Semarang, IDN Times - Pemkot Semarang berencana menata ulang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang pada tahun 2027. Upaya ini untuk mengantisipasi kebakaran berulang, termasuk yang dipicu penumpukan gas metana.
TPA Jatibarang Bakal Ditata Ulang 2027, Pemkot Semarang Siapkan Ahli

Take a Deeper Read
1. Rancang sistem pengelolaan kawasan yang lebih aman
Dalam penataan tersebut, pemkot akan melibatkan konsultan dan tenaga ahli untuk merancang sistem pengelolaan kawasan yang lebih aman.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, penataan ulang diperlukan karena kondisi zona-zona di TPA Jatibarang berubah akibat kebakaran. Perencanaan tersebut akan melibatkan ahli lanskap, lindi, dan kimia, serta diupayakan mendapat pendampingan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
“Di tahun 2027 akan dicari konsultan. Syukur-syukur sudah bisa didampingi dengan teman-teman di Kementerian Lingkungan Hidup sehingga itu bisa dilakukan secara terintegrasi,” ungkapnya, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, penataan tersebut diharapkan menghasilkan sistem yang memungkinkan petugas menangani potensi kebakaran dengan lebih cepat. Salah satu kebutuhan yang disiapkan adalah perangkat untuk mengalirkan gas metana ke atas melalui sistem saluran gas.
‘’Langkah itu membutuhkan perencanaan dan keahlian khusus agar sistem mitigasi bisa bekerja ketika kebakaran kembali terjadi,’’ sambungnya.
2. Metode pemadaman diubah
Dalam upaya rencana penataan jangka panjang, Pemkot Semarang masih memantau proses pendinginan TPA Jatibarang pasca kebakaran. Hujan yang mengguyur kawasan tersebut pada Kamis (8/10/2026) malam turut membantu proses pendinginan.
Berdasarkan pemantauan drone termal pada Jumat (9/10/2026) pukul 05.00 WIB, suhu rata-rata area TPA berada di kisaran 25–30 derajat Celsius. Meski demikian, masih ditemukan titik asap kecil di dua lokasi yang perlu ditangani.
Agustina menjelaskan, penanganan di lapangan kini dilakukan dengan mengurai gundukan material panas, kemudian memindahkan dan menyebarkannya agar proses pendinginan lebih efektif.
Metode tersebut melibatkan tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pemadam Kebakaran, serta perangkat daerah terkait. Pendekatan ini berbeda dari penanganan pada hari-hari awal kebakaran, ketika titik yang telah dipadamkan berpotensi kembali menyala di lokasi lain.
3. Keselamatan petugas yang berjaga di TPA jadi perhatian
Selain memastikan titik panas terkendali, Agustina menyoroti keselamatan petugas yang berjaga di kawasan TPA Jatibarang. Ia meminta petugas tidak memaksakan diri terus bekerja dan perlu mendapat giliran istirahat.
Menurutnya, semua personel yang bertugas di lokasi memiliki potensi terdampak kondisi lingkungan pasca kebakaran. Petugas yang mengalami gangguan juga telah diarahkan ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, hasil pengukuran kualitas udara pada 8 Oktober 2026 menunjukkan kadar PM2,5 dan PM10 di sejumlah fasilitas publik berada di bawah Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan (SBMKL). Pengukuran dilakukan di antaranya di SMAN 7 Semarang, Puskesmas Purwoyoso, Puskesmas Ngaliyan, dan permukiman Kelurahan Ngemplak Simongan.
Meski hasil pengukuran tersebut menunjukkan kondisi yang membaik di titik-titik pemantauan, pengawasan kualitas udara dan penyisiran titik asap tetap dilanjutkan.
Agustina berharap hujan membantu mempercepat pendinginan. Namun, ia menegaskan pemantauan harus terus dilakukan sampai seluruh titik asap benar-benar padam.
Curated For You
- Mengendus Harumnya Bisnis Nilam Indonesia yang Terbang ke Luar Negeri03 Oct 2026, 10:00 WIB
- Perkembangan Kebakaran TPA Jatibarang, Area Api Susut Sisa 0,16 Hektare07 Oct 2026, 18:26 WIB
- 17 Politisi hingga Pakar Bicara soal Ambang Batas Parlemen29 Sep 2026, 12:44 WIB
- 2,5 Hektare Area TPA Jatibarang Masih Membara, Pasokan Air Disiagakan05 Oct 2026, 15:26 WIB