Demak, IDN Times – Sastra kontemporer Indonesia yang selama ini lebih banyak dikenal melalui buku, kini hadir dalam bentuk pertunjukan teater di lingkungan sekolah. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang tergabung dalam Teater Shankara mementaskan adaptasi novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan di SMA Negeri 1 Mranggen, Demak.
Teater Shankara UPGRIS Pentaskan 'Cantik Itu Luka' di SMAN 1 Mranggen

1. Bagian dari tugas akhir mata kuliah pragelar teater
Pementasan itu disaksikan ratusan siswa, guru, kepala sekolah, serta perwakilan dosen UPGRIS. Kegiatan ini menjadi bagian dari tugas akhir mata kuliah pragelar teater sekaligus upaya memperkenalkan karya sastra kontemporer Indonesia kepada pelajar melalui media pertunjukan.
Mengangkat novel yang dikenal memiliki alur kompleks serta sarat kritik sosial dan sejarah menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa. Namun, Teater Shankara berhasil mengalihwahanakan cerita tersebut menjadi pertunjukan yang lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan pesan utamanya.
Tokoh Dewi Ayu beserta perjalanan hidup keluarganya dihadirkan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan berbagai peristiwa sejarah Indonesia, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga situasi pasca kemerdekaan. Melalui pementasan itu, penonton diajak melihat bagaimana kecantikan dalam cerita justru berubah menjadi simbol tragedi akibat kekuasaan, kekerasan, dan keserakahan manusia.
Sutradara pementasan, Nur Hidayah mengatakan, pemilihan Cantik Itu Luka bertujuan menghadirkan pengalaman baru bagi siswa dalam menikmati karya sastra Indonesia.
2. Cantik Itu Luka bukan sekadar cerita drama
“Kami ingin memberikan suguhan yang berbeda untuk adik-adik di SMAN 1 Mranggen. Cantik Itu Luka bukan sekadar cerita drama, tetapi refleksi sejarah dan kritik sosial yang kuat. Kami berharap pementasan ini dapat memicu minat baca mereka terhadap karya-karya sastra Indonesia,” ujarnya.
Kepala SMAN 1 Mranggen, Puji Ningrum menilai, pertunjukan tersebut menghadirkan metode pembelajaran sastra yang lebih interaktif dibandingkan pembelajaran di kelas.
”Menjadi media pembelajaran apresiasi sastra secara langsung yang interaktif dan menghibur. Mempererat hubungan kemitraan dengan perguruan tinggi, khususnya UPGRIS, dalam pengembangan literasi dan seni budaya,” katanya.
Respons positif juga datang dari para siswa. Ketua OSIS SMAN 1 Mranggen, Najmi mengaku, pementasan membuat cerita yang sebelumnya hanya dikenalnya melalui sinopsis menjadi lebih mudah dipahami.
3. Perluas akses pelajar terhadap karya sastra Indonesia
"Luar biasa sekali akting kakak-kakak Teater Shankara dari UPGRIS. Selama ini kami hanya tahu judul bukunya atau sekadar membaca sinopsis di internet. Begitu melihat visualisasinya dalam bentuk drama teater, ceritanya jadi jauh lebih hidup dan emosional," ungkapnya.
Dosen pengampu mata kuliah Drama PBSI UPGRIS, Dr. Ahmad Ripai, M.Pd. menyebut, pertunjukan di sekolah memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa sekaligus memperluas akses pelajar terhadap karya sastra Indonesia.
Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya melatih kemampuan artistik dan keaktoran mahasiswa di ruang publik, tetapi juga memperlihatkan bahwa perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam membangun budaya literasi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
Acara pementasan ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara pemain drama, sutradara, dan para siswa mengenai proses kreatif pengalihwahanaan novel ke dalam bentuk naskah teater, diikuti dengan foto bersama.