Ketua Umum DPP HIMPERRA, Ari Tri Priyono. (IDN Times/Dhana Kencana)
Berdasarkan data BP Tapera, target penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) hingga akhir 2026 mencapai 350.000 unit dengan kebutuhan dana Rp37,1 triliun. Pada awal 2026 (per 26 Februari), realisasi KPR subsidi nasional baru mencapai 19.741 unit.
Adapun, Jawa Tengah masuk lima besar nasional dengan 1.633 unit (8,27 persen), di mana HIMPERRA menyumbang 2.711 unit secara nasional. Kementerian PKP juga menargetkan akad massal 62.000 unit rumah subsidi di Jawa Tengah pada Juli 2026 mendatang.
Sayangnya, pencapaian agresif itu terhambat pada tahap verifikasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Sebenarnya setiap pengembang, setiap perumahan itu yang mau beli banyak. Tapi banyak yang kena merah SLIK OJK-nya. Teman-teman yang pinjam paylater, pinjam lupa bayar, telat sehari, dua hari tidak apa-apa, telat sebulan itu skornya tinggal jadi dua," tegas Ketua Umum DPP HIMPERRA, Ari Tri Priyono.
Akibat jerat tunggakan pinjaman daring (pinjol) berskala kecil itu, sekitar 30 persen pengajuan konsumen MBR tertolak. HIMPERRA mengusulkan perpanjangan tenor cicilan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bisa mencapai 30 tahun agar daya beli MBR kembali pulih.
"Agar cicilan bulanan makin ringan, serta mendorong wacana program KPR menengah bagi kalangan milenial," imbuh Ari.