Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pilkada Kudus Diwarnai Black Campaign, Para Buzzer Sebarkan Pornografi

Pilkada Kudus Diwarnai Black Campaign, Para Buzzer Sebarkan Pornografi
Ilustrasi bendera partai politik. IDN Times/ Bendera Parpol peserta Pemilu 2024
Share Article

Kudus, IDN Times - Kontestasi Pilkada Kudus rupanya diwarnai maraknya isu SARA yang disebarkan orang-orang yang tak bertanggung jawab diduga para buzzer. Bahkan, di Kota Kretek juga masif terjadi black campaign. 

1. Bawaslu lemah awasi Pilkada Kudus

Pengamat Politik Herry Mendrofa menilai maraknya black campaign oleh pendukung paslon bupati-wakil bupati jelang hari Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 Kabupaten Kudus dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Bahkan saat ini marak akun-akun buzzer yang memposting bernarasikan isu SARA dan berbau pornografi untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Salah satunya kelemahan pengawasan penyelenggaraan pemilu yaitu KPU dan Bawaslu. Hal ini dikarenakan adanya keterjangkauan untuk memitigasi potensi pelanggaran yang sangat minim.

"Penyelenggara Pilkada 2024 sepertinya lebih berfokus pada persoalan menuntaskan teknis pelaksanaan dibandingkan dengan pencegahan pelanggaran. Jadi black campaign di media sosial tidak termitigasi dengan baik," kata Herry dalam keterangannya Jumat (22/11/2024). 

2. Pelanggaran kampanye karena kualitas paslon beda-beda

Ilustrasi kandidat di Pilkada. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi kandidat di Pilkada. (IDN Times/Aditya Pratama)

Faktor lainnya, Herry melihat bahwa keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menjangkau setiap sudut-sudut potensi pelanggaran. Sehingga menurutnya, hal tersebut harus dievaluasi secara berkala dan konsisten.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa pelanggaran kampanye berupa black campaign atau semacamnya, marak terjadi karena kesadaran dan kualitas kandidat itu berbeda-beda dalam merespons cara berdemokrasi.

"Ada yang memahami pentingnya budaya politik yang edukatif namun tak jarang juga sebaliknya. Belum lagi persoalan lainnya disebabkan oleh uncontrolling terhadap tim kampanye atau bahkan simpatisan," kata Herry.

3. Pakar politik sayangkan aksi black campaign

Proses pengemasan logistik Pilgub Jateng dan Pilwakot Semarang di Gudang KPU Kota Semarang. (IDN Times/bt)
Proses pengemasan logistik Pilgub Jateng dan Pilwakot Semarang di Gudang KPU Kota Semarang. (IDN Times/bt)

Namun di satu sisi, black campaign terjadi karena adanya kandidat yang menganggap bahwa dengan cara tersebut, akan mempercepat perubahan preferensi politik publik atau persepsi publik terhadapnya.

Sehingga, menurutnya perlu ada kesadaran dari stakehoder terkait untuk mengembalikan kesadaran budaya politik, budaya demokrasi, budaya kompetisi di Indonesia.

"Jika ruang-ruang publik ini masih mengakomodasi praktek-praktek black campaign atau semacamnya tentunya ini cukup memprihatinkan dan berpotensi dapat menimbulkan konflik dan adu domba masyarakat oleh oknum paslon yang haus kekuasaan," kata dia.

Menurutnya, semua elemen mulai dari tim sukses (timses) hingga aparat penegak hukum seharusnya memiliki inisiatif untuk membangun kesadaran politik yang sehat di kalangan masyarakat, tak hanya KPU dan Bawaslu.

"Pengawasan dari semua elemen perlu yaa. Bukan hanya KPU, Bawaslu saja. Aparat hukum, tim sukses, masyarakat harus punya inisiatif membangun kesadaran berpolitik sehat dan berkualitas," ujarnya.

Diketahui, di media sosial marak postingan diduga oknum pendukung paslon 02 Pilkada Kudus 2024 yang menyebarkan ujaran kebencian. Bahkan menggunakan politik identitas dan SARA yang dapat memicu konflik sosial pada Pilkada.

Share Article
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More

Atasi Perut Begah Usai Makan Berlemak dengan 3 Air Rebusan Ini

01 Jun 2026, 11:17 WIBNews