Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Teknologi Pemanas Hibrida Ubah Cara Warga Brebes Keringkan Rumput Laut

Kab. Brebes
Teknologi Pemanas Hibrida Ubah Cara Warga Brebes Keringkan Rumput Laut
Tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) menghadirkan teknologi pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. (dok. Undip)
  • Undip dan Unwahas menerapkan pengering rumput laut ruang tertutup bertenaga hibrida surya-biomassa di Desa Randusanga Kulon, Brebes, untuk menggantikan penjemuran terbuka.
  • Sistem dengan blower, fan exhaust, dan rak memangkas pengeringan dari sekitar 18 jam menjadi 8 jam serta melindungi rumput laut dari hujan, debu, hewan, dan kontaminasi.
  • Program SINERGI Kemendiktisaintek menggandeng PT Mutiara Global Industry dan mahasiswa untuk transfer teknologi, mendampingi warga, serta meningkatkan konsistensi mutu dan nilai ekonomi rumput laut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Brebes, IDN Times - Pemandangan rumput laut yang dijemur di pinggir jalan tambak maupun jalan desa mulai coba ditinggalkan pelaku usaha di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Bukan sekadar soal pemandangan, cara tersebut selama ini membuat kualitas hasil panen rumput laut sulit dikendalikan karena sangat bergantung pada cuaca dan rentan terpapar debu hingga kontaminasi lingkungan.

  1. 1. Hadirkan teknologi pengeringan rumput laut

    ilustrasi rumput laut (pixabay.com/Mollyroselee)
    ilustrasi rumput laut (pixabay.com/Mollyroselee)

    Persoalan itu mendorong tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) menghadirkan teknologi pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup.

    Teknologi yang diterapkan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis-SINERGI tersebut memanfaatkan sistem pemanas hibrida berbasis energi surya dan biomassa.

    Bukan hanya membuat proses pengeringan lebih bersih, teknologi ini juga diklaim mampu memangkas waktu pengeringan dari semula sekitar 18 jam menjadi 8 jam.

    Ketua Tim SINERGI Undip, Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., mengatakan, penerapan teknologi tersebut dirancang berdasarkan persoalan yang benar-benar dihadapi pelaku usaha di lapangan.

    “Teknologi ini tidak hanya untuk mempercepat proses pengeringan, tetapi juga membantu pelaku usaha menjaga kebersihan dan meningkatkan konsistensi kualitas produk rumput laut kering,” ujarnya.

  2. 2. Tak lagi bergantung pada terik matahari

    Petani rumput laut (dok. BANYU)
    Petani rumput laut (dok. BANYU)

    Selama ini, penjemuran terbuka membuat pelaku usaha harus bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan turun atau intensitas matahari berkurang, proses pengeringan dapat terganggu dan waktu produksi menjadi lebih panjang.

    Sistem yang diterapkan Undip dan Unwahas mencoba memutus ketergantungan tersebut. Rumput laut dikeringkan di dalam bangunan tertutup menggunakan energi surya sebagai sumber panas utama. Ketika panas matahari tidak mencukupi, energi biomassa digunakan sebagai sumber panas pendukung.

    Sirkulasi udara panas di dalam ruang pengering dibantu blower dan fan exhaust agar distribusi panas lebih merata. Rumput laut juga diletakkan di atas rak sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah maupun lantai.

    Desain tersebut membuat proses pengeringan lebih terlindung dari hujan, debu, hewan, dan sumber cemaran lain. Hasil akhirnya diharapkan bukan hanya rumput laut yang lebih cepat kering, tetapi juga produk dengan kualitas lebih seragam.

  3. 3. Riset perguruan tinggi tidak berhenti sebagai purwarupa

    undip, rumput laut, inovasi
    Tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) menghadirkan teknologi pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. (dok. Undip)

    Penerapan teknologi ini merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis-SINERGI, khususnya skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi yang dijalankan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

    Undip dan Unwahas menggandeng PT Mutiara Global Industry melalui skema co-funding, co-contribution, dan co-creation. Kolaborasi tersebut diarahkan agar riset perguruan tinggi tidak berhenti sebagai purwarupa atau hasil penelitian di laboratorium, tetapi bisa menjawab persoalan produksi yang dihadapi pelaku usaha.

    Desa Randusanga Kulon dipilih karena memiliki potensi budidaya rumput laut yang masih dapat dikembangkan, terutama pada tahap pascapanen.

    Dalam prosesnya, mahasiswa dari jenjang Sarjana, Magister, hingga Doktor Teknik Kimia turut dilibatkan. Mereka tidak hanya mempelajari teknologi, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam pengoperasian sistem pengeringan dan mengamati penerapannya secara langsung.

    Tim SINERGI dipimpin Prof. Dr. Moh. Djaeni dengan anggota Prof. Aji Prasetyaningrum, S.T., M.Si.; Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., dari Teknik Kimia; serta Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si., dari FPIK UNDIP.

    Sementara itu, tim Unwahas terdiri atas Dr. Laeli Kurniasari, S.T., M.T., dan Agung Nugroho, S.T., M.T., yang memiliki latar belakang keilmuan Teknik Kimia dan Teknik Mesin.

  4. 4. Tingkatkan daya saing produk rumput laut warga

    Petani rumput laut (dok. BANYU)
    Petani rumput laut (dok. BANYU)

    Perubahan metode pengeringan menjadi tahap penting untuk meningkatkan daya saing produk rumput laut warga.

    Produk yang lebih bersih, kering merata, dan memiliki kualitas lebih konsisten memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang membutuhkan bahan baku dengan standar mutu tertentu.

    Karena itu, teknologi pengeringan tidak berhenti pada persoalan memangkas waktu produksi. Ada target yang lebih besar, yakni meningkatkan kualitas pascapanen sehingga rumput laut kering memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

    Penerapan sistem hibrida surya-biomassa di Randusanga Kulon pun menjadi contoh bagaimana riset perguruan tinggi bisa ditarik lebih dekat ke persoalan ekonomi masyarakat pesisir.

    Jika sebelumnya warga harus mempertaruhkan kualitas hasil panen di bawah terik matahari dan paparan lingkungan terbuka, kini mereka mulai memiliki alternatif pengeringan yang lebih terkendali.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More