Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Merasa Janggal, Keluarga Tak Terima Tawuran Jadi Alasan GRO Meninggal
Sejumlah rekan berdoa untuk siswa korban penembakan yang diduga oleh oknum polisi di Semarang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/11/2024). (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Semarang, IDN Times - Keluarga siswa SMK Negeri 4 Semarang berinisial GRO (17 tahun) masih tidak percaya bahwa remaja lelaki yang dikenal pendiam dan tidak neko-neko itu meninggal dunia tiba-tiba. Apalagi, GRO meninggal karena ditembak polisi Aipda RZ dan dituduh sebagai anggota gangster dan terlibat tawuran pada Minggu (24/11/2024) dini hari.

1. GRO tidak pernah pulang larut malam

Polda Jateng bongkar makam siswa SMK 4 Semarang yang ditembak Polisi. (IDN Times/Larasati Rey)

Hal itu disampaikan sejumlah kerabat yang ditemui IDN Times di rumah nenek GRO di RT 11 RW 09, Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jumat (29/11/2024). Siang itu para kerabat GRO tengah berkumpul mempersiapkan pengajian tujuh hari meninggalnya GRO.

Salah satu kerabat yang tidak mau disebut namanya itu mengaku, keluarga masih berkabung atas kepergian GRO yang secara mendadak.

“Sebab, Sabtu (23/11/2024) siang dia (GRO, red) izin untuk latihan pencak silat. Namun, hingga tengah malam kok tidak kunjung pulang. Padahal, anak ini tidak pernah pulang sampai larut malam,” ujarnya. 

Ya, kerabat GRO itu memang sangat mengenal sifat dan kebiasaan siswa kelas XI jurusan Teknik Mesin itu. Andainya, pun GRO tidak pulang pasti ia meminta izin kepada ayah atau neneknya. Itupun tidak pulang karena menginap di sekolah saat ada persiapan lomba paskibra, ekstrakurikuler yang diikuti GRO.

2. Keluarga tidak percaya GRO terlibat tawuran

Lokasi kejadian penembakan siswa SMK Negeri berinisial GRO oleh anggota polisi Polrestabes Semarang di Jalan Candi Penataran Raya, Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Selasa (26/11/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

“Anak ini baik, pendiam dan tidak neko-neko. Ia juga selalu patuh kepada orang tua. Dia selalu pulang tepat waktu dan tidak pernah kelayapan atau nongkrong. Makanya, kami kaget saat ada kabar GRO meninggal Minggu (24/11/2024) siang sekitar pukul 12.00 WIB,” tuturnya. 

Kabar itu bak petir di siang bolong bagi keluarga GRO. Pada siang itu ada anggota polisi dari Polrestabes Semarang menghubungi salah satu kerabat GRO dan menyampaikan kalau bungsu dari dua bersaudara itu meninggal dunia karena tawuran dan jenazahnya ada di RSUP Dr Kariadi Semarang. 

Lebih lanjut, pihak keluarga juga tahu kalau GRO tewas tertembak polisi yang katanya ingin melerai tawuran. Kemudian, Kapolrestabes Semarang juga mendatangi rumah nenek GRO pada malam hari dan menjelaskan kejadian yang menimpa anak piatu itu.

“Kami merasa janggal dengan penjelasan dari polisi. GRO dituduh sebagai anggota gangster, memiliki senjata tajam dan terlibat tawuran. Padahal, anak ini termasuk penakut dan kadang kalau pergi masih diantar ayahnya. Sehingga, tidak logis, ditambah banyak berita yang beredar masih simpang siur,” ujarnya.

3. Keluarga minta barang GRO dikembalikan

Tim Inafis Polrestabes Semarang melakukan prarekonstruksi di lokasi kejadian penembakan siswa SMK Negeri di Semarang oleh polisi, Selasa (26/11/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Maka itu, keluarga memutuskan melaporkan kasus GRO yang meninggal karena ditembak Aipda RZ ke Polda Jateng. Upaya ini untuk mencari kebenaran dan menuntut agar kasus tersebut ditangani secara terbuka.

“Selain itu, kami meminta polisi mengembalikan barang-barang milik GRO seperti sepeda motor matik Honda Vario warna hitam, tas dan handphone yang masih menjadi barang bukti,” kata kerabat GRO.

“Kami tidak tahu masalah yang terjadi sebenarnya. Namun, tolong jangan semua dibebankan pada GRO. Keluarga sudah sakit menerima kenyataan ini. Semoga kebenaran bisa terungkap,” tandasnya.

Kendati demikian, hingga saat ini keluarga belum memutuskan menunjuk pengacara untuk mengawal kasus GRO. Namun, mereka berharap kasus tersebut ditangani dengan seadil-adilnya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article