Setahun Kepemimpinan Agustina-Iswar di Kota Semarang, Ini Capaiannya

- Setahun kepemimpinan Agustina-Iswar di Semarang menorehkan berbagai capaian, mulai dari pembangunan infrastruktur, penguatan layanan publik, hingga inovasi kebijakan dengan lima tagline utama pembangunan kota.
- Program lingkungan dan kesehatan menunjukkan hasil nyata: pengelolaan sampah terintegrasi, penghijauan kota, peningkatan peserta UHC, penurunan angka stunting, serta perbaikan fasilitas kesehatan masyarakat.
- Pemerintah juga memperluas akses pendidikan gratis, mendukung UMKM dan pekerja rentan melalui BPJS Ketenagakerjaan, serta memperkuat infrastruktur hijau dan penanganan banjir untuk mewujudkan Semarang tangguh.
Semarang, IDN Times - Kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng-Iswar Aminuddin sudah berjalan satu tahun. Meskipun masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dibenahi, namun dalam waktu 365 hari menjalankan kinerjanya ada sejumlah pencapaian di Ibu Kota Jawa Tengah.
1. Jawab kebutuhan publik

Agustina mengatakan, berbagai upaya dilakukan untuk menjawab kebutuhan publik, mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur, penguatan layanan dasar, pemulihan, dan penggerakan ekonomi daerah, hingga lahirnya sejumlah inovasi kebijakan di Kota Semarang.
‘’Namun, capaian itu juga berjalan beriringan dengan tantangan lapangan, keterbatasan anggaran, serta persoalan klasik yang belum sepenuhnya tuntas,’’ ungkapnya saat pemaparan “Satu Tahun Kepemimpinan Agustina - Iswar” di aula Kecamatan Semarang Timur, Jumat (20/2/2026).
Adapun, melalui lima tagline pembangunan yang diterapkan sejak awal pemerintahan Agustina-Iswar, yakni Semarang Bersih, Semarang Sehat, Semarang Cerdas, Semarang Makmur, dan Semarang Tangguh telah menghasilkan dampak nyata.
2. Bangun budaya pilah sampah dari rumah

Melalui Semarang Bersih, pemerintahan Agustina-Iswar telah membangun budaya baru “Semarang Wegah Nyampah” di masyarakat dengan memilah sampah dari dalam rumah. Kemudian, demi menjaga kenyamanan dan kebersihan di Kota Semarang, Pemkot Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup melakukan perbaikan dan menambah jumlah kontainer serta armada dump truck, dengan harapan sampah residu dari masyarakat bisa terkelola pengangkutannya dari hulu ke hilir.
Tahun 2025 total memiliki 454 kontainer dan 237 TPS. Upaya ini telah menghasilkan dampak ekonomi sirkular sebesar Rp 570.233.661, dan berhasil mengelola 221.299 ton sampah. Gerakan "Semarang Bersih". Mencakup pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Membentuk 1.074 unit bank sampah, dan melibatkan 35.411 sumber daya.
Tidak berhenti pada pengelolaan sampah, mewujudkan Semarang Bersih juga diimbangi dengan memperluas wilayah konservasi. Pemkot telah melakukan penghijauan di lahan seluas 16,58 hektare. Melakukan penanaman 46.510 bibit, serta membangun tiga ruang terbuka hijau (RTH) di Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, serta Taman Dinar Mas Meteseh.
‘’Semarang bersih juga bukan sekadar berbicara soal lingkungan, namun juga komitmen kami mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dari korupsi, gratifikasi maupun pungli. Penghargaan manajemen talenta dari BKN Republik Indonesia pada Januari 2026 menjadi bukti komitmen kami dalam mentransformasi birokrasi, menempatkan pejabat sesuai keahlian dan bukan titipan,’’ kata Agustina.
3. Perluas kepesertaan UHC

Pada penerapan visi Semarang Sehat, Semarang meraih predikat Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia (UI Green Metric 2025). Rehabilitasi 10.000 batang mangrove dan layanan kesehatan proaktif berkontribusi pada Angka Harapan Hidup 78,72 tahun.
Selain itu, juga telah memperluas kepesertaan UHC (Universal Health Coverage). Pada 2024 jumlah peserta 98.261, di masa pemerintahan Agustina-Iswar tahun 2025 peserta UHC meningkat menjadi 228.859 warga atau bertambah 130.598 peserta.
Adapun, pembangunan fasilitas kesehatan (faskes) juga mengalami meningkat, yakni telah membangun atau merenovasi empat puskesmas di Puskesmas Tlogosari Kulon, Puskesmas Krobokan, Puskesmas Pegandan, serta Puskesmas Genuk. Kemudian membangun tiga Puskesmas Pembantu di Pustu Ratu Ratih, Pustu Beringin, dan Pustu Jabungan.
Pada program penanganan stunting yang digulirkan telah tepat sasaran dan berhasil menekan angka stunting. Terbukti, pada tahun 2025 insidensi stunting mencapai 5.480 kasus, melalui program daycare rumah pelita, serta pendampingan yang dilakukan Pemkot Semarang, angka stunting bisa ditekan menjadi 3.560 kasus. Artinya, sebanyak 2.406 balita berhasil keluar dari zona kekurangan gizi atau gizi buruk.
Penanggulangan penyakit menular Tuberculosis (TB) juga menunjukkan progress yang signifikan. Dari jumlah skrining kasus TB tahun 2025 sebanyak 1.898.840 terdapat 6.144 kasus. Jumlah ini lebih kecil dibanding tahun 2024 di mana angka kasus yang ditemukan lebih banyak sebesar 7.304 kasus.
4. Perluas jangkauan sekolah swasta gratis

