Menu MBG Ramadan di Sukoharjo Berlabel Harga,Transparansi Jadi Sorotan

- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukoharjo kini mencantumkan harga pada flyer menu untuk meningkatkan transparansi dan menghindari kesalahpahaman masyarakat selama pelaksanaan di bulan Ramadan.
- Distribusi menu MBG disesuaikan dengan kondisi kegiatan belajar tiap sekolah, menyediakan pilihan menu kering atau basah tergantung jadwal serta kebutuhan acara seperti buka puasa bersama.
- Kandungan gizi diawasi tim ahli di setiap SPPG, dengan usulan tambahan susu agar asupan gizi lebih optimal bagi siswa dan balita penerima manfaat program tersebut.
Sukoharjo, IDN Times - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah SPPG PCM Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah menjadi perhatian publik, terutama soal transparansi harga dan kandungan gizi selama Ramadan.
Ketua SPPG PCM Baki, Sugino, menegaskan pihaknya kini mulai mencantumkan harga dalam flyer menu untuk menghindari kesalahpahaman di masyarakat.
1. Transparansi Harga Dicantumkan di Flyer Menu.

Sugino mengatakan, langkah mencantumkan harga dilakukan setelah pihaknya mengikuti arahan dalam pertemuan daring bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) terkait.
“Per hari kemarin kita melalui zoom bersama wakabadan untuk menghindari kecurigaan atau memastikan harga yang diberikan per SPPG itu sesuai. Biar anak-anak bisa memantau harganya seperti apa. Mulai kemarin kita mencantumkan harga,” ujar Sugino saat dihubungi IDN Times, Rabu (25/6/2026).
Ia menjelaskan, terdapat pembatasan harga dalam program MBG. Untuk porsi kecil dibanderol Rp8 ribu, sedangkan porsi besar Rp10 ribu. Kebijakan ini disesuaikan dengan standar kecukupan gizi masing-masing jenjang pendidikan.
Di SPPG PCM Baki sendiri, distribusi MBG sebanyak 2.825 porsi yang mencakup 26 sekolah serta enam B2 atau posyandu yang menyasar balita dan ibu hamil.
2. Menu Kering dan Basah Disesuaikan Kondisi Sekolah.

Selama Ramadan, pola distribusi menu turut menyesuaikan kondisi kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Sugino menyebut tidak semua sekolah menggelar kegiatan setiap hari seperti pondok pesantren.
“Kalau di bulan Ramadan dari pihak sekolah bisa menggunakan menu basah ketika mau mengadakan buka bersama. Tapi sekolah biasa tidak semua setiap hari, kecuali pondok. Jadi kita menyesuaikan kondisi di lapangan,” jelasnya.
Untuk sekolah dengan jam masuk pagi dan langsung pulang, menu kering dinilai lebih memungkinkan untuk dikonsumsi. Sementara jika sekolah mengadakan buka puasa bersama, pihak SPPG menyediakan menu basah.
Distribusi juga ditentukan berdasarkan jadwal KBM masing-masing sekolah. Jika kegiatan belajar berlangsung setiap hari, maka pengiriman makanan juga dilakukan setiap hari.
3. Kandungan Gizi Diawasi Tim Ahli, Usulan Susu Jadi Sorotan.

Terkait kandungan gizi, Sugino memastikan setiap SPPG memiliki tim ahli gizi tersendiri. Standar kecukupan gizi pun dibedakan antara balita, siswa SD, hingga SMA.
“Di setiap SPPG ada tim gizi terkait kandungan dan kecukupan gizi untuk anak balita, SD, sampai SMA itu berbeda-beda. Ada tim ahli gizi tersendiri,” tegasnya.
Meski demikian, masukan datang dari pihak sekolah. Kepala RA Sabilul Falah, Dina Sriyani menyarankan agar susu tetap disertakan dalam menu Ramadan, terutama saat pembagian makanan kering.
“Terkait MBG Ramadan sebaiknya susu selalu disertakan karena menu kering, supaya angka kecukupan gizinya lebih maksimal,” katanya.
Kedati demikian terkait pencantuman harga menurutnya bisa dipahami masyarakat khususnya orang tua wali murid penerima manfaat MBG di sekolah.
“Di pencatuman harga disetiap menu, masyarakat bisa menilai apakah sesuai dengan anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk Program MBG setiap harinya,” ujarnya.
Pencantuman label harga dalam flyer menu serta transparansi kandungan gizi menjadi langkah yang kini disorot publik. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program MBG benar-benar memenuhi standar gizi anak sesuai jenjangnya.


















