Semarang, IDN Times - Hari masih pagi saat sejumlah pasangan suami istri (pasutri) bergegas masuk ke dalam aula Balai Desa Pasinggangan, Kabupaten Banyumas.
Para bapak-bapak tampak menuntun istrinya yang sedang hamil duduk di kursi balai desa. Beberapa kali petugas kelurahan memberikan sosialisasi pentingnya menjaga kehamilan istri tercintanya.
Mereka juga diberi pembekalan pengetahuan mengenai cara mengasuh perkembangan janin dalam rahim istri hingga cara mengasuh bayi di rumah.
Aldan Niko mendapat pengalaman baru saat mengikuti beragam sosialisasi dan pelatihan dari Balai Desa Pasinggangan tersebut.
Ia mengaku baru beberapa bulan pulang ke desanya setelah bertahun-tahun merantau ke Jakarta.
"Awalnya dikasih tahu sama orang rumah kalau ada kegiatan di balai desa. Terus saya nyobain ikutan, karena baru pertama ya rasanya senang. Malahan ndak nyangka ada latihan cara mengasuh bayi, mandiin bayi, memijat istri juga," ujar Niko di sela kegiatan di Balai Desa Pasinggangan belum lama ini.
Bagi pria berusia 30 tahun ini, cara mengasuh bayi merupakan hal baru yang perlu diajarkan secara kontinyu.
Apalagi istrinya yang bernama Wahidah sedang mengandung anak pertamanya. Usia kandungan istrinya menginjak delapan bulan.
Tentunya selain menunggu momen penuh kejutan, Niko juga berusaha memantutkan diri menjadi seorang bapak.
"Ternyata yang diajarkan di kelas Bapake-Mamake tadi juga sudah saya lakuin di rumah. Seringnya mijit-mijitin istri pas kakinya bengkak, pas awal-awal hamil saya usahain jaga biar dia doyan makan, doyan minum vitamin juga," akunya.
Kelas Bapake-Mamake yang dimaksud Niko ialah kegiatan penyuluhan bagi bapak-bapak agar lebih peduli terhadap kehamilan istrinya. Selain itu, bapak-bapak juga diberi pengetahuan yang detail bagaimana cara menangani setiap keluhan istri yang sedang hamil sampai punya peran aktif ketika istri menjalani proses melahirkan.
Sebagai contoh, saat masa kehamilan, seorang bapak harus pintar-pintar membujuk istri untuk mengonsumsi pil penambah darah.
Dengan masa kehamilan sembilan bulan, seorang ibu hamil wajib mengonsumsi pil penambah darah untuk menghindari resiko kekurangan darah sekaligus mengantisipasi bayi yang dilahirkan mengalami gejala stunting.
"Paling sudah itu pas awal hamil, saban minum pil penambah darah muntah terus. Jadinya saya carikan pil penambah darah di apotek tapi mereknya beda. Ya pelan-pelan mulai mau, tapi harus dipantau," kata warga Desa Pasinggangan RT 06/RW III ini.
Kepala Puskesmas Banyumas, drg Kartikawati mengatakan untuk menyukseskan kelas Bapake-Mamake, dirinya mengarahkan kepada para petugas untuk telaten menyambangi Balai Desa Pasinggangan.
Sebab Desa Pasinggangan punya angka stunting yang tinggi. Ditambah lagi topografi Desa Pasinggangan yang luas dengan areal wilayah bagian atas dan bawah sedikit banyak mempengaruhi aksesibilitas warganya.
"Kita juga lihat topografis Desa Pasinggangan ini ada daerah atas, ada daerah bawah. Jadi butuh effort luar biasa. Maka dengan kegiatan Bapake-Mamake, paling tidak bisa mengubah perikaku para suami untuk hadir langsung sebagai pendamping bagi istrinya yang hamil. Utamanya menjaga istri agar tidak mengalami kekurangan darah," urainya.
"Setiap hari harus minum pil penambah darah. Karena kalau ibu hamil kekurangan darah di ibu hamil bisa menyebabkan anaknya stunting," tambahnya.
Kelas Bapake Mamake di Desa Pasinggangan menjadi salah satu contoh bagaimana upaya pencegahan stunting tidak hanya menyasar ibu hamil, tetapi juga melibatkan para suami. Di Banyumas, langkah ini menjadi bagian dari penguatan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) yang didukung Tanoto Foundation melalui program Stunting 2.0 bersama Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK).
Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat pendampingan keluarga, terutama pada masa kehamilan hingga anak berusia 0 sampai 3 tahun. Melalui pendekatan ini, keluarga didorong lebih memahami pentingnya konsumsi tablet tambah darah bagi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, pemberian makanan bayi dan anak yang benar, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin di posyandu.
Di tingkat daerah, penguatan KPP ini juga dipayungi Perbup Nomor 59 Tahun 2023. Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Banyumas kemudian mendorong enam pesan kunci pencegahan stunting agar sampai langsung ke keluarga. Salah satunya melalui kegiatan seperti Kelas Bapake Mamake, yang mengajak para ayah lebih aktif mendampingi istri dan anak sejak masa kehamilan.
