Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tren Healing ke Gunung: Beneran Efektif Redakan Stres atau Cuma Sekadar FOMO?
ilustrasi persiapan naik gunung (dok. pribadi/Intan Deviana)
  • Naik gunung terbukti secara klinis menurunkan hormon stres lewat perpaduan terapi ruang terbuka hijau dan pelepasan hormon kebahagiaan.

  • Berada di alam bebas memaksa kita melakukan detoks digital alami, yang ampuh mengistirahatkan otak dari kecemasan dunia maya.

  • Niat healing bisa berubah jadi petaka kalau motivasimu sekadar FOMO demi konten, yang justru bikin abai pada keselamatan dan memicu stres baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Naik gunung bisa membuat orang lebih tenang. Pohon hijau dan olahraga saat mendaki dapat membantu mengurangi stres. Di gunung, sinyal ponsel juga sering hilang, jadi otak bisa istirahat. Tapi kalau naik gunung cuma ikut-ikutan demi foto, orang bisa malah cemas dan lupa membawa alat keselamatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Buka media sosial di akhir pekan, pasti ada saja teman yang pamer foto aesthetic di atas awan dengan caption tentang healing. Melihat tren naik gunung yang makin menjamur di kalangan anak muda ini, kadang bikin kita bertanya-tanya: beneran seampuh itu buat melepas penatnya rutinitas kota, atau jangan-jangan cuma sekadar ikut-ikutan alias Fear of Missing Out (FOMO)?

Faktanya, Sobat, dari kacamata sains dan psikologi, healing ke gunung itu bukan sekadar mitos atau tren semu belaka. Kalau dilakukan dengan benar, aktivitas ini adalah bentuk terapi fisik dan mental yang sangat komprehensif. Tapi awas, niat yang salah malah bisa bikin liburanmu jadi sumber stres baru! Yuk, bedah alasan ilmiah kenapa gunung bisa jadi pelarian terbaikmu, dan kapan tren ini berubah jadi jebakan FOMO.

1. Terapi "Green Exercise" Penurun Stres

ilustrasi naik gunung (dok. pribadi/Intan Deviana)

Berada di alam terbuka yang didominasi warna hijau bukan cuma menyejukkan mata. Penelitian dalam psikologi lingkungan membuktikan bahwa aktivitas di alam secara signifikan mampu menurunkan hormon kortisol alias hormon pemicu stres di tubuh kita.

Lebih kerennya lagi, berada di sekitar pepohonan lebat akan memaparkan tubuhmu pada phytoncides. Ini adalah senyawa organik dari tanaman yang secara ajaib mampu meningkatkan sistem imun tubuh manusia agar tidak gampang sakit setelah lelah bekerja sepekan penuh.

2. Nikmatnya Detoks Digital Alami

Ilustrasi anak muda naik gunung. (IDN Times/Ni Ketut Sudiani)

Di gunung, kamu akan dipaksa untuk berpisah dengan layar ponsel karena sinyal yang terbatas atau bahkan hilang total. Momen tanpa koneksi internet ini justru menjadi kemewahan tersendiri yang jarang kita dapatkan di kota.

Hilangnya sinyal ini bertindak sebagai detoks digital alami yang memaksa otak untuk benar-benar beristirahat. Kamu terbebas sejenak dari rentetan notifikasi kerjaan, email bos, hingga paparan perbandingan sosial di media sosial yang sering jadi akar kecemasan (anxiety) manusia modern.

3. Merasakan Keajaiban Efek Psikologis "Awe"

Ilustrasi wisatawan naik gunung (unsplash.com/toomastartes)

Pernah merasa merinding saat melihat matahari terbit perlahan menyinari lautan awan dari atas puncak? Secara psikologis, pemandangan megah ini memicu emosi yang disebut awe, yakni sebuah perasaan takjub yang sangat mendalam.

Perasaan takjub ini secara instan akan membuat manusia merasa kecil. Efeknya, ego kita ikut mereda, kekhawatiran berlebih perlahan luntur, dan masalah-masalah pribadi yang tadinya terasa sangat berat di kepala tiba-tiba terlihat sepele jika dibandingkan dengan luasnya semesta.

4. Banjir Hormon Kebahagiaan dari Olahraga Fisik

Ilustrasi outfit naik gunung wanita (Dok.Pribadi/Natalia Indah)

Mendaki gunung jelas bukan aktivitas rebahan; butuh tenaga ekstra dan fisik yang prima. Tapi tahukah kamu, aktivitas fisik yang berat ini justru memicu otak untuk melepaskan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami sekaligus penenang suasana hati.

Selain itu, tubuh juga akan memproduksi serotonin, yakni hormon yang bertugas meregulasi mood dan siklus tidur. Perpaduan hormon inilah yang bikin kamu tetap merasa bahagia dan tersenyum lebar meskipun otot kaki terasa mau rontok setelah berjam-jam menanjak.

5. Awas Petaka FOMO Berkedok Healing!

Ilustrasi naik gunung (unsplash.com/Holly Mandarich)

Semua manfaat klinis di atas akan langsung hangus kalau niat dasarmu murni karena FOMO. Tanda paling jelasnya: kamu merasa cemas kalau gagal mengambil foto yang estetik untuk diunggah, atau malah terus-terusan mengeluhkan cuaca buruk dan medan yang berat karena kaget melihat realita yang tak seindah video di TikTok.

Lebih parahnya lagi, pendaki FOMO biasanya sangat mengabaikan persiapan fisik dan logistik. Meremehkan peralatan keselamatan hanya demi terlihat keren tidak akan memberimu ketenangan mental, melainkan mengancam nyawamu sendiri dan merepotkan orang lain.

Naik gunung nyatanya akan menjadi obat stres yang sangat manjur jika kamu mau benar-benar menikmati proses perjalanannya, bukan cuma berfokus pada puncak dan jumlah likes di Instagram. Lepaskan ekspektasi, rasakan pijakan kakimu, dan izinkan dirimu terhubung kembali dengan alam.

Gimana nih, pernah nggak sih kamu menjumpai pendaki yang sibuk ngomel di jalur cuma gara-gara gagal bikin konten aesthetic? Share pengalaman mendakimu yang paling berkesan di kolom komentar, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article