MRE Dinilai Jadi Solusi Konsumsi Jemaah Haji Masa Depan

- Makanan siap saji (MRE) dinilai jadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji di tengah mobilitas tinggi, terutama saat beribadah di Masjidil Haram dan fase Armuzna.
- Puspo Wardoyo menilai layanan konsumsi haji akan semakin berbasis teknologi dengan standar industri modern, menjadikan Indonesia pelopor penggunaan MRE bagi jemaah haji dunia.
- Pemerintah menyiapkan tiga juta paket makanan siap santap untuk sekitar 200 ribu jemaah selama enam hari puncak ibadah, guna mengatasi kepadatan distribusi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Surakarta, IDN Times - Makanan siap saji atau Meal Ready to Eat (MRE) dinilai menjadi salah satu terobosan penting dalam pelayanan haji Indonesia di Arab Saudi. Selain memudahkan distribusi konsumsi di tengah tingginya mobilitas jemaah, makanan siap saji juga membantu memastikan kebutuhan pangan jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan rangkaian ibadah, terutama pada masa puncak haji.
Pemanfaatan MRE semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya jumlah jemaah dan kompleksitas layanan haji setiap tahun. Produk makanan siap santap tersebut dinilai mampu menjawab berbagai tantangan distribusi konsumsi yang kerap muncul akibat kepadatan aktivitas jemaah maupun kondisi lapangan di Tanah Suci.
Owner PT Halalan Tayyiban (HATI), Puspo Wardoyo, mengatakan pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari berbagai pembenahan yang dilakukan pemerintah Arab Saudi, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga peningkatan kualitas pelayanan bagi jemaah.
“Kerja sama pemerintah Indonesia dan pemerintah Saudi berjalan sangat baik. Tahun ini saya melihat ada perubahan yang signifikan sehingga penyelenggaraan haji berjalan lebih lancar dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Puspo saat dihubungi melalui sambungan telepon dari Arab Saudi, Minggu (31/5/2026).
Ia menilai berbagai pembangunan yang dilakukan Arab Saudi di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina turut memberikan dampak positif terhadap kelancaran penyelenggaraan ibadah haji. Selain itu, aspek pelayanan konsumsi juga menjadi salah satu sektor yang terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
1. MRE Jadi Solusi Saat Jemaah Beribadah Seharian di Masjidil Haram.

Menurut Puspo, makanan siap saji telah terbukti menjadi solusi efektif bagi jemaah haji reguler maupun saat pelaksanaan puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Produk tersebut memberikan kemudahan karena dapat dibawa dan dikonsumsi kapan saja dan dimana saja tanpa harus bergantung pada jadwal distribusi makanan segar.
Ia menjelaskan tidak sedikit jemaah yang memilih menghabiskan waktu beribadah di Masjidil Haram sejak pagi hingga malam hari. Dalam kondisi tersebut, akses terhadap makanan terkadang menjadi tantangan karena jarak hotel yang cukup jauh, kepadatan lalu lintas, hingga keterlambatan distribusi konsumsi.
“Kalau membawa MRE, jemaah punya bekal dari rumah. Saat makanan hotel belum datang atau mereka tidak sempat kembali ke hotel karena macet dan cuaca panas, makanan siap saji bisa menjadi solusi,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan MRE membuat jemaah tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli makanan di sekitar area Masjidil Haram. Selain lebih praktis, makanan siap saji juga memastikan kebutuhan konsumsi jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah.
Puspo mengatakan konsep makanan siap saji telah digunakan dalam layanan haji Indonesia selama beberapa tahun terakhir dan menunjukkan hasil yang positif. Penggunaannya pun terus meningkat seiring kebutuhan layanan konsumsi yang semakin besar.
“Penyelenggaraan haji tahun ini menurut saya termasuk yang paling sukses, terutama dari sisi pelayanan. Salah satu yang paling menonjol adalah layanan konsumsi. Kehadiran makanan siap saji atau MRE terbukti menjadi solusi bagi berbagai kebutuhan jemaah selama pelaksanaan ibadah haji,” kata Puspo Wardoyo.
2. Dukungan Teknologi Jadi Kunci Pelayanan Haji Masa Depan.

