Soroti Jokes Panji, Peneliti Bahasa: Humor Bisa Buat Perlawanan

- Gaya humor representasikan kedewasaan pemerintah
- Humor emang sering diselipkan nuansa politis
- Humor ditulis dari skrip asumsi, pengetahuan dan kegelisahan
Semarang, IDN Times - Sejumlah akademisi menyoroti jokes yang ditampilkan Panji Pragiwaksono di acara Mens Rea.
Dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea di Jakarta, Pandji mengkritik sejumlah pihak, tidak terkecuali Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Seorang peneliti linguistik atau tata bahasa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) Rahmat Petuguran menuturkan setiap humor tak cuma mengundang gelak tawa. Melainkan juga bisa memunculkan nuansa politis.
"Humor bisa digunakan oleh penguasa untuk memperkuat dominasi dan hegemoni, tetapi juga bisa digunakan masyarakat tertindas untuk melakukan perlawanan. Bentunya bisa beragam, dari satir, parodi, sampai anekdot,” kata Rahmat dalam keterangan yang diterima IDN Times, Minggu (11/1/2026).
Table of Content
1. Gaya humor representasikan kedewasaan pemerintah

Ia menilai wajar jika Pandji menggunakan humor sebagai bentuk kritik sosial. Selain punya keunggulan emosional, humor jadi alat kritik paling cerdas karena juga punya bobot estetik dan intelektual.
“Pilihan dan gaya humor merepresentasikan kecerdasan penggunanya. Di sisi lain, sikap dan respons penguasa terhadap humor akan membuktikan kecerdasan dan kedewasaan pemerintah sebagai target kritik,” katanya.
2. Humor emang sering diselipkan nuansa politis

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Rahmat menjelaskan bahwa penggunaan humor sebagai alat politik dapat ditemukan di berbagai kebudayaan dan era kekuasaan.
Sifat politis humor ditemukan Rahmat dalam berbagai era humor di Indonesia. Bahkan humor yang bernuansa politis kerap muncul di setiap lawakan ketoprak, ludruk dan masih banyak lagi.
"Dari humor tradisi seperti ketoprak, lenong, dan ludruk, hingga humor modern dan digital berbentuk komedi tunggal (stand up comedy) dan sketsa," ungkapnya.
3. Humor ditulis dari skrip asumsi, pengetahuan dan kegelisahan

Ia bilang, humor bersifat politis karena diciptakan dari latar belakang sosial-budaya yang juga politis. Seperti produk bahasa atau produk sastra lain.
Selain itu, humor bisa timbul dari kegelisahan dan intensi penciptanya. Kegelisahan tersebut diekspresikan secara kreatif dengan skrip yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, dan kejutan.
“Humor biasanya ditulis dalam beberapa jenis skrip. Skrip tersebut dikembangkan dari asumsi, pengetahuan umum, dan kegelisahan bersama. Kalau tidak ada ketiga hal itu, humor tidak akan efektif karena nggak relate dengan penikmatnya,” paparnya.
4. Rahmat pernah kulik nuansa humor para presiden

Ketika digunakan dalam komunikasi antar pribadi, lanjut Rahmat, humor tetap bersifat politis.
Misalnya, ada humor etnik yang cenderung mendeskreditkan etnik tertentu, ada humor seksis yang menjadikan Perempuan sebagai bahan lelucon, sampai humor politik yang menjadikan tokoh politik sebagai target.
“Humor tidak pernah hanya menjadi candaan. Justru ketika humor diklaim sebagai sekadar candaan, hanya guyon, atau just kidding, sifat politisnya justru makin tampak. Klaim itu sengaja dipakai supaya. Sifat politis humor tidak hanya satu arah. Sebagai salah satu genre wacana, selama ini humor digunakan oleh pihak yang berkuasa dan pihak pengkritik kekuasaan," cetusnya.
Pada tahun 2024, Rahmat pernah meneliti humor presiden dan menemukan bahwa presiden seperti Sukarno, Gus Dur, SBY, dan Jokowi sama-sama memberdayakan humor untuk mencapai tujuan komunikasinya. Dari penelitian itu ditemukan bahwa Jokowi adalah Presiden yang paling produktif menggunakan humor agresif.
















