Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal 4 Tokoh Spiritual Penting di Balik Tradisi Saparan Jawa Tengah
Perayaan Tradisi sebar apem Yaqowiyu di Jatinom, Kabupaten Klaten. (Dok Humas Kabupaten Klaten)
  • Tradisi Saparan di Jawa Tengah menjadi ruang syukur, permohonan keselamatan, dan silaturahmi, sekaligus merawat jejak syiar Islam yang berpadu dengan kearifan lokal.
  • Ki Ageng Gribig di Klaten dikaitkan dengan Ya Qowiyyu, termasuk pembagian puluhan ton apem setiap pertengahan Sapar di kompleks makamnya.
  • Saparan Pantaran, Sadranan Temanggung, dan Saparan Balak mengenang peran Ki Ageng Pantaran, Kyai Ageng Makukuhan, serta Ki Ageng Balak melalui doa, sedekah, dan ritual warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
abad ke-17

Ki Ageng Gribig menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom.

setiap tahun

Tradisi Saparan Pantaran di Desa Candisari, Boyolali, rutin digelar dengan pengambilan air suci, jamasan pusaka, dan doa di makam Ki Ageng Pantaran.

setiap bulan Sapar

Masyarakat Desa Mertan, Sukoharjo, menggelar Saparan Balak untuk menghormati Ki Ageng Balak, termasuk pencucian kelambu makam dan pembagian gunungan hasil bumi.

kini

Tradisi Ya Qowiyyu tetap dilestarikan setiap pertengahan bulan Sapar melalui penyebaran kue apem di Kompleks Makam Ki Ageng Gribig.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tradisi Saparan di Jawa Tengah dilestarikan melalui ritual sedekah bumi, kirab budaya, doa, ziarah makam, pembagian apem, dan hasil bumi yang dikaitkan dengan empat tokoh spiritual.
  • Who?
    Ki Ageng Gribig di Klaten, Ki Ageng Pantaran di Boyolali, Kyai Ageng Makukuhan di Temanggung, serta Ki Ageng Balak atau Raden Jaka Suwarna di Sukoharjo.
  • Where?
    Pelaksanaan berlangsung di Jatinom, Klaten; Candisari, Ampel, Boyolali; sejumlah desa di Temanggung; serta Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo.
  • When?
    Ritual digelar pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Tradisi Ya Qowiyyu di Jatinom berlangsung setiap pertengahan bulan Sapar, sementara sejumlah tradisi lain diselenggarakan setiap tahun.
  • Why?
    Warga menjalankan Saparan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, permohonan keselamatan, penghormatan atas jasa tokoh terdahulu, serta upaya merawat silaturahmi dan nilai budaya lokal.
  • How?
    Pelaksanaan dilakukan melalui penyebaran apem, pengambilan air Sendang Pantaran, jamasan pusaka, doa di makam, makan tumpeng dan ingkung bersama, pencucian kelambu makam, serta pembagian gunungan hasil bumi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Tengah, orang-orang merayakan Saparan untuk bersyukur dan berdoa. Ada Ki Ageng Gribig di Klaten yang membagi kue apem. Ada Ki Ageng Pantaran di Boyolali, Kyai Ageng Makukuhan di Temanggung, dan Ki Ageng Balak di Sukoharjo. Sampai sekarang, warga masih menjaga tradisi mereka bersama-sama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tradisi Saparan memperlihatkan bagaimana warisan spiritual, syiar Islam, dan kearifan lokal tetap hidup dalam kebersamaan warga Jawa Tengah. Dari pembagian apem, doa bersama, hingga gunungan hasil bumi, tiap perayaan menjadi ruang untuk mensyukuri nikmat, menghormati tokoh terdahulu, serta merawat hubungan sosial dan budaya antargenerasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Klaten, IDN Times — Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa selalu disambut meriah di berbagai pelosok Jawa Tengah. Melalui tradisi Saparan, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas nikmat Tuhan, memohon keselamatan, serta mempererat tali silaturahmi warga lewat ritual sedekah bumi, kirab budaya, hingga pembagian kue apem.

Namun, di balik riuhnya perayaan ritual budaya ini, terdapat jejak tokoh-tokoh spiritual dan ulama besar masa lalu. Beliau-beliau inilah yang mewariskan ajaran kebaikan, metode syiar Islam berbalut kearifan lokal, serta nilai sosial yang terus dirawat oleh masyarakat hingga hari ini.

