratis ialah Pradina.
Siang itu, Dina ditemani suaminya tampak membawa kopernya melewati kerumunan penumpang yang lain.
Ia berjalan kaki dari selasar sampai ke peron Stasiun Tawang Semarang agar bisa naik ke dalam gerbong secepat mungkin.
Bagi Dina, dengan memakai layanan mudik gratis dan balik gratis adalah kesempatannya untuk menikmati fasilitas dari pemerintah.
Dina mengaku saat mudik dari Tangerang Selatan (Tangsel) ke Semarang pas Lebaran kemarin, dirinya ikut mudik gratis naik bus. Lalu pas hari ini akan balik lagi ke tanah perantauan, ia juga memilih ikut program balik gratis naik KA Tawang Jaya Premium.
"Tahun ini mudik ke Semarang naik bus. Pulangnya naik kereta," akunya, Jumat (27/3/2026).
Table of Content
Dina tahun ini ikut mudik dan balik gratis

Ikut layanan gratis yang disediakan pemerintah juga jadi caranya buat menghemat biaya perjalanan. Saat ikut mudik gratis kemarin, ia ngirit ongkos Rp2 juta. Lalu saat ikut balik gratis ia juga ngirit ongkos Rp2 juta.
"Kami bisa irit biaya Rp2 juta. Kalau PP bisa hemat Rp4 juta," kata Dina yang kemarin mudik ke rumahnya, Kelurahan Sampangan Semarang ini.
Layanan balik gratis bantu ekonomi keluarga

Nani Rusmalani, perantau asal Demak bersama suaminya, Zainal Mubarok juga ikut layanan balik gratis naik kereta api.
“Baru pertama kali ikut balik gratis kereta ini. Kemarin mudik pulang naik bus. Pengalamannya seru,” ujarnya.
“Biasanya mudik umum, habisnya sampai sejuta. Ikut mudik gratis ini alhamdulillah dari ongkos ekonomi lebih membantu,” sambungnya.
Susanto, perantau asal Pati bilang bahwa program balik gratis membantu pengeluaran keluarganya. Tahun ini ia mudik bersama istri dan dua anaknya. “Ini menghemat banget, membantu kami," paparnya.
Susanto sudah merantau di Bekasi sejak 2002. Ia beberapa kali ikut mudik gratis, namun selalu menggunakan bus. Adapun perjalanan arus balik dengan kereta api jadi pengalaman barunya.
“Senang, soalnya bisa ngajak anak-anak yang belum pernah naik kereta merasakan pengalamannya. Biasanya kan cuma naik commuter line,” katanya.
Ahmad Luthfi titip pesan buat perantau asal Jateng jangan langgar hukum

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berkata jumlah perantau yang ikut layanan balik gratis memakai kereta api dari Stasiun Tawang, Semarang sebanyak 360 orang.
Ia mengatakan, arus balik tahun ini difasilitasi melalui moda kereta api dan bus. Khusus pada hari ini, pemberangkatan dilakukan dari Stasiun Tawang.
“Hari ini kita pemberangkatan arus balik. Jadi arus balik kita gunakan kereta api,” ujarnya.
Ia menjelaskan, arus balik gratis dengan kereta api ini merupakan bagian dari skema pelayanan Pemprov Jateng bersama sejumlah pemerintah kabupaten, Bank Jateng, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Mereka yang sudah mudik di Jawa Tengah, sudah belanja di kampungnya masing-masing, dia pulang itu uangnya sudah tipis. Sehingga dengan adanya balik gratis ini, mereka sangat senang sekali,” kata Luthfi.
Luthfi juga menitipkan pesan kepada warga Jawa Tengah yang kembali bekerja di perantauan agar tetap menjaga semangat, bekerja keras, dan menaati hukum. Menurutnya, keluarga di kampung halaman menaruh harapan besar kepada mereka.
“Saya juga berpesan kepada masyarakat yang kerja di perantauan, kerja yang keras, kerja yang rajin, kemudian tidak melanggar hukum. Ingat di kampung masih menunggu keluarga kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, karakter masyarakat Jawa Tengah yang guyub, rukun, rajin bekerja, dan menjunjung toleransi harus terus dijaga sebagai modal sosial saat kembali ke perantauan.


















