Penyebab Inflasi di Jateng: Harga Pangan Naik, Diskon Listrik Berakhir

- Inflasi Jawa Tengah mencapai 1,43% pada Maret 2025, lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 1,65%.
- Kenaikan inflasi disebabkan oleh berakhirnya diskon tarif listrik dari PLN dan melonjaknya harga bahan pangan menjelang Idulfitri 1446 H.
- Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar.
Semarang, IDN Times – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan inflasi sebesar 1,43 persen (month-to-month/m-t-m) pada Maret 2025. Bak Indonesia (BI) mencatat, angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 1,65 persen pada periode yang sama.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Jawa Tengah tercatat 0,75 persen, juga masih di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 1,03 persen.
1. Gak ada lagi diskon listrik jadi pemicu

Kenaikan inflasi di Jawa Tengah dipengaruhi oleh dua faktor utama: berakhirnya diskon tarif listrik dari PLN dan melonjaknya harga bahan pangan menjelang Idulfitri 1446 H.
“Inflasi paling tinggi terjadi di Kabupaten Wonosobo, yaitu sebesar 1,69%. Secara umum, seluruh kota pantauan di Jateng mengalami inflasi,” ungkap Pelaksana Harian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, dilansir siaran pers resminya, Jumat (11/4/2025).
Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,84 persen (m-t-m). Kenaikan itu terjadi seiring dengan berakhirnya diskon 50 persen untuk pelanggan prabayar PLN dengan daya di bawah 2.200 VA pada akhir Februari lalu.
Meski begitu, pelanggan pascabayar masih menikmati potongan harga untuk tagihan Maret, karena mencakup pemakaian di bulan Februari.
2. Harga bawang merah dan cabai meroket

Selain listrik, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga memberikan kontribusi inflasi cukup besar, yakni 0,46 persen (m-t-m). Lonjakan tersebut didorong oleh tingginya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Lebaran.
Komoditas bawang merah mencatat andil inflasi tertinggi dalam kelompok itu sebesar 0,17 persen. Kenaikan harga disebabkan oleh penurunan pasokan akibat banjir di kawasan Pantura seperti Brebes, Kendal, dan Grobogan, yang merusak tanaman dan menurunkan produktivitas.
Sementara itu, harga cabai rawit juga naik dengan andil 0,04 persen, imbas dari curah hujan tinggi sepanjang Februari hingga Maret yang menghambat panen di berbagai wilayah.
3. Transportasi penahan inflasi

Di tengah naiknya harga bahan pokok, sektor transportasi justru sedikit menahan laju inflasi. Tarif angkutan udara turun 0,02 persen seiring adanya diskon tiket pesawat ekonomi sebesar 13–14 persen untuk perjalanan domestik dari 24 Maret 2025 hingga 7 April 2025.
Tarif kereta api pun turun 0,01 persen, berkat promo potongan harga hingga 25 persen dari PT KAI untuk keberangkatan periode 7–17 Maret 2025.
Untuk menekan potensi kenaikan inflasi lebih lanjut, Bank Indonesia Jateng bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan terus menggencarkan program stabilisasi harga. Fokus utamanya adalah menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang, khususnya bahan pangan strategis.
“Kami akan terus berkoordinasi lintas sektor untuk memastikan inflasi tetap berada di target sasaran nasional, yaitu 2,5±1 persen,” tutur Andi Reina Sari.


















