Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Warga Semarang, Ini 7 Hal Penting Agar Tetap Sehat Saat Musim Kemarau

Kota Semarang
Warga Semarang, Ini 7 Hal Penting Agar Tetap Sehat Saat Musim Kemarau
Ilustrasi Musim Kemarau (pexels.com/Brett Sayles)
  • Dinkes Kota Semarang mengingatkan kemarau meningkatkan risiko dehidrasi, paparan panas, penyakit nyamuk, kebakaran, dan gangguan kualitas udara; warga diminta beradaptasi sebelum sakit.
  • Warga dianjurkan minum air putih minimal delapan gelas sehari, menghemat serta menjaga penampungan air tetap bersih-tertutup, makan bergizi, cukup istirahat, dan mengatur aktivitas luar ruangan.
  • Pencegahan mencakup 3M Plus untuk DBD, tidak membakar sampah atau lahan, memakai payung atau topi saat terik, serta menjaga ventilasi dan kelembapan rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Musim kemarau bukan sekadar membuat udara terasa lebih panas dan tenggorokan cepat kering. Sebab, dari balik cuaca terik dan udara kering, ada sejumlah risiko kesehatan yang bisa meningkat, mulai dari dehidrasi, penyakit akibat nyamuk, paparan panas, hingga gangguan akibat kualitas udara.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengingatkan warga agar tidak menunggu sakit untuk mulai beradaptasi dengan kondisi kemarau. Dalam materi edukasi yang dibagikan, warga diminta memperhatikan tujuh hal penting untuk menjaga kesehatan sekaligus lingkungan selama musim kemarau. Apa saja itu, simak penjelasan dari Dinkes Kota Semarang berikut.

  1. 1. Jangan tunggu haus untuk minum

    Ilustrasi minum air (pexels.com / Maurício Mascaro)
    Ilustrasi minum air (pexels.com / Maurício Mascaro)

    Risiko paling sederhana tetapi sering disepelekan saat kemarau adalah kekurangan cairan tubuh. Dinkes menyarankan masyarakat mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih, dengan materi edukasinya menyebut minimal delapan gelas sehari untuk membantu mencegah dehidrasi.

    Namun, kebutuhan cairan setiap orang tidak selalu sama. Mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan, berkeringat lebih banyak, atau berada dalam kondisi tertentu dapat membutuhkan asupan cairan lebih banyak. Tanda tubuh mulai kekurangan cairan antara lain rasa haus, mulut kering, lemas, pusing hingga urine berwarna lebih pekat.

  2. 2. Air bersih jangan sampai terbuang

    Masyarakat memanfaatkan air Sendang Siancar saat musim kemarau di Desa Kaliancar, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (7/9/2023). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Masyarakat memanfaatkan air Sendang Siancar saat musim kemarau di Desa Kaliancar, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (7/9/2023). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Kemarau juga berkaitan dengan persoalan ketersediaan air bersih. Maka itu, Dinkes mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secukupnya dan memastikan tempat penampungan air dalam kondisi bersih serta tertutup.

    Persoalannya bukan hanya menghemat air, tetapi juga memastikan air yang tersedia tetap layak digunakan. Kekurangan air bersih dapat berdampak langsung terhadap perilaku hidup bersih dan kesehatan masyarakat.

  3. 3. Panas jangan dilawan dengan memaksakan aktivitas

    Ilustrasi wanita memakai aksesoris topi (freepik.com/freepik)
    Ilustrasi wanita memakai aksesoris topi (freepik.com/freepik)

    Dinkes juga meminta warga menjaga kondisi tubuh dengan makanan bergizi, istirahat cukup dan olahraga rutin.

    Bagi masyarakat yang bekerja atau beraktivitas di luar ruangan, paparan panas menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dinkes menyarankan penggunaan payung atau topi, terutama ketika beraktivitas pada siang hari, serta memastikan asupan cairan tetap mencukupi.

    Artinya, persoalan kemarau bukan hanya bagaimana bertahan dari rasa panas, tetapi juga bagaimana mengatur aktivitas agar tubuh tidak mengalami tekanan akibat suhu lingkungan.

  4. 4. DBD tetap mengintai saat kemarau

    ilustrasi demam berdarah (freepik.com/jcomp)
    ilustrasi demam berdarah (freepik.com/jcomp)

    Kemarau bukan berarti risiko penyakit yang ditularkan nyamuk otomatis hilang. Dinkes tetap meminta masyarakat melakukan 3M Plus untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD), yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

    Warga juga diminta mencegah gigitan nyamuk. Perhatian terhadap tempat penampungan air menjadi penting karena wadah yang tetap terisi air, termasuk di sekitar rumah, dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.

  5. 5. Jangan bakar sampah sembarangan

    ilustrasi bakar sampah (theconversation.com)
    ilustrasi bakar sampah (theconversation.com)

    Satu risiko lain yang kerap muncul ketika udara kering adalah kebakaran dan memburuknya kualitas udara. Dinkes meminta warga tidak membakar sampah maupun lahan sembarangan. Api lebih mudah menyebar pada kondisi kering, sementara asap hasil pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pernapasan.

    Pesan ini juga sejalan dengan langkah Pemkot Semarang yang meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemarau 2026 karena risiko kebakaran, kekeringan dan penurunan kualitas udara.

  6. 6. Lindungi kulit dan tubuh dari panas terik

    ilustrasi menggunakan pelembap (pexels.com/Sora Shimazaki)
    ilustrasi menggunakan pelembap (pexels.com/Sora Shimazaki)

    Beraktivitas di bawah matahari langsung dalam waktu lama juga perlu dihindari. Dinkes menyarankan penggunaan payung atau topi saat berada di luar ruangan, terutama pada siang hari.

    Langkah sederhana tersebut penting bagi warga yang sehari-hari banyak bekerja di luar ruangan, seperti pengemudi, pedagang, pekerja lapangan maupun masyarakat yang harus melakukan aktivitas di bawah terik matahari.

  7. 7. Rumah terlalu lembap juga bukan kondisi ideal

    ilustrasi langit-langit lembap (vecteezy.com/wandeedee)
    ilustrasi langit-langit lembap (vecteezy.com/wandeedee)

    Ada satu hal yang menarik dalam imbauan Dinkes. Warga tidak hanya diminta menghadapi udara panas dan kering di luar rumah, tetapi juga memperhatikan kelembapan di dalam rumah.

    Maka, masyarakat disarankan membuka ventilasi pada pagi hari, menanam tanaman hijau di sekitar rumah, serta menggunakan pelembap udara bila diperlukan. Sirkulasi udara menjadi penting agar kondisi rumah tetap nyaman dan tidak terlalu lembap.

    Jadi, kemarau perlu diantisipasi dari banyak sisi ya. Pastikan kamu tetap menjaga kesehatan ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More