Kapal ferry milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melayani penyeberangan di wilayah Luwuk dan Banggai, Sulawesi Tengah. (Dok. ASDP Indonesia Ferry)
Keandalan layanan pelabuhan itu makin krusial di tengah impitan inflasi daerah. Berdasarkan Laporan Perekonomian Provinsi Maluku Utara Agustus 2026, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi tahunan di kawasan tersebut mencapai 5,05 persen pada triwulan II-2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi 6,73 persen, sementara kelompok transportasi melonjak hingga 12,22 persen.
Tingginya inflasi itu tidak lantas menjadi vonis mutlak kegagalan kapal penyeberangan. BI membeberkan, lonjakan harga ikan segar lebih dipicu oleh cuaca ekstrem dan mahalnya operasional nelayan, sedangkan komoditas hortikultura terhambat gagal panen di wilayah pemasok. Namun, ketika pasokan hulu sedang seret, jalur distribusi yang efisien menjadi katup pengamannya. Sebaliknya, ketidakpastian pengiriman akan memicu rentetan ongkos yang mengerek harga makin liar.
Perlu ditegaskan, argo ongkos logistik tidak berhenti di depan loket pelabuhan. Saat truk tertahan akibat antrean, biaya operasional terus membengkak. Bagi komoditas pangan yang mudah rusak (perishable goods) seperti sayuran dan ikan segar, setiap jam penundaan berdampak pada penyusutan fisik dan pembusukan (spoilage).
Di bagian lain, truk pendingin (reefer) pembawa daging atau produk susu harus terus membakar solar demi mempertahankan suhu muatan. Walaupun tambahan biaya tersebut mulanya ditanggung oleh pengusaha atau distributor, pada ujungnya konsumenlah yang menanggung beban lewat meroketnya harga di lapak pasar setempat
Tantangan waktu tersebut tidak hanya mengintai jalur perintis jarak jauh, tetapi juga lintasan sabuk utama berfrekuensi tinggi seperti Ketapang–Gilimanuk. Pada 29 September 2026, antrean kendaraan di sisi Pelabuhan Ketapang mengular hingga 8,5 kilometer dan didominasi truk logistik. Untuk mengurai simpul kemacetan tersebut, ASDP bahkan harus mengerahkan 27 kapal gabungan.
Menariknya, laporan resmi kerap mencatat perkiraan waktu tunggu pelayanan hanya sekitar 34 menit. Terdapat jurang realitas di sini; panjangnya antrean yang menjalar hingga ke luar kawasan pelabuhan tidak seutuhnya terekam dalam pengukuran waktu pelayanan di satu titik dermaga.
Bagi pengusaha logistik, parameter paling relevan untuk menghitung argometer biaya adalah dwell time—durasi sejak kendaraan mulai terjebak antrean di jalan raya hingga roda truk benar-benar menjejak geladak kapal. Kasus Ketapang membuktikan, menambah jumlah kapal bukanlah obat dewa. Keandalan penyeberangan merupakan korelasi operasional yang melibatkan kapasitas dermaga, kecepatan bongkar muat, pengaturan muatan, kondisi cuaca, hingga koordinasi lintas instansi.
Benang merah dari perairan Bitung hingga Selat Bali bermuara pada satu urgensi nasional. Yakni, indikator konektivitas harus bergeser dari "berapa jumlah kendaraan yang diseberangkan" menjadi "seberapa presisi jadwal perjalanan tersebut".