Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma Lucu-lucuan! Alasan Lomba Kerupuk dan Balap Karung Punya Sejarah Kelam

Kota Semarang
Bukan Cuma Lucu-lucuan! Alasan Lomba Kerupuk dan Balap Karung Punya Sejarah Kelam
Lomba makan kerupuk (pexels.com/Ahmad Firdaus)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif

  • Lomba makan kerupuk berakar pada krisis pangan era 1930–1940-an dan pendudukan Jepang, ketika kerupuk menjadi pelengkap makanan rakyat yang mengalami kelaparan.
  • Tangan terikat dalam lomba kerupuk melambangkan keterbelengguan rakyat, sementara balap karung merefleksikan penggunaan goni sebagai pakaian akibat kelangkaan kain pada 1942–1945.
  • Pascakemerdekaan, kedua lomba dilestarikan sebagai permainan edukatif untuk mengingat penderitaan, perjuangan keluar dari kemiskinan, dan rasa syukur atas kebebasan Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times — Gelak tawa, sorak-sorai penonton, dan kebersamaan warga selalu menghiasi pesta rakyat setiap menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari sekian banyak perlombaan 17-an, lomba makan kerupuk dan balap karung hampir tidak pernah absen digelar di setiap sudut RT dan RW.

Aksi peserta yang melompat-lompat dengan karung goni atau berusaha mengunyah kerupuk yang tergantung tali kerap menjadi hiburan yang sangat menggelitik. Namun, di balik keceriaan dan tawa yang membahana tersebut, tahukah kamu bahwa dua lomba ikonik ini sebenarnya menyimpan rekam jejak sejarah yang amat kelam?

Bukan sekadar permainan hiburan biasa, berikut sejarah kelam di balik lomba makan kerupuk dan balap karung di masa penjajahan ala IDN Times. Simak kisahnya agar makin menghayati arti kemerdekaan, Lur!

1. Lomba Makan Kerupuk: Simbol Penderitaan dan Kelaparan Era Penjajahan

potret lomba makan kerupuk (commons.m.wikimedia.org/Sintakhrn)
potret lomba makan kerupuk (commons.m.wikimedia.org/Sintakhrn)

Lomba makan kerupuk bukan sekadar menguji kecepatan atau ketangkasan mengunyah tanpa bantuan tangan.

Pada masa penjajahan Jepang dan masa krisis ekonomi dekade 1930–1940-an, rakyat Indonesia mengalami krisis pangan yang sangat berat. Kerupuk—yang terbuat dari tepung tapioka tanpa nutrisi tinggi—menjadi salah satu makanan utama pelengkap nasi bagi masyarakat bawah agar bisa bertahan hidup dari kelaparan.

Posisi tangan peserta yang diikat ke belakang melambangkan kondisi para pejuang dan rakyat Indonesia yang terbelenggu, tidak bebas, serta hidup dalam keterbatasan akibat intimidasi kaum penjajah.

Menikmati kerupuk yang digantung kini menjadi pengingat (reminder) akan perihnya penderitaan para leluhur yang dahulu kesulitan hanya untuk mendapatkan sepiring makanan layak.

2. Lomba Balap Karung: Potret Kemiskinan dan Pakaian Goni di Masa Pendudukan Jepang

Lomba balap karung 17-an
Lomba balap karung 17-an (vecteezy.com/Todsaporn Bunmuen)

Melompat-lompat menggunakan karung goni hingga terjatuh mungkin terlihat lucu di mata penonton zaman sekarang. Namun, bagi masyarakat era 1940-an, karung goni adalah bentuk penderitaan fisik yang nyata.

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), pasokan kain tekstil diblokade total dan disita untuk kepentingan perang. Rakyat Indonesia yang tidak memiliki pakaian terpaksa menjadikan karung goni bekas wadah gula atau beras sebagai bahan pakaian sehari-hari.

Kain karung goni bersifat kasar, panas, serta menjadi sarang kutu. Penggunaannya menyebabkan penyakit kulit seperti gatal-gatal parah hingga koreok pada masyarakat kala itu.

Lomba balap karung diciptakan pascakemerdekaan sebagai simbolisasi melompati penderitaan. Gerakan melompat menuju garis finish melambangkan perjuangan keras rakyat Indonesia untuk keluar dari kemiskinan dan belenggu penjajahan.

3. Dari Simbol Simbolis Menjadi Peringatan Nilai Perjuangan

ilustrasi balap karung (pexels.com/Tri Warno)
ilustrasi balap karung (pexels.com/Tri Warno)

Mengapa permainan dengan sejarah penderitaan ini justru dilestarikan sebagai lomba kemerdekaan?

Para sesepuh dan pejuang masa lalu mengemas ingatan penderitaan bangsa menjadi permainan edukatif agar generasi penerus tidak melupakan sejarah (Jasmerah).

Dulu, kerupuk diperebutkan karena kelaparan dan karung goni dipakai karena kemiskinan. Kini, kedua objek tersebut diolah menjadi perlombaan interaktif sebagai bentuk rasa syukur bahwa bangsa Indonesia telah terbebas dari masa-masa kelam tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More