Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suara Hewan Berubah saat Malam Bediding di Jateng? Ini Arti Firasatnya
Kondisi Dieng saat berkabut di petang hari (IDN Times/Abraham Herdyanto)
  • Musim bediding di Jawa Tengah membuat suhu malam hari turun drastis akibat udara kering dan dingin dari Australia, memengaruhi perilaku hewan di sekitar rumah.
  • Suara jangkrik yang melambat menandakan suhu ekstrem, sementara lolongan anjing atau burung malam yang gelisah menunjukkan perubahan tekanan udara dan arah angin.
  • Tokek dan katak bersuara lebih lantang dari dalam rumah karena kondisi luar terlalu kering, sehingga mereka mencari tempat lembap untuk bertahan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times — Apakah kalian merasakan akhir-akhir ini udara di malam hingga subuh hari terasa jauh lebih dingin nan menusuk tulang? Yup, wilayah Jawa Tengah saat ini memang tengah dilanda fenomena alam tahunan yang dikenal dengan sebutan musim bediding. Udara kering dan dingin yang berembus dari Benua Australia sukses membuat suhu di malam hari merosot tajam.

Di tengah kesunyian malam yang membeku tersebut, pernahkah memperhatikan adanya perubahan suara atau perilaku hewan di sekitar rumah? Gonggongan anjing yang terdengar gelisah, suara jangkrik yang tiba-tiba melambat, atau pekikan burung malam yang tak biasa sering kali dikaitkan oleh masyarakat Jawa dengan berbagai firasat.

Bukan sekadar mitos, yuk simak 3 arti firasat perubahan suara hewan di sekitar rumah pada malam hari saat musim bediding yang memadukan ilmu titen lokal dan sains berikut ini, Lur!

1. Suara Jangkrik yang Melambat atau Tiba-Tiba Senyap adanya Firasat Suhu Ekstrem

Jangkrik (pixabay.com/federicomaderno)

Dalam tradisi lisan sebagian masyarakat, suasana malam yang mendadak senyap tanpa suara jangkrik sering kali dianggap sebagai firasat atau pertanda adanya makhluk astral yang sedang lewat di dekat rumah. Namun, jika ini terjadi di musim bediding, alam sebenarnya sedang memberikan alarm taktis lain.

Jangkrik adalah hewan ektotermik (berdarah dingin) yang aktivitas tubuhnya sangat bergantung pada suhu lingkungan. Kecepatan mereka mengerik (chirping rate) berbanding lurus dengan suhu udara.

Jika suara jangkrik di pekarangan rumah terdengar melambat secara drastis atau bahkan mendadak senyap sama sekali, itu adalah firasat akurat bahwa suhu udara malam itu telah menyentuh titik terendahnya (sangat dingin). Hewan ini memilih bersembunyi di rongga tanah terdalam untuk menghemat energi tubuh mereka.

2. Lolongan Anjing atau Burung Malam yang Gelisah adalah Firasat Perubahan Angin

ilustrasi kebiasaan tingkah anjing (pexels.com/www.kaboompics.com)

Suara lolongan anjing liar yang panjang atau desau burung hantu yang terdengar tidak keruan di tengah malam sering kali memicu bulu kuduk berdiri. Banyak yang meyakini hal tersebut sebagai firasat buruk atau sasmita gaib.

Secara biologis, hewan mamalia dan burung malam memiliki sensitivitas indra yang jauh lebih tajam daripada manusia terhadap perubahan tekanan udara dan arah mata angin.

Saat musim bediding, angin bertiup kencang membawa udara kering yang dingin. Perubahan drastis ini membuat hewan-hewan malam merasa tidak nyaman dan gelisah mencari tempat berlindung yang lebih hangat di sekitar atap atau teras rumah. Lolongan atau suara berisik mereka adalah bentuk komunikasi tanda bahaya cuaca buruk antar-sesama koloninya.

3. Suara Tokek atau Katak yang Lebih Lantang di Dalam Rumah yakni Firasat Kemarau Kering

ilustrasi tokek (unsplash.com/Oleksandr Sushko)

Pernahkah Sedulur menyadari di musim bediding seperti sekarang, suara tokek atau katak justru sering terdengar lebih keras dari dalam area rumah, seperti dari kamar mandi atau gudang belakang, ketimbang dari luar pekarangan?

Area luar rumah saat musim bediding berubah menjadi sangat kering karena ketiadaan hujan dan kelembapan udara yang merosot bebas. Hewan amfibi dan reptil kecil membutuhkan area lembap agar kulit mereka tidak mengering.

Bunyi lantang mereka dari dalam rumah adalah firasat nyata bahwa kondisi alam di luar sudah terlampau gersang dan dingin. Mereka terpaksa bermigrasi masuk ke sudut-sudut hunian manusia demi bertahan hidup mencari sisa-sisa kehangatan dan pasokan air.

Nah, itulah 3 arti firasat perubahan suara hewan di sekitar rumah saat musim bediding tengah melanda Jawa Tengah. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan dan membuat Sedulur tidak lagi cemas saat mendengar suara-suara unik di malam hari. Tetap jaga kesehatan di tengah udara dingin ini dan salam hangat, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article