Pohon Tumbang di Semarang Telan 4 Korban, Ada 87 Kejadian Bencana

- Terjadi 87 kejadian bencana di Semarang, dengan 53 kasus pohon tumbang. Hujan lebat dan angin kencang menjadi penyebab utama, menimpa empat orang dan menyebabkan satu korban jiwa.
- Selain pohon tumbang, ada 31 kejadian atap rumah roboh dan kerusakan pada reklame serta dinding bangunan. BPBD telah melakukan pendataan dan penanganan darurat di lapangan.
- Potensi bencana hidrometeorologi masih berlangsung.
Semarang, IDN Times - Kejadian pohon tumbang yang terjadi di Jalan Bendungan Raya, Kelurahan Barusari, Kecamatan Semarang Selatan, Rabu (18/2/2026), memakan empat korban dan salah satu korban meninggal dunia.
1. Pohon tumbang dominasi kejadian bencana

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat hujan lebat dan angin kencang pada hari itu mengakibatkan ada 87 kejadian bencana yang di Ibu Kota Jawa Tengah. Adapun, dari jumlah kejadian bencana itu didominasi oleh pohon tumbang dengan jumlah 53 kasus.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto mengatakan, hujan lebat dengan intensitas tinggi dan angin kencang mengakibatkan beberapa area terdampak tanah longsor, atap roboh, dan pohon tumbang.
‘’Bahkan, salah satu kejadian pohon tumbang di Jalan Bendungan Raya telah menimpa empat orang dan memakan satu korban jiwa meninggal dunia. Saat ini tiga korban yang selamat masih dirawat dengan kondisi satu orang tidak sadar dan dua orang luka-luka,’’ ungkapnya, Kamis (19/2/2026).
2. Terdapat 31 kejadian atap rumah roboh

Untuk diketahui, korban meninggal dunia adalah ibu rumah tangga, warga Dukuh Rejosari, Ngijo, Kecamatan Gunungpati bernama Wulan Dewi Ramadhan.
Tidak hanya pohon tumbang, BPBD juga mencatat ada 31 kejadian atap rumah roboh termasuk kerusakan pada reklame dan dinding bangunan. Selain itu, ada juga kejadian tanah longsor yang terjadi di beberapa titik rawan seperti di Tinjomoyo, Rowosari, dan Tembalang.
Endro menyampaikan, pihaknya telah bergerak cepat melakukan pendataan dan penanganan darurat di lapangan. Petugas memasang terpal pada area terdampak longsor dan bangunan yang rusak untuk mencegah kerusakan lanjutan.
3. Potensi bencana hidrometeorologi masih berlangsung

“Kami sudah melakukan pendataan dan pemasangan terpal di beberapa titik tanah longsor dan puting beliung. Beberapa wilayah juga sempat tergenang, namun air mulai berangsur surut,” jelasnya.
Sementara, berdasarkan prediksi BPBD Kota Semarang, potensi bencana hidrometeorologi masih akan berlangsung hingga akhir Februari 2026. Pihaknya mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras dan terjadi angin kencang.
‘’Kami mengimbau masyarakat menghindari berteduh di bawah pohon besar, papan reklame, atau bangunan yang rapuh, serta segera melapor jika menemukan potensi bahaya di lingkungan sekitar,’’ tandasnya.

