Puspo menilai ke depan pelayanan konsumsi haji akan semakin mengarah pada sistem yang berbasis teknologi dan standar industri modern. Hal tersebut diperlukan mengingat jumlah jemaah yang terus bertambah setiap tahun sehingga membutuhkan sistem produksi dan distribusi pangan yang lebih efisien.
“Jumlah jemaah yang sangat besar membutuhkan dukungan teknologi dan industri pangan yang memenuhi standar produksi makanan yang baik. Ke depan arahnya pasti ke sana,” katanya.
Ia mengungkapkan penggunaan makanan siap saji Indonesia dalam layanan haji terus mengalami peningkatan. Tahun ini porsi penggunaannya mencapai sekitar 15 persen dan diperkirakan akan terus bertambah pada musim haji berikutnya.
Menurut Puspo, Indonesia menjadi salah satu negara pelopor dalam penerapan makanan siap saji bagi jemaah haji. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi rujukan bagi negara lain dalam mengembangkan sistem pelayanan konsumsi yang lebih efektif selama penyelenggaraan ibadah haji.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tujuan utama seluruh layanan haji adalah memberikan kenyamanan kepada para jemaah agar dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk tanpa dibebani persoalan kebutuhan dasar.
“Kalau tempat nyaman, transportasi lancar, makanan enak, praktis dan bergizi, jemaah tidak lagi memikirkan kebutuhan dasar mereka. Mereka bisa lebih fokus dan khusyuk beribadah,” tuturnya.
Puspo menilai kualitas layanan konsumsi memiliki peran penting dalam mendukung kenyamanan jemaah selama berada di Tanah Suci. Dengan kebutuhan makan yang terpenuhi secara baik, jemaah dapat lebih berkonsentrasi menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
“Haji tahun ini sangat sukses, terutama pada aspek pelayanan makanan. MRE terbukti menjadi solusi yang membantu jemaah dalam menjalankan ibadah haji,” ujar Puspo Wardoyo.
Ia pun menyimpulkan bahwa makanan siap saji akan menjadi bagian penting dalam pengembangan pelayanan haji pada masa mendatang.
“Intinya, MRE adalah solusi haji,” pungkasnya.
Di balik distribusi RTE tersebut, PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI) yang merupakan anak usaha Wong Solo Group menjadi salah satu pelopor penyedia makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia.
Selama empat tahun terakhir, perusahaan asal Solo itu telah mengirimkan total 5.342.606 produk makanan siap saji untuk kebutuhan haji. Seluruh produk PT HATI telah mengantongi sertifikasi halal dan standar ISO 22000. Makanan diproses menggunakan teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi sehingga memiliki masa simpan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin. Sehingga bebas pengawet dan tahan lama.
3. Pemerintah pilih makanan siap saji untuk hadapi kepadatan di Armuzna.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf, mengatakan pemerintah menyiapkan makanan siap santap (ready to eat/RTE) sebagai solusi pemenuhan konsumsi jemaah saat puncak pelaksanaan ibadah haji. Skema ini dipilih untuk mengantisipasi tingginya mobilitas jemaah yang berpotensi menghambat distribusi makanan segar, khususnya pada fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Irfan, pemerintah telah menyiapkan sekitar tiga juta paket makanan siap santap yang diperuntukkan bagi sekitar 200 ribu jemaah selama enam hari pelaksanaan ibadah haji. Makanan tersebut dipasok dari Indonesia dan didistribusikan untuk mendukung kebutuhan konsumsi jemaah selama fase dengan tingkat kepadatan tertinggi.
“Sebanyak 3 juta paket selama enam hari untuk sekitar 200 ribu orang. Penggunaannya pada tanggal 7 sampai 13 Zulhijah saat tahapan Armuzna karena trafik pergerakan jemaah sangat padat, sehingga digunakan RTE atau ready to eat,” kata Irfan.
Ia menjelaskan pemanfaatan makanan siap santap merupakan bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan teknologi dalam layanan konsumsi haji. Selain praktis dalam distribusi, makanan tersebut tetap dirancang memenuhi kebutuhan gizi dan standar keamanan pangan bagi jemaah.
Pemerintah juga memastikan seluruh makanan yang diberikan kepada jemaah, baik yang berasal dari dapur katering maupun makanan siap saji, telah melalui pengawasan sesuai standar yang berlaku.
Di sisi lain, pengiriman makanan siap saji dari Indonesia ke Arab Saudi semakin mudah dilakukan seiring adanya kerja sama antara kedua negara. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran penyediaan konsumsi sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia.

















