Semarang, IDN Times – Nama Kiai Jungke mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh penyebar Islam lainnya di Jawa. Namun, ulama yang juga dikenal sebagai Kiai Nayawangsa atau Sayyid Husain ini memiliki jejak penting dalam sejarah perkembangan Islam di Kota Semarang pada abad ke-17.
Makam Kiai Jungke Jadi Magnet Baru Wisata Religi di Semarang, Kamu Tahu Siapa Dia?

Makam Kiai Jungke di Pandansari, Semarang Tengah, diresmikan sebagai destinasi wisata religi yang menghidupkan sejarah dakwah abad ke-17 dan membuka peluang ekonomi warga sekitar.
Pemerintah Kota Semarang menilai pelestarian makam ulama seperti Kiai Jungke penting untuk menjaga warisan sejarah lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kunjungan peziarah.
Kawasan makam Kiai Jungke akan dikembangkan menjadi bagian jalur wisata sejarah dan religi Semarang, dengan kegiatan keagamaan rutin agar kawasan Pandansari semakin hidup dan dikenal luas.
1. Makam Kiai Jungke berada di Jalan Gendingan

Kini, makamnya di Jalan Gendingan, Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, mulai diproyeksikan menjadi destinasi wisata religi yang tidak hanya menghidupkan kembali sejarah kota, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengatakan, keberadaan makam tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan Kota Semarang tidak hanya dibangun oleh aktivitas perdagangan, tetapi juga melalui dakwah para ulama yang membentuk kehidupan sosial masyarakat sejak ratusan tahun lalu.
“Kita bisa berdiri di tengah kota dengan masyarakat yang semakin baik hari ini, itu semua tidak lepas dari perjuangan dakwah yang beliau lakukan pada masa lampau. Warga Pandansari harus bangga karena di wilayah ini dimakamkan seorang tokoh besar,” ungkapnya saat menghadiri Pengajian Akbar Haul sekaligus peresmian Makam Kiai Jungke, Sabtu (27/6/2026) malam.
Menurutnya, Kiai Jungke merupakan salah satu ulama yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam ketika Semarang mulai berkembang sebagai kawasan permukiman dan pelabuhan pada abad ke-17. Meski namanya belum banyak dikenal masyarakat luas, jejak perjuangannya menjadi bagian dari sejarah awal pertumbuhan Kota Semarang.
Iswar menilai pelestarian makam tokoh-tokoh agama seperti Kiai Jungke menjadi langkah penting agar sejarah lokal tidak hilang di tengah pesatnya pembangunan kota. Ia mengapresiasi warga yang selama bertahun-tahun secara swadaya merawat kawasan makam hingga akhirnya selesai direnovasi dan diresmikan.
2. Komitmen jaga aset sejarah
“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh panitia dan masyarakat yang terus menguri-uri makam beliau. Komitmen menjaga aset sejarah seperti ini patut kita dukung bersama,” ujarnya.
Selain memiliki nilai sejarah dan spiritual, Pemerintah Kota Semarang melihat Makam Kiai Jungke berpotensi berkembang sebagai pusat wisata religi baru.
Menurut Iswar, meningkatnya kunjungan peziarah dapat mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat melalui usaha kuliner, perdagangan, jasa parkir, hingga penjualan cenderamata khas kampung.
“Semakin banyak peziarah yang datang, semakin besar pula peluang ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat sekitar,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan Semarang Tengah masih menyimpan banyak makam ulama dan tokoh sejarah yang belum dikenal publik maupun belum terawat secara optimal.
3. Bagian dari jalur wisata sejarah dan religi
Padahal, apabila dikelola secara terpadu, situs-situs tersebut dapat menjadi bagian dari jalur wisata sejarah dan religi Kota Semarang yang selama ini lebih dikenal melalui kawasan Kota Lama.
“Saya mendengar masih ada makam-makam tua yang kondisinya belum terawat dengan baik. Mari kita jaga bersama agar warisan sejarah Kota Semarang tetap lestari dan dapat dikenalkan kepada generasi mendatang,” tegasnya.
Iswar berharap peringatan haul Kiai Jungke tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi kegiatan keagamaan yang rutin sehingga kawasan Pandansari semakin hidup.
Menurutnya, aktivitas seperti pengajian, selawat, hingga majelis taklim dapat memperkuat hubungan antarwarga sekaligus menarik lebih banyak peziarah.
Dengan semakin dikenalnya sosok Kiai Jungke sebagai ulama penyebar Islam di Semarang, makamnya diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengenang sejarah dakwah, tetapi juga menjadi simpul baru wisata religi yang mampu menghidupkan ekonomi kampung di jantung Kota Semarang.

















