Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pantura Kena Efek Perubahan Iklim, Warga Was-was Semarang Bakal Tenggelam
Sejumlah aktivis Semarang membentangkan spanduk bertuliskan sindiran mengenai kondisi Kota Semarang yang bakal tenggelam karena dampak perubahan iklim yang sangat pesat. (IDN Times/Dok Climate Strike 2023)

Semarang, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah menyatakan pesisir pantai utara Jawa akan menjadi area yang sangat terdampak perubahan iklim.

Berdasarkan prediksi BMKG tahun 2032--2040, Manajer Advokasi dan Kampanye, Walhi Jateng, Iqbal Alma Ghofani mengatakan, suhu harian akan meningkat banyak dan hari-hari kering makin panjang. 

"Ini berisiko menimbulkan gagal panen, krisis air persih dan pangan, dan itu semua bisa membuat ketidakstabilan sosial dan politik," kata Iqbal. 

Walhi prediksi 70 tahun lagi Pulau Jawa mengalami panas mematikan

Aksi solidaritas perubahan iklim juga dimeriahkan para muda-mudi seperti mendengarkan orasi di pinggir jalan. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Selain itu, Iqbal mengatakan para ahli sudah memperhitungkan kalau skenario paling optimis, secara bertahap temperatur harian akan terus naik, sampai akhirnya sampai ke taraf mematikan, orang sudah tidak aman lagi berkegiatan di luar rumah. 

"Sekitar 70-80 tahun lagi, penduduk Pulau Jawa akan mengalami panas mematikan itu sebanyak 200-300 hari dalam setahun," terang Iqbal. 

Para orang tua di Semarang mulai ketar-ketir

Puluhan siswa sekolah bersama para pegiat perubahan iklim saat menggelar aksi bertajuk Climate Strike 2023 di bundaran Monumen Tugu Muda, Randusari Kota Semarang. (IDN Times/Dok Climate Strike 2023)

Sementara, bagi Linggayani Soentoro yang mewakili EduHouse, percepatan perubahan iklim sangat merisaukan para orangtua. Bahkan dalam pikirannya sudah terbesit apakah Kota Semarang masih eksis atau justru sudah ditenggelamkan lautan. 

"Masih bisa dihunikah bumi ini saat anak-anak kita besar nanti? Kita bahkan bertanya-tanya, dalam dua puluh tahun mendatang, Semarang masih ada atau sudah tenggelam? Jadi memang ayah ibu membawa anak-anak mereka untuk ikut menyuarakan kegelisahan, semoga segera muncul kebijakan-kebijakan yang konkret untuk mengurangi, mengganti, atau meninggalkan bahan bakar fosil. Kita perlu stop kecanduan pada bahan bakar fosil," akunya. 

Suhu bumi naik memicu siklon tropis

Puluhan siswa tampak berjalan kaki sambil mengikuti aksi solidaritas perubahan iklim yang dinamai Climate Strike 2023 di Kota Semarang. (IDN Times/Dok Climate Strike 2023)

Menurut Ellen Nugroho, Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima), perubahan iklim kian diperparah dari kegiatan penambangan dan pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam karena sudah menyebabkan efek gas rumah kaca. 

"Gas-gas yang mengandung karbon menumpuk di atmosfer, membuat energi matahari terperangkap di bumi. Suhu bumi naik, menyebabkan aneka masalah bagi kita, mulai dari memanjangnya kemarau, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan air laut, sampai munculnya siklon tropis yang mendekat ke khatulistiwa yang memakan ratusan korban jiwa," tuturnya di sela aksi Climate Strike 2023 di Jalan Pemuda Semarang dan Tugu Muda. 

"Jika kita terus hidup dengan kecanduan bahan bakar fosil seperti sekarang ini, dalam sepuluh tahun lagi, krisis iklim sudah tak terbayangkan," sambungnya. 

Warga gelar aksi Climate Strike di Tugu Muda dan Balai Kota

Anak-anak sekolah berjalan untuk mengikuti aksi perubahan iklim yang diadakan berbagai lembaga yang ada di Semarang. (IDN Times/*Fariz Fardianto)

Ini keempat kalinya aksi Climate Strike digelar, sebagai bagian dari seruan kepedulian pada perubahan iklim sedunia. 

Di Indonesia sendiri, aksi climate strike diadakan serentak di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Riau, Jambi, dan Palu. Kali ini para aktivis mendesak dikeluarkannya kebijakan-kebijakan yang konkret mengurangi, mengganti, atau menghentikan penggunaan bahan bakar fosil. 

Menahan laju perubahan iklim bisa dengan kurangi belanja baju

Anak-anak memeriahkan acara aksi solidaritas perubahan iklim di Semarang. (IDN Times/Dok Climate Strike 2023)

Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Setyawan Budy berkata bila isu perubahan iklim ini besar sekali, jadi tidak mungkin perubahan terjadi kalau hanya jalan sendiri-sendiri. 

Ia mendorong para pemuka agama dengan pengaruhnya yang besar semestinya proaktif mengajak umat untuk ikut serta melakukan aksi-aksi nyata. Apalagi agama membawa pesan rahmat bagi seisi semesta. Sehingga, umat beragama mesti melampaui urusan ritual, tapi riil menjadi pelopor perubahan gaya hidup menjadi rendah karbon.

"Lalu juga bergandeng tangan, tanpa membedakan lagi dari agama apa, kepercayaan apa, karena kalau bumi ini rusak, kita semua akan merasakan dampaknya, tidak peduli apa keyakinan kita," pungkasnya. 

Editorial Team

Related Article