NPC dan Kemenpora Kolaborasi Cetak Pelatih Atlet Disabilitas

- NPC Indonesia dan Kemenpora meluncurkan program ToT Penggerak Olahraga Disabilitas ‘BERDAYA’ di Karanganyar untuk mencetak pelatih dan memperkuat pembinaan atlet disabilitas di seluruh Indonesia.
- Menpora Erick Thohir menegaskan program ini akan berkelanjutan dengan penambahan peserta tiap tahun, guna memperluas jaringan pelatih berkualifikasi bagi pengembangan atlet disabilitas nasional.
- Kejaksaan Agung mendukung pembinaan lewat aplikasi JAGAIN yang memantau data dan perkembangan atlet disabilitas secara terintegrasi dari daerah hingga tingkat nasional.
Karanganyar, IDN Times - National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) mengapresiasi langkah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menggelar program Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk “BERDAYA”. Program ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembinaan atlet disabilitas di berbagai daerah di Indonesia.
Kick off program tersebut digelar di Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia (PPPI) Delingan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (11/5/2026). Sebanyak 200 peserta dari 29 provinsi mengikuti pelatihan yang berlangsung hingga 12 Mei 2026 di PPPI Delingan dan Hotel Solia Zigna Solo.
Para peserta merupakan pelaku olahraga disabilitas terpilih yang dipersiapkan menjadi penggerak olahraga di daerah masing-masing, termasuk mendeteksi dan membina calon atlet potensial.
1. Pembinaan Atlet Disabilitas Dinilai Sangat Strategis

Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun, mengatakan program ToT Penggerak Olahraga Disabilitas memiliki arti penting bagi perkembangan olahraga disabilitas nasional. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya mencetak prestasi, tetapi juga membuka akses pembinaan yang merata bagi penyandang disabilitas.
“Kegiatan ini memiliki arti yang sangat strategis bagi NPC Indonesia. Selama ini kita memahami bahwa tantangan terbesar pembinaan olahraga disabilitas bukan hanya soal kompetisi atau prestasi, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran akses dan kesempatan yang merata bagi penyandang disabilitas di Indonesia,” kata Senny Marbun dalam sambutannya.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap olahraga disabilitas yang dinilai semakin besar dalam beberapa tahun terakhir.
“Kita tahu itu sulit, tetapi tidak ada yang sulit jika kita mau, karena Indonesia sudah luar biasa saat ini, sudah bergerak maju. Kita berterima kasih kepada bapak Menpora Erick Thohir, baru pertama kali diselenggarakan untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya,” lanjut Senny Marbun.
Senny berharap peserta yang mengikuti pelatihan bisa benar-benar menjadi penggerak olahraga disabilitas di daerah masing-masing.
“Saya berharap teman-teman yang ikut pendidikan ini jangan cuma sekadar ikut, tetapi lakukan yang terbaik di daerahnya masing-masing. Masih banyak anak-anak disabilitas Indonesia yang memiliki potensi besar, namun belum mendapatkan ruang pembinaan yang tepat,” tutur Senny.
2. Menpora pastikan program digelar berkelanjutan.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora RI), Erick Thohir, mengatakan program ToT Penggerak Olahraga Disabilitas tidak akan berhenti pada satu kegiatan saja. Pemerintah berencana menambah jumlah peserta dan memperluas program secara bertahap.
“Untuk menciptakan banyak atlet, perlu yang namanya pelatih. Tidak mungkin pembangunan atlet dari daerah tidak dikawal figur-figur yang mengerti bagaimana cara melahirkan atlet. Alhamdulillah, hari ini kita coba akan mensertifikasi, agar mereka kembali ke daerah menjadi kualifikasi, diterima untuk menjadi pakar kepelatihan,” tutur Erick Thohir.
“Saya tahu jika 200 orang ini saja tidak cukup, kita akan coba nanti tambah 100 lagi dan kalau bisa setiap tahun akan terus bertambah. Semakin banyak pelatih akan semakin bagus, karena jumlah atlet akan semakin banyak,” lanjutnya.
Erick menyebut jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,9 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 11 persen sudah aktif berolahraga sehingga diperlukan sistem pembinaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Ini sebuah program yang benar-benar pakai hati. Kita akan terus dorong, apalagi bapak presiden di Asta Cita-nya sangat peduli dengan disabilitas,” ungkap Erick Thohir.
3. Pengembangan atlet dibantu aplikasi.

Program pembinaan atlet disabilitas juga akan diperkuat melalui aplikasi JAGAIN atau Jaksa Garda Inklusi yang dikembangkan Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Aplikasi ini digunakan untuk mendata atlet aktif hingga pensiun di seluruh Indonesia sekaligus memantau program pembinaan di tiap daerah.
Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani, mengatakan sistem tersebut memungkinkan pemantauan atlet dilakukan secara terintegrasi.
“Dengan metode data base ini harapannya kita bisa melihat atlet-atlet mana yang muncul ataupun yang pensiun. Di sistem ini juga ada metode pra pelatihan jarak jauh. Jadi, apa yang dilatih di daerah masing-masing bisa terkoneksi langsung ke NPC Indonesia. Para pelatih sampai ketua umum bisa memantau perkembangan atlet disabilitas di setiap daerah,” ucap Reda Manthovani.

