Visi Semarang Cerdas, diwujudkan melalui aplikasi pelayanan publik terpadu untuk mendukung peningkatan akses pendidikan (Rata-rata Lama Sekolah 11,11 tahun). Selama kepemimpinan Agustina-Iswar, pemkot telah menyalurkan beasiswa kepada 2.649 siswa SD/MI, 1.129 siswa SMP/MTs, 468 siswa SMA/SMK/MA, serta 12 mahasiswa miskin berprestasi. Pemkot juga telah menyelesaikan permasalahan ijazah tertahan dengan menyerahkan 374 ijazah dari 36 sekolah.
Dukungan infrastruktur untuk mewujudkan Semarang Cerdas juga dilakukan dengan membangun 43 ruang kelas baru di 8 SD. Memperbaiki 336 ruang kelas pada 115 SD. Kemudian, membangun 24 ruang kelas baru di 6 SMP, serta perbaikan 9 ruang kelas di 3 SMP.
Kemudian, program sekolah swasta gratis telah menjangkau 129 sekolah dengan anggaran Rp 25,79 miliar di tahun 2025, dan pada 2026 akan diperluas menjadi 135 sekolah. Program pendidikan gratis ini sebagai salah satu upaya menekan angka putus sekolah.
Selain perluasan akses pendidikan, Pemkot Semarang juga menggerakkan program bunda literasi, pelatihan penulisan cerpen bagi siswa SD dan SMP, serta penerbitan antologi cerpen yang melibatkan lebih dari 1.800 peserta. Berbagai upaya peningkatan literasi membuahkan hasil. Tahun 2025 menunjukkan indeks literasi Kota Semarang di angka 82,16 persen, indeks numerasi 77,74 persen.
Di bidang pemuda, Pemkot memperkuat supporting system bagi talenta muda, mulai dari olahraga, seni, budaya, hingga fasilitasi kompetisi internasional.
5. Daftarkan pekerja rentan dalam BPJS Ketenagakerjaan

Selanjutnya, Semarang Makmur dibangun dari ekonomi kerakyatan inklusif berbasis UMKM dan pariwisata. Adapun, diwujudkan melalui event "Semarang 10K" yang menyedot 3.000 peserta.
Lalu, mendaftarkan 7.217 pekerja rentan dalam BPJS Ketenagakerjaan melalui program Pijar Semar (Perlindungan Sosial Pekerja Rentan Kota Semarang). Meningkatkan penerima bisyarah bidang keagamaan dari 4.261 menjadi 5.260 orang. Pendidik Pos PAUD yang tergabung dalam HIMPAUDI bertambah dari 100 menjadi 200 orang. Perawat jenazah meningkat dari 600 menjadi 1.000 orang, Marbot masjid/musala naik dari 531 menjadi 885 orang.
Meningkatkan besaran bisyarah bulanan. Guru TPQ, Madrasah Diniyah, dan Sekolah Minggu masing-masing Rp500 ribu per bulan, Pinandita Rp300 ribu, pendidik Pos PAUD Rp500 ribu, HIMPAUDI Rp300 ribu, modin Rp1juta, serta marbot Rp300 ribu. Disamping itu, juga dilakukan pembebasan PBB bagi 98.847 wajib pajak, pembebasan BPHTB 97.847 wajib pajak, serta pemberian insentif 6.430 wajib pajak.
6. Pemeliharaan jalan kota

Sementara, Semarang Tangguh diwujudkan melalui birokrasi cerdas yang memungkinkan pembangunan infrastruktur hijau, lingkungan sehat mendukung pariwisata, ekonomi makmur menyediakan sumber daya untuk memperkuat semua pilar, termasuk ketahanan fiskal.
Penanganan banjir menghasilkan progress yang signifikan. Selama satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar, telah mengentaskan wilayah genangan banjir rob seluas 230,98 hektare. Pada 2024 wilayah genangan berada di 3,29 persen dan tahun 2025 turun menjadi 2,71 persen.
Pemeliharaan jalan kota sepanjang kurang lebih 25,8 km. Pemeliharaan 56 saluran kota dan sungai. Pemeliharaan median. Penanganan Jembatan Srondol-Sekaran, dan pemeliharaan jalur pedestrian.


















