Musim Kemarau, 5 Taman Kota Semarang Kini Disiram Otomatis

- Pemkot Semarang menerapkan penyiraman otomatis berbasis timer untuk menjaga taman tetap hijau selama kemarau dan mengurangi ketergantungan pada mobil tangki.
- Sistem ini telah beroperasi di lima taman, sementara instalasi dilakukan di Taman Kalibanteng, Madukoro, dan Parikesit pada 2026.
- Penyiraman otomatis menjadi bagian konsep Smart Park, tetapi tetap memerlukan sumber air, pompa, jaringan berfungsi, serta partisipasi warga menjaga taman.
Semarang, IDN Times - Musim kemarau mendorong Pemerintah Kota Semarang mencari cara agar taman kota tidak sekadar tetap hijau, tetapi juga bisa dirawat lebih efisien. Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan pada penyiraman menggunakan mobil tangki.
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang kini menerapkan sistem penyiraman otomatis berbasis timer di sejumlah taman aktif. Sistem tersebut memungkinkan tanaman mendapatkan air berdasarkan jadwal dan durasi yang telah ditentukan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, teknologi tersebut diperlukan karena kebutuhan air tanaman meningkat selama kemarau, sementara penyiraman menggunakan armada tangki memiliki kendala mobilitas.
“Musim kemarau membuat kebutuhan perawatan taman menjadi lebih besar. Kita perlu memastikan taman-taman kota tetap terawat dan nyaman. Karena itu, pemanfaatan teknologi seperti sistem penyiraman otomatis perlu terus dikembangkan,” ungkapnya, Jumat (21/8/2026).
1. Lima taman sudah pakai sistem otomatis

Pemerintah Kota Semarang meresmikan Taman Abdulrahman Saleh di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Rabu (7/1/2026). (Dok. Pemkot Semarang) Untuk diketahui, sistem penyiraman otomatis saat ini sudah beroperasi penuh di lima taman. Kelima taman tersebut, yakni Lapangan Pancasila Simpang Lima, Taman Tugu Muda, Taman Diponegoro, Taman Citra Satwa, dan Taman Imam Barjo.
Sementara pada 2026, instalasi sistem serupa tengah dilakukan di Taman Kalibanteng, Taman Madukoro, dan Taman Parikesit.
“Dengan sistem timer, penyiraman berjalan otomatis sesuai jadwal. Tanaman mendapatkan air tepat waktu tanpa khawatir terkendala keterlambatan armada tangki di perjalanan,” terang Kepala Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati.
Menurut perempuan yang akrab disapa Pipie itu, penerapan sistem tersebut akan dilakukan bertahap di seluruh pilar taman pusat kota dan taman aktif.
2. Bukan sekadar ganti cara menyiram

Ilustrasi taman di Kota Semarang disiram secara otomatis. (dok. Pemkot Semarang) Penerapan sistem otomatis menjadi bagian dari modernisasi pemeliharaan ruang terbuka hijau Kota Semarang. Selama ini, penyiraman taman masih menghadapi persoalan seperti keterbatasan mobilitas armada tangki dan kebutuhan penyiraman yang harus dilakukan secara rutin.
Dengan timer, waktu penyiraman dapat ditentukan sesuai kebutuhan masing-masing taman sehingga prosesnya lebih terjadwal.
Namun, sistem tersebut bukan berarti membuat perawatan taman sepenuhnya berjalan otomatis. Ketersediaan sumber air, pompa, jaringan penyiraman, hingga perangkat pendukung tetap harus dipastikan berfungsi.
Disperkim pun menargetkan perluasan sistem tersebut secara bertahap agar semakin banyak taman aktif yang tidak bergantung sepenuhnya pada penyiraman manual.
3. Masuk konsep smart park Semarang

Ilustrasi taman di Kota Semarang disiram secara otomatis. (dok. Pemkot Semarang) Selanjutnya, Agustina menyampaikan, inovasi penyiraman otomatis tersebut sebagai bagian dari konsep Smart Park dalam pengembangan Smart City Kota Semarang.
Menurutnya, teknologi di ruang publik seharusnya tidak berhenti sebagai simbol modernisasi, tetapi menjawab persoalan konkret yang muncul di lapangan.
“Pemanfaatan teknologi harus menjawab kebutuhan di lapangan. Taman kota harus tetap terawat dan nyaman digunakan masyarakat, sekalipun kita menghadapi musim kemarau,” katanya.
Pada sisi lain, keberadaan sistem otomatis tidak menghilangkan peran masyarakat dalam menjaga taman. Pemerintah tetap membutuhkan partisipasi warga agar fasilitas publik tidak rusak dan ruang terbuka hijau tetap bisa dimanfaatkan bersama.
“Teknologi membantu pemerintah merawat kota, tetapi keberlanjutannya butuh kepedulian bersama. Mari kita jaga taman-taman ini agar tetap asri, sejuk, dan nyaman untuk kita semua,” pungkas Agustina.




















