Puncak Waisak 2026, Ribuan Lampion Borobudur Bawa Doa Kedamaian

- Ribuan umat Buddha memperingati puncak Tri Suci Waisak 2570 BE di Candi Borobudur dengan meditasi bersama, menandai momen sakral kelahiran, pencerahan, dan Parinibbana Sang Buddha.
- Tema Waisak 2026 'Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan' mengajak umat menjadikan nilai Dharma sebagai pedoman hidup untuk membangun karakter bijaksana dan damai di tengah masyarakat.
- Wapres Gibran Rakabuming Raka mengapresiasi kontribusi umat Buddha serta menyerukan semangat toleransi, persatuan, dan perdamaian sebagai fondasi pembangunan bangsa yang beragam.
Magelang, IDN Times — Ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara larut dalam kekhidmatan saat memperingati puncak Tri Suci Waisak 2570 BE/2026. Prosesi sakral ini digelar langsung di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Minggu (31/5/2026).
Momentum paling dinantikan, yakni detik-detik puncak perayaan Waisak tahun ini, berlangsung tepat pada pukul 15.44.44 WIB. Suasana hening dan sakral seketika menyelimuti kawasan candi saat para bhikkhu, tokoh agama, dan umat Buddha melakukan meditasi bersama.
1. Makna Mendalam Tema Waisak 2570 BE

Bhiksu Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia, Dwi Virya, menjelaskan bahwa peringatan detik-detik Waisak merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama. Tiga peristiwa tersebut adalah kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, pencapaian penerangan sempurna, serta wafatnya Sang Buddha (Parinibbana).
Pada tahun ini, perayaan Waisak mengusung tema "Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan". Bhiksu Dwi Virya menegaskan bahwa nilai-nilai Dharma sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
"Tema tersebut mengajak umat menjadikan dharma sebagai pedoman dalam membangun karakter yang luhur, bijaksana, toleran, dan bertanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat," ujar Bhiksu Dwi Virya di Magelang.
Ia juga menambahkan bahwa Waisak bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen penting untuk memperkuat pengendalian diri dan menghadirkan kedamaian bagi seluruh makhluk di dunia.
2. Wapres Gibran Ajak Umat Buddha Jadi Pelopor Toleransi

Perayaan Waisak di candi jaya peninggalan Dinasti Syailendra ini tidak hanya menjadi magnet keagamaan, tetapi juga simbol persatuan nasional. Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, yang hadir dalam peringatan tersebut memberikan apresiasi mendalam kepada seluruh umat Buddha di Indonesia.
Dalam pidatonya, Gibran mengajak umat Buddha untuk terus aktif menjaga kohesi sosial dan menjadi motor penggerak perdamaian di tengah keberagaman bangsa.
"Persatuan dan perdamaian merupakan modal utama yang dibutuhkan Indonesia untuk melanjutkan pembangunan di tengah dinamika dan tantangan yang terus berkembang," tegas Gibran Rakabuming Raka.
3. Keberagaman Indonesia adalah kekayaan

Wapres juga menyampaikan terima kasih atas kontribusi nyata umat Buddha dalam pembangunan nasional, khususnya melalui berbagai aksi kemanusiaan di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Menurut Gibran, nilai-nilai luhur seperti cinta kasih (metta) dan welas asih (karuna) yang diajarkan Buddha sangat dibutuhkan untuk mewariskan Indonesia yang adil dan bermartabat bagi generasi masa depan.
Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur pun sukses ditutup dengan pesan kuat: bahwa keberagaman di Indonesia adalah kekayaan, dan perdamaian adalah tanggung jawab bersama.

