Berikut 4 tokoh spiritual penting di balik tradisi Saparan di berbagai daerah Jawa Tengah ala IDN Times, yuk simak agar kita makin memahami akar sejarah dan budayanya, Lur!

1. Ki Ageng Gribig Klaten: Pencetus Tradisi Ya Qowiyyu

Perayaan Tradisi sebar apem Yaqowiyu di Jatinom, Kabupaten Klaten. (Dok Humas Kabupaten Klaten)

Nama Ki Ageng Gribig sangat lekat dengan tradisi Saparan paling megah di Kabupaten Klaten, yaitu Ya Qowiyyu di Kecamatan Jatinom.

Jejak Sejarah: Ki Ageng Gribig adalah ulama besar keturunan Raja Brawijaya V yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom pada abad ke-17.

Asal-usul Tradisi: Sekembalinya dari menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau membawa oleh-oleh berupa kue apem. Karena jumlahnya terbatas, beliau meminta istrinya membuat apem tambahan untuk dibagikan kepada murid-muridnya sambil melantunkan doa "Yaa qoyyu qowwinaa wal muslimiin..." (Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada kami dan kaum muslimin).

Warisan Saparan: Hingga kini, setiap pertengahan bulan Sapar, tradisi penyebaran puluhan ton kue apem dari atas menara Kompleks Makam Ki Ageng Gribig terus dilestarikan dan dihadiri puluhan ribu peziarah.

2. Ki Ageng Pantaran Boyolali: Tokoh Syiar Islam di Lereng Merbabu

Makam Ki Ageng Pantaran atau Syech Maulana Ibrahim Maghribi (google.com/maps/Tri Yogo)

Di kawasan lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Boyolali, terdapat tradisi Saparan Pantaran yang rutin digelar setiap tahun.

Jejak Sejarah: Ki Ageng Pantaran (yang juga dihubungkan dengan Syekh Maulana Ibrahim Maghribi atau murid Sunan Kalijaga) merupakan tokoh ulama pembuka lahan (babat alas) sekaligus penyebar syiar Islam di wilayah pegunungan Boyolali.

Warisan Saparan: Tradisi Saparan Pantaran diisi dengan prosesi pengambilan air suci dari Sendang Pantaran, jamasan benda pusaka, serta pembacaan doa bersama di makam Ki Ageng Pantaran. Tradisi ini menjadi simbol penyucian diri dan ungkapan syukur warga atas limpahan air bersih serta kesuburan tanah.

3. Kyai Ageng Makukuhan Temanggung: Tokoh Pertanian dan Sadranan Sapar

Bagi masyarakat Kabupaten Temanggung dan sekitarnya, Kyai Ageng Makukuhan adalah sosok wali penyebar Islam sekaligus guru besar di bidang pertanian.

Jejak Sejarah: Menurut legenda lokal, Kyai Ageng Makukuhan (Sunan Kedu) adalah murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga yang mengajarkan tata cara bercocok tanam, khususnya budidaya tembakau dan padi di kawasan lereng Gunung Sumbing serta Sindoro.

Warisan Saparan: Tradisi Saparan atau Sadranan di berbagai desa di Temanggung kerap dipusatkan di makam atau petilasan Kyai Ageng Makukuhan. Warga membawa tumpeng dan ingkung ayam untuk dimakan bersama sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

4. Ki Ageng Balak Sukoharjo: Tokoh Pengayom di Tradisi Saparan Balak

Di Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, masyarakat rutin menggelar ritual tradisi Saparan Balak.

Jejak Sejarah: Ki Ageng Balak memiliki nama asli Raden Jaka Suwarna, seorang putra bangsawan dari Kerajaan Majapahit yang memilih mengasingkan diri dan menjadi sosok pengayom masyarakat di wilayah Sukoharjo.

Warisan Saparan: Beliau dikenal sangat dermawan dan bijaksana semasa hidupnya. Tradisi Saparan Balak diselenggarakan setiap bulan Sapar sebagai bentuk penghormatan (nguri-uri) atas jasa-jasa beliau, diisi dengan pencucian kelambu makam (muka kelambu) serta pembagian gunungan hasil bumi kepada warga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article