Salatiga, IDN Times - Sampah plastik tak hanya menjadi persoalan lingkungan. Bagi usaha rintisan yang bergerak di bidang pengolahan limbah plastik, Paste Laboratory (Paste Lab) justru berhasil mengubahnya menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Paste Lab Sulap 10 Ton Sampah Plastik Jadi Bisnis dan Lapangan Kerja

1. Gandeng bank sampah untuk pasok bahan baku
Pada Juli 2026, Paste Lab mencatat omzet tertinggi sejak perusahaan berdiri, yakni mencapai Rp650 juta. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis yang dibangun dari pengolahan sampah plastik.
CEO Paste Lab, Rifqi Dwantara mengatakan, saat ini pihaknya mampu mengolah sekitar 10 ton sampah plastik setiap bulan. Dari aktivitas tersebut, Paste Lab telah membuka 49 peluang kerja dan menggandeng bank sampah lokal sebagai bagian dari rantai pasok bahan baku.
“Capaian omzet Rp650 juta ini adalah rekor tertinggi bagi kami. Spesial di Hari Pelanggan Nasional, kami berterima kasih atas kepercayaan pelanggan dan dukungan PLN UIT JBT,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Menurut Rifqi, pengolahan sampah plastik tersebut tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak kepada masyarakat di sekitar operasional perusahaan.
Perkembangan Paste Lab terlihat dari jumlah tenaga kerja yang terlibat. Saat awal merintis, operasional usaha tersebut hanya dijalankan oleh sekitar 10 orang. Kini, jumlahnya meningkat menjadi 49 pekerja. Artinya, ekspansi bisnis pengolahan limbah tersebut turut menciptakan puluhan lapangan pekerjaan baru.
2. Penyandang disabilitas hingga pengepul sampah dapat tambahan nilai ekonomi
Dari jumlah tersebut, Paste Lab juga mempekerjakan dua orang penyandang disabilitas. Mereka mendapat kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan secara mandiri. Pertumbuhan bisnis tersebut menjadi bagian dari dampak sosial yang muncul bersamaan dengan aktivitas pengolahan limbah plastik.
Sementara, dampak ekonomi Paste Lab juga dirasakan tiga mitra bank sampah lokal yang memasok bahan baku plastik.
Melalui kemitraan tersebut, plastik yang sebelumnya dijual kepada pengepul biasa kini masuk ke rantai pengolahan Paste Lab. Mitra bank sampah disebut mengalami peningkatan pendapatan hingga delapan kali lipat dibandingkan praktik penjualan sebelumnya.
Ekosistem ini membuat manfaat ekonomi dari pengolahan sampah tidak berhenti di Paste Lab. Masyarakat yang berada di bagian awal rantai pengumpulan sampah juga memperoleh tambahan nilai ekonomi.
3. PLN dorong ekonomi sirkular
General Manager PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT), Amiruddin menilai, perkembangan Paste Lab menunjukkan bahwa pendampingan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dapat menghasilkan dampak yang lebih luas.
“Pada momentum Hari Pelanggan Nasional ini, pencapaian Paste Lab membuktikan bahwa kolaborasi antara PLN dan pelanggan tidak hanya sebatas penyediaan listrik, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi sirkular yang inklusif dan berdampak luas bagi pelestarian lingkungan,” katanya.
Sementara, Manager PLN Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga, Ardylla Rommyonegge, juga mengapresiasi perkembangan Paste Lab dari usaha rintisan hingga mampu menyerap puluhan tenaga kerja.
“Kami di UPT Salatiga sangat bangga melihat Paste Lab berkembang pesat. Dari mengolah 10 ton sampah plastik hingga membuka 49 peluang kerja, pencapaian luar biasa ini adalah wujud nyata keberhasilan pemberdayaan sosial di momen Hari Pelanggan Nasional,” ujarnya.
Melalui kolaborasi PLN Peduli dan Paste Lab, pengolahan limbah plastik kini tidak hanya ditempatkan sebagai upaya mengurangi persoalan lingkungan. Aktivitas tersebut juga berkembang menjadi model usaha yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat dalam rantai ekonomi sirkular.
Curated For You
- Setor Minyak Jelantah dan Sampah Plastik di Semarang dapat Duit, Mau?02 Jul 2025, 16:47 WIB
- Jalan Panjang Tincnori dari Karya Wastra Lokal Menuju Pasar Global30 Aug 2026, 22:30 WIB