Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Koyo di Sekujur Tubuh, Saksi Dedikasi Terakhir Bripka Septian Tugas Pengamanan Mudik

Koyo di Sekujur Tubuh, Saksi Dedikasi Terakhir Bripka Septian Tugas Pengamanan Mudik
Suasana pemakaman Bripka Septian Eko Nugroho, anggota Polres Pekalongan saat bertugas di Alun-Alun Kajen, Minggu (22/3) malam. (dok Polres Pekalongan)
Intinya Sih
  • Bripka Septian Eko Nugroho, anggota Polres Pekalongan, gugur saat bertugas dalam Operasi Ketupat Candi 2026 di Alun-Alun Kajen akibat dugaan serangan jantung mendadak.
  • Saat jenazah dimandikan, ditemukan banyak koyo di tubuhnya yang menunjukkan ia tetap bertugas meski mengalami kelelahan ekstrem selama pengamanan arus balik.
  • Jenazah telah dimakamkan di Surakarta, sementara pihak kepolisian menyampaikan duka cita dan menilai dedikasinya sebagai teladan bagi seluruh anggota dalam melayani masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di balik seragam gagah kepolisian yang menjaga kelancaran arus balik 2026, tersimpan cerita pilu tentang pengorbanan fisik yang luar biasa. Gugurnya Bripka Septian Eko Nugroho, anggota Polres Pekalongan saat bertugas dalam Operasi Ketupat Candi (OKC) 2026 di Alun-Alun Kajen, Minggu (22/3/2026) malam, menyisakan fakta menyentuh yang belum banyak terungkap ke publik.

Saat jenazah almarhum hendak dimandikan, petugas dan keluarga menemukan banyak tempelan koyo yang memenuhi sekujur tubuhnya. Temuan ini menjadi bukti bisu bahwa personel Sub Satgas Pengaturan Lalu Lintas ini tetap memaksakan diri bertugas meski fisiknya telah mencapai titik nadir kelelahan.

Peristiwa tragis ini bermula sekitar pukul 22.50 WIB. Setelah berjibaku dengan padatnya arus lalu lintas, Bripka Septian sempat menepi sejenak di sebuah angkringan untuk beristirahat. Namun, tak berselang lama, ia tiba-tiba tak sadarkan diri.

Rekan sejawat langsung melarikan almarhum ke RSUD Kajen. Meski tim medis telah berupaya maksimal melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) selama 30 menit dan memberikan empat ampul epinefrin, nyawa sang bhayangkara tidak tertolong. Bripka Septian dinyatakan meninggal dunia pada pukul 23.55 WIB akibat dugaan serangan jantung mendadak.

Padahal, berdasarkan data pemeriksaan kesehatan berkala Polri, kondisi Bripka Septian tercatat dalam batas normal. Hal ini memicu spekulasi bahwa faktor kelelahan ekstrem (fatigue) akibat durasi pengamanan Operasi Ketupat Candi (OKC) yang panjang menjadi pemicu utama gangguan irama jantung yang fatal.

"Temuan medis menunjukkan adanya henti napas dan nadi yang tidak merespons tindakan resusitasi. Ini adalah kehilangan besar bagi kami," ujar perwakilan medis di IGD RSUD Kajen.

Jenazah almarhum telah dilepas dari rumah duka di Pekalongan untuk diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Surakarta. Fenomena "tubuh penuh koyo" ini kini menjadi pengingat bagi otoritas terkait dan masyarakat akan tingginya risiko nyawa yang dihadapi aparat di lapangan.

Bripka Septian tidak hanya meninggalkan tugas yang tuntas, tapi juga pesan tentang batas fisik manusia di tengah tuntutan pelayanan publik yang tanpa jeda.

Kasatgas Humas OKC 2026 Polda Jateng Kombes Pol. Artanto menyampaikan rasa duka cita atas kejadian tersebut.
"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas gugurnya almarhum dalam pelaksanaan tugas, dedikasi almarhum menjadi teladan bagi seluruh anggota, dalam memberikan yang terbaik untuk masyarakat"

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More