Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jelang Ramadan, Tukang Jahit di Banyumas Kebanjiran Order

idntimes.com
Hendi, penjahit di daerah Bantreran, Wangon, Banyumas mengaku telah kebanjiran order jahitan sehingga kini membatasi hanya jahitan ringan seperti permak dan obras, Rabu (11/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Intinya sih...
  • Order meningkat, jam kerja dibatasiMeski pesanan meningkat, Hendi tak lagi bisa bekerja penuh seperti dulu. Kondisi kesehatan membuatnya membatasi waktu menjahit hanya dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
  • Dirintis sejak kecil, ditempa PandemiUsaha jahit yang kini ditekuninya di Banyumas baru dibuka sejak 2021. Sebelumnya, Handy merantau dan bekerja sebagai penjahit di Jakarta.
  • Menjahit, ibadah jangan sampai berkurangMenjelang Ramadan, banyak pelanggan datang dengan permintaan mendesak. Namun Hendi mengaku lebih selektif menerima pesanan, terutama jahitan yang tergolong berat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Menjelang Ramadan dan Lebaran 2026, berkah mulai dirasakan para pelaku usaha kecil, termasuk tukang jahit rumahan. Order seragam keluarga hingga permak pakaian membludak. Namun di tengah lonjakan permintaan, tidak semua penjahit memilih mengambil sebanyak-banyaknya pekerjaan.

Hendi (45), penjahit rumahan di kawasan Banteran, Wangon, Banyumas, mengaku mulai kebanjiran pesanan sejak memasuki bulan Sya’ban. Mayoritas pelanggan datang untuk menjahit seragam keluarga Lebaran hingga permak pakaian lama agar kembali pas dipakai saat hari raya.

“Alhamdulillah, sekarang banyak seragam keluarga buat Lebaran dan pesta. Yang paling sering itu permak, ada yang dibesarkan, dikecilkan, atau potong model,"ujarnya saat ditemui di tempat kerjanya.

1. Order meningkat, jam kerja dibatasi

idntimes.com
Karena faktor kesehatan, Hendi kini membatasi pengerjaan order menjahit layaknya jam kerja mulai pukul 8:00-16:00 WIB, Rabu (11/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Meski pesanan meningkat, Hendi tak lagi bisa bekerja penuh seperti dulu. Kondisi kesehatan membuatnya membatasi waktu menjahit hanya dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Ia sudah tidak lagi menerima jahitan malam hari.

"Sekarang jahitnya dari jam delapan pagi sampai jam empat sore saja. Malam sudah nggak bisa,"katanya.

Dalam sehari, jika fokus pada jahitan baru seperti kemeja, ia mampu menyelesaikan satu hingga dua potong pakaian. Untuk tarif, Hendi mematok harga mulai Rp50 ribu hingga Rp90 ribu per potong, tergantung model dan kualitas bahan.

Pendapatan yang dibawa pulang pun tidak menentu. Rata rata, ia mengantongi sekitar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per hari, tergantung jumlah dan jenis order yang dikerjakan.

2. Dirintis sejak kecil, ditempa Pandemi

idntimes.com
Jahitan ringan Hendi yang sedang dikerjakan, dan keahlian Hendi menjahit otodidak, Rabu (11/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Usaha jahit yang kini ditekuninya di Banyumas baru dibuka sejak 2021. Sebelumnya, Handy merantau dan bekerja sebagai penjahit di Jakarta. Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang membuatnya pulang kampung dan membuka usaha sendiri.

“Pandemi sangat berpengaruh. Akhirnya pulang dan buka di sini,” ujarnya.

Namun keterampilan menjahit bukan hal baru baginya. Ia belajar secara otodidak sejak duduk di bangku sekolah dasar pada era 1990-an. Terinspirasi dari keluarga dan tukang jahit di sekitarnya, Handy kecil kerap berlatih menggunakan mesin jahit di rumah.

“Aslinya saya dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Dari kecil sudah belajar sendiri,” katanya.

Kini, dari usaha jahit itulah ia menghidupi keluarga dan membesarkan tiga anak. Dua anaknya sudah bekerja di Jakarta, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar.

3. Menjahit, ibadah jangan sampai berkurang

idntimes.com
Soal order menjahit, jika kebutuhannya mendesak dan sulit mendapatkan penjahit lain, Rabu (11/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Menjelang Ramadan, banyak pelanggan datang dengan permintaan mendesak. Namun Hendi mengaku lebih selektif menerima pesanan, terutama jahitan yang tergolong berat.

"Kalau bulan puasa itu bukan untuk mengejar duit. tetap kerja, tapi ibadah jangan sampai berkurang,"tegasnya.

Ia tetap berusaha membantu pelanggan, terutama jika kebutuhannya mendesak dan sulit mendapatkan penjahit lain. Namun jika merasa tidak sanggup, ia tak ragu menolak secara baik baik.

Baginya, Ramadan adalah momentum menjaga keseimbangan antara mencari nafkah dan memperbanyak ibadah. Lonjakan order menjelang Lebaran memang membawa rezeki tambahan, tetapi bukan satu satunya tujuan.

Di tengah gempuran industri fesyen instan dan pakaian siap pakai, keberadaan penjahit rumahan seperti Handy tetap menjadi pilihan banyak keluarga. Selain bisa menyesuaikan ukuran dan model, hubungan yang terjalin pun terasa lebih personal.

'Alhamdulillah, pelanggan di sini baik baik, sudah seperti keluarga. Ada juga yang dari Jeruklegi, Cilacap, Purwokerto, sampai Jatilawang,'katanya.

Ramadan belum tiba, tetapi mesin jahit di sudut rumah Hendi sudah berdengung lebih lama dari biasanya. Di balik setiap helai kain yang dijahit, ada cerita tentang ketekunan, kesehatan yang dijaga, dan pilihan untuk tetap menempatkan ibadah di atas segalanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Bank Indonesia: Kegiatan Dunia Usaha Diprediksi Meningkat di Awal 2026

11 Feb 2026, 17:08 WIBNews