Mengenal 4 Tokoh Spiritual Penting di Balik Tradisi Saparan Jawa Tengah

- Tradisi Saparan di Jawa Tengah menjadi ruang syukur, permohonan keselamatan, dan silaturahmi, sekaligus merawat jejak syiar Islam yang berpadu dengan kearifan lokal.
- Ki Ageng Gribig di Klaten dikaitkan dengan Ya Qowiyyu, termasuk pembagian puluhan ton apem setiap pertengahan Sapar di kompleks makamnya.
- Saparan Pantaran, Sadranan Temanggung, dan Saparan Balak mengenang peran Ki Ageng Pantaran, Kyai Ageng Makukuhan, serta Ki Ageng Balak melalui doa, sedekah, dan ritual warga.
Klaten, IDN Times — Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa selalu disambut meriah di berbagai pelosok Jawa Tengah. Melalui tradisi Saparan, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas nikmat Tuhan, memohon keselamatan, serta mempererat tali silaturahmi warga lewat ritual sedekah bumi, kirab budaya, hingga pembagian kue apem.
Namun, di balik riuhnya perayaan ritual budaya ini, terdapat jejak tokoh-tokoh spiritual dan ulama besar masa lalu. Beliau-beliau inilah yang mewariskan ajaran kebaikan, metode syiar Islam berbalut kearifan lokal, serta nilai sosial yang terus dirawat oleh masyarakat hingga hari ini.
Berikut 4 tokoh spiritual penting di balik tradisi Saparan di berbagai daerah Jawa Tengah ala IDN Times, yuk simak agar kita makin memahami akar sejarah dan budayanya, Lur!
1. Ki Ageng Gribig Klaten: Pencetus Tradisi Ya Qowiyyu

Nama Ki Ageng Gribig sangat lekat dengan tradisi Saparan paling megah di Kabupaten Klaten, yaitu Ya Qowiyyu di Kecamatan Jatinom.
Jejak Sejarah: Ki Ageng Gribig adalah ulama besar keturunan Raja Brawijaya V yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom pada abad ke-17.
Asal-usul Tradisi: Sekembalinya dari menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau membawa oleh-oleh berupa kue apem. Karena jumlahnya terbatas, beliau meminta istrinya membuat apem tambahan untuk dibagikan kepada murid-muridnya sambil melantunkan doa "Yaa qoyyu qowwinaa wal muslimiin..." (Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada kami dan kaum muslimin).
Warisan Saparan: Hingga kini, setiap pertengahan bulan Sapar, tradisi penyebaran puluhan ton kue apem dari atas menara Kompleks Makam Ki Ageng Gribig terus dilestarikan dan dihadiri puluhan ribu peziarah.
2. Ki Ageng Pantaran Boyolali: Tokoh Syiar Islam di Lereng Merbabu

Di kawasan lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Boyolali, terdapat tradisi Saparan Pantaran yang rutin digelar setiap tahun.
Jejak Sejarah: Ki Ageng Pantaran (yang juga dihubungkan dengan Syekh Maulana Ibrahim Maghribi atau murid Sunan Kalijaga) merupakan tokoh ulama pembuka lahan (babat alas) sekaligus penyebar syiar Islam di wilayah pegunungan Boyolali.
Warisan Saparan: Tradisi Saparan Pantaran diisi dengan prosesi pengambilan air suci dari Sendang Pantaran, jamasan benda pusaka, serta pembacaan doa bersama di makam Ki Ageng Pantaran. Tradisi ini menjadi simbol penyucian diri dan ungkapan syukur warga atas limpahan air bersih serta kesuburan tanah.
3. Kyai Ageng Makukuhan Temanggung: Tokoh Pertanian dan Sadranan Sapar
Bagi masyarakat Kabupaten Temanggung dan sekitarnya, Kyai Ageng Makukuhan adalah sosok wali penyebar Islam sekaligus guru besar di bidang pertanian.
Jejak Sejarah: Menurut legenda lokal, Kyai Ageng Makukuhan (Sunan Kedu) adalah murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga yang mengajarkan tata cara bercocok tanam, khususnya budidaya tembakau dan padi di kawasan lereng Gunung Sumbing serta Sindoro.
Warisan Saparan: Tradisi Saparan atau Sadranan di berbagai desa di Temanggung kerap dipusatkan di makam atau petilasan Kyai Ageng Makukuhan. Warga membawa tumpeng dan ingkung ayam untuk dimakan bersama sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
4. Ki Ageng Balak Sukoharjo: Tokoh Pengayom di Tradisi Saparan Balak
Di Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, masyarakat rutin menggelar ritual tradisi Saparan Balak.
Jejak Sejarah: Ki Ageng Balak memiliki nama asli Raden Jaka Suwarna, seorang putra bangsawan dari Kerajaan Majapahit yang memilih mengasingkan diri dan menjadi sosok pengayom masyarakat di wilayah Sukoharjo.
Warisan Saparan: Beliau dikenal sangat dermawan dan bijaksana semasa hidupnya. Tradisi Saparan Balak diselenggarakan setiap bulan Sapar sebagai bentuk penghormatan (nguri-uri) atas jasa-jasa beliau, diisi dengan pencucian kelambu makam (muka kelambu) serta pembagian gunungan hasil bumi kepada warga.



















![[OPINI] Fenomena Kurasu: Antara Ruang Publik yang Hilang dan Tata Ruang Jakarta](https://image.idntimes.com/post/20260729/upload_fdee85d15f1e597ad87ddd4ce32f9ebb_1cecb93c-8e82-4bcb-81f2-4492a84da59d.jpeg)