Yah! Jumlah Durian yang Dipanen di Jateng Merosot Akibat Diguyur Hujan Lebat

Semarang, IDN Times - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah menyebutkan hasil panen durian selama empat bulan belakangan ini tidak begitu menggembirakan. Pasalnya, pohon durian yang biasanya menghasilkan banyak buah saat musim panen, justru kondisinya rata-rata di kabupaten/kota menurun.
1. Rasa manis durian juga berkurang 40 persen

Kabid Holtikultura Distanbun Jateng, Ani Mulyani mengatakan, secara keselamatan hasil panen durian yang tersebar hampir seluruh daerah mengalami kendala karena saat musim panen juga berbarengan dengan puncak musim hujan.
"Karena rata-rata pas panennya bersamaan dengan cuaca ekstrem terutama hujan deras yang sering terjadi setiap hari, maka akibatnya tingkat kemanisan durian juga ikut berkurang. Ya kadar kemanisan durian yang dipanen akhir tahun kemarin sampai awal tahun ini berkurang 40 persen. Kalau untuk jumlah buah yang dipanen otomatis tidak sebanyak tahun lalu. Kira-kira ada penurunan 10 persen," kata Ani saat dikonfirmasi IDN Times, Jumat (3/3/2023).
2. Para petani Ngargoyoso tetap bisa panen durian lokal

Ani menjelaskan sentra penghasil durian selama ini letaknya ada di kabupaten di dataran tinggi atau pegunungan. Ketika memantau proses panen, dirinya juga berpeluang menyambangi sentra durian di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.
Di Kecamatan Ngargoyoso, katanya, buah durian yang dihasilkan benar-benar kualitas lokal. Namun citarasanya merupakan unggulan karena memiliki kemanisan yang tinggi serta daging yang relatif tebal.
Ia pun memuji panen durian yang dikerjakan para petani Ngargoyoso karena mampu mempertahankan kualitas durian lokal sehingga tetap bisa bersaing dengan buah durian impor macam montong.
“Yang di Ngargoyoso itu emang kebetulan duriannya varietas lokal. Manisnya sangat terasa mantap, buahnya tebal, walaupun ciri durian lokal kan buahnya kecil. Tapi saya rasa dari kualitas rasanya gak kalah sama montong. Malahan rasanya lebih mantap yang lokalan,” akunya.
3. Ada 2,1 juta durian yang dipanen tahun 2022 dan awal 2023

Lebih lanjut, berdasarkan catatan laporan panen produk holtikultura Jateng, jumlah pohon durian yang mengalami masa panen sebanyak 1.241.246 batang. Sementara untuk buah durian yang berhasil dipetik para petani mencapai 2.118.982 buah.
Tercatat komoditas holtikultura unggulan selama ini yaitu buah durian, jeruk, alpukat, kelengkeng, manggis, mangga, salak dan pisang.
4. Durian lokal tetap diminati warga

Diakuinya bahwa durian lokal selama ini tetap memiliki penggemarnya sendiri karena jumlah peminatnya yang tinggi. Di Jateng, selain Ngargoyoso, sentra durian di Banyumas juga menghasilkan durian lokal yang bernama bawor.
"Kalau di Banyumas kan ada bawor yang selama ini populer. Terus Semarang ada durian khasnya Gunungpati, terus di Mijen ada yang namanya durian Yuyem. Nah yang wilayah Jepara ini, dari dulu ada durian petruk. Cuman makin jarang ditemukan masyarakat," ucap Ani.
Ia bilang jumlah pohon yang menghasilkan petruk durian semakin sedikit karena kemungkinan bibit yang dibudidayakan jumlahnya terbatas.
“Kalau orang ke Jepara pas panen durian, sudah jarang menemukan yang varietas petruk. Padahal itu dikenal khasnya Jepara. Mungkin aja pohonnya tinggal sedikit,” akunya.
Terpisah, Pejabat Pengendali Ekosistem Hutan Muda, BKSDA Jateng, Budi Ambong berkata, kalau dilihat penampilan fisiknya, petruk durian bisa dikenal dari bentuknya yang lonjong memanjang.
Lalu pada bagian kulitnya, durian petruk agak tipis dibanding durian pada umumnya. “Rasanya durian petruk dominan pahit manis, dagingnya tebal, bijinya gepeng atau kecil. Bentuk buahnya cenderung memanjang. Konon dulu varietas ini dibawa ke Thailand dan sukses dibudidayakan dengan nama montong,” kata pria yang akrab disapa Ambong tersebut.
5. Populasi pohon durian petruk semakin jarang

Ciri khas lainnya pada durian petruk ialah daging buahnya yang berwarna kuning, berserat halus, agak lembek tetapi aromanya tidak begitu tajam atau menyengat.
Durian petruk juga memiliki ujung duri yang meruncing dan tidak membulat seperti durian yang beredar di pasaran. "Aslinya kan itu punya Pak Petruk di Desa Tahunan Jepara. Mungkin masih ada, tapi karena pupulasinya sedikit maka jarang ada di pasaran," paparnya.
Ia yang menjadi Kepala KPHK Pati Barat mengemukakan kalau populernya nama durian petruk kerap disalahgunakan para penjual durian di Jepara demi meraup keuntungan saat masa panen. Contohnya, ada beberapa akun Facebook yang memasang ikan penjualan durian petruk namun kebenarannya masih diragukan.
"Belum pernah nemu belakangan ini. Pernah nemu lima tahun yang lalu. Durian petruk memang sudah jarang terlihat di penjaja durian Jepara. Ada beberapa lapak jualan durian, di Facebook bilang durian petruk tapi belum tahu juta itu beneran petruk atau bukan," ujar Ambong.


















