Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Muncul Rekomendasi Batas Nikotin Bikin Petani Tembakau Ketar-Ketir

Muncul Rekomendasi Batas Nikotin Bikin Petani Tembakau Ketar-Ketir
Proses Pemilahan Daun Tembakau Deli di Gudang Klambir Lima yang dikelola PTPN II pada 2015 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Intinya Sih
  • Petani tembakau di Temanggung dan DIY resah menghadapi rencana pembatasan kadar tar dan nikotin yang tengah disusun Kemenko PMK karena dianggap mengancam sumber penghidupan mereka.
  • Tembakau Temanggung dikenal memiliki kadar nikotin tinggi antara 3–8 persen, menjadi ciri khas bernilai ekonomi tinggi bagi industri rokok kretek lokal.
  • Asosiasi Petani Tembakau Indonesia menilai regulasi ini tidak melibatkan suara petani, padahal tembakau berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Semarang, IDN Times - Memasuki persiapan musim tanam tembakau yang diprediksi dimulai antara Maret hingga April, petani tembakau di Temanggung dan DIY was-was dan khawatir.

Hal ini tak terlepas dari kepungan dan dorongan regulasi pertembakauan yang berdampak langsung pada sumber penghidupan petani.

Salah satunya Rekomendasi Batas Maksimal Kadar Tar dan Nikotin yang saat ini tengah dirancang oleh Tim Penyusun Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KemenkoPMK).

Dorongan untuk menurunkan kadar tar dan nikotin tembakau sesuai standar WHO jelas berefek negatif pada komoditas perkebunan petani.

"Ini menyulitkan petani. Kami melawan. Dorongan regulasinya itu-itu saja dan ini bukan yang pertama, sudah pernah belasan tahun lalu,"ujar Siyamin, Ketua Dewan Perwakilan Cabang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPC APTI) Temanggung, dalam keterangan yang diterima IDN Times, Selasa (24/2/2026).

Padahal tembakau Temanggung terkenal memiliki kadar nikotin yang tergolong tinggi, umumnya berkisar antara 3 persen hingga 8 persen.

Karakteristik khas ini menjadikan tembakau Temanggung sangat aromatis dan bernilai tinggi sebagai bahan baku utama dalam industri rokok kretek, memberikan rasa dan aroma yang kuat.

"Pembatasan ini sangat merugikan petani. Itu kan karakteristik natural tanamannya," tambahnya.

Berkaca pada produktivitas tahun lalu, luas lahan tanaman tembakau yang ditanam para petani hingga akhir tanam tahun ini pada kisaran 13-14 ribu hektare.

"Tembakau Temanggung terutama varietas Kemloko dan Srintil adalah termasuk tembakau terbaik. Rancangan peraturan ini harus dilawan," tegas Siyamin.

Senada, Ketua DPD APTI DIY, khawatir aturan tersebut bakal membunuh keberlanjutan petani tembakau. Ia menilai, selama ini regulasi yang berkaitan dengan tembakau, tidak memberikan ruang bagi petani untuk berkomunikasi. Padahal pihaknya berkeinginan menyampaikan aspirasi dan didengar oleh regulator.

"Kami merasakan begitu kuat intervensi dari pihak luar tentang produk tembakau khususnya rokok kretek kita yang luar biasa. Harusnya pemerintah beserta para wakil rakyat turun ke lapangan, mendengarkan suara rakyat kecil terutama petani temabaku dan buruh linting. Kami bekerja, mengusahakan tembakau demi keluarga, untuk kehidupan sehari-hari," paparnya.

Tembakau sendiri merupakan salah satu komoditas penting di Yogyakarta, terutama jenis tembakau grompol yang telah dikembangkan untuk bahan baku cerutu. Data APTI, luas lahan tembakau di Bantul, mengalami peningkatan dari 40 hektar pada 2022 menjadi 60 hektar pada 2023."Sudah terbukti tembakau komoditas unggulan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat.Tolong agar aspirasi kami didengarkan, diakomodir," tambah Sutriyanto.

Berdasarkan data dari Ditjen Perkebunan, produksi tembakau Indonesia pada tahun 2023 sebesar 238,81 ribu ton yang berasal dari 14 provinsi. Jawa Tengah berada di peringkat ketiga propinsi penghasil tembakau dengan rata-rata produksi sebesar 53,50 ribu ton atau berkontribusi sebesar 21,63% per tahun.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More