Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Menarik Gunung Slamet, Ada Gerbang Kerajaan Gaib
ilustrasi Gunung Slamet (wikimedia.org/Fajarbanyumas)
  • Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.428 mdpl, melintasi lima kabupaten dan dikenal memiliki trek pendakian yang menantang bagi pendaki.
  • Gunung ini menyimpan kekayaan flora dan fauna seperti Elang Jawa, lutung Jawa, bunga edelweiss, serta delapan jalur pendakian legal dengan jalur Bambangan sebagai favorit para pendaki.
  • Terdapat mitos pos 4 Samarantu yang dipercaya sebagai gerbang kerajaan gaib serta kepercayaan bahwa letusan besar Gunung Slamet dapat membelah Pulau Jawa menurut ramalan Jayabaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gunung Slamet merupakan salah satu deretan gunung yang terdapat di Jawa Tengah. Gunung Slamet secara administrasi masuk ke dalam 5 kabupaten. Yaitu Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes. Ketinggian yang ditawarkan mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) sehingga menjadikan Slamet sebagai gunung  dengan puncak tertinggi di Jawa Tengah dan nomor dua di Pulau Jawa.

Pendaki pemula sangat tidak direkomendasikan mendaki gunung Slamet, karena selain ketinggian, kondisi trek yang terjal dan lebatnya hutan di gunung Slamet terkenal sangat menantang. 

Keindahan alamnya sebanding dengan perjuangan yang dilewati. Hamparan lautan awan akan memanjakan mata dengan view gunung Sindoro dan Sumbing dari Timur yang mengintip di saat Matahari terbit Pagi hari. Langsung saja simak lima fakta dari Gunung Slamet berikut ini, yang barangkali kamu belum mengetahuinya.

1. Nama dari seorang syekh

Gunung Slamet merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia. Tak heran jika gunung sering menunjukan aktivitas vulkanik yang tinggi.

Dalam legendanya nama Gunung Slamet yaitu Gunung Agung. Arti nama Gunung Slamet yang berarti Selamat diberikan karena gunung ini tidak pernah meletus dengan skala besar, walaupun menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Nama itu konon diberikan oleh Syeh Maulana Maghribi yang merupakan penyebar agama Islam di Tanah Jawa.  

Catatan letusan Gunung Slamet sejak 1772 M. Aktivitas terakhir gunung ini yaitu pada 2009 dengan mengeluarkan lava pijar.

2. Keragaman flora dan fauna

Elang Jawa yang terancam punah (menlhk.go.id/Nunu Anugrah)

Gunung dengan kawasan hutan yang masih lebat menjadikan Gunung Slamet memiliki keragaman spesies flora dan fauna. Gunung Slamet memiliki fungsi hutan sebagai hutan alam, hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan dengan fungsi khusus.

Dengan kondisi hutan yang masih terlindungi menjadikan Gunung Slamet surga bagi berbagai flora dan fauna yang dilindungi. Spesies tersebut adalah Elang Jawa, aneka jenis tanaman kantong semar, bunga edelweiss, lutung Jawa, dan spesies kupu-kupu.

3. Ada 8 jalur pendakian favorit

Jalur Bambangan Purbalingga, Jawa Tengah (dok. pribadi/Tegar Setiawan)

Gunung Slamet memiliki jalur pendakian yang berbeda. Jalur pendakian yang sudah legal di Gunung Slamet sebanyak delapan titik. Antara lain melalui Guci, Bambangan, Kaliwadas, Baturraden, Gunung Malang, Sawangan, Kaligua, dan Dipajaya.   

Jalur Bambangan menjadi jalur favorit bagi para pendaki karena waktu tempuh yang relatif cepat yaitu 7--8 jam. Jalur tersebut memiliki 9 pos dan jika beruntung bisa mengambil air di sumber air pos 5. Dengan jalur menanjak dan view vegetasi hutan yang rapat, menemani para pendaki sampai Pos 9 Plawangan.

Tak perlu takut jika kehabisan logistik, karena terdapat warung di pos 1, 3, dan 5 yang menjual makanan dan minuman. 

4. Misteri pos 4 Samarantu kerajaan gaib

Gunung Slamet (commons.wikimedia.org/Irfanayam)

Setiap gunung memiliki mitos dan kisah horornya masing-masing. Bagi para pendaki yang sudah sering mendaki Gunung Slamet via Bambangan pasti tak asing dengan pos 4 Samarantu. Samarantu yang berasal dari kata “Samar” dan “Hantu”.

Pos ini ditandai dengan dua pohon tinggi besar yang sejajar. Konon katanya dipercaya sebagai gerbang menuju kerajaan gaib yang ada di Gunung Slamet. 

Pendaki yang sudah tahu betul tentang pos ini, pasti memilih untuk tidak mendirikan tenda di pos ini. Jika berani mendirikan dan mendirikan tenda disini diganggu oleh makhluk tak kasat mata yang berwujud samar.

5. Mitos terbelahnya Pulau Jawa

Pemandangan Gunung Slamet. (commons.wikimedia.org/Robikhun)

Gunung Slamet diyakini menjadi paku Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada mitos yang berkembang dan dipercaya oleh warga Pulau Jawa adalah ramalan Jayabaya. Ramalan dipercaya jika Gunung Slamet meletus akan menyebabkan Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua. 

Berdasarkan catatan vulkanik, Gunung Slamet sudah beberapa kali gunung ini menunjukkan kenaikkan aktivitas lava. Dan ramalan tersebut belum terjadi. 

Nah, itu tadi lima fakta menarik seputar Gunung Slamet. Gimana? Apakah kamu tertarik mendakinya?

FAQ Seputar Fakta Menarik Gunung Slamet

Mengapa Gunung Slamet dijuluki sebagai daerah paling dingin di Pulau Jawa?

Gunung Slamet memegang rekor sebagai gunung dengan suhu rata-rata paling dingin di Pulau Jawa. Hal ini dipengaruhi oleh faktor geografisnya yang memiliki curah hujan tahunan sangat tinggi, yaitu mencapai 8.134 mm per tahun, menjadikannya salah satu daerah dengan intensitas hujan tertinggi di Indonesia.

Apa nama puncak tertinggi Gunung Slamet dan di kabupaten mana lokasinya berada?

Puncak tertinggi Gunung Slamet dinamakan Puncak Surono. Secara geografis, area puncak terbagi ke dalam dua wilayah administrasi, di mana sisi utara puncak masuk ke wilayah Kabupaten Pemalang, sedangkan sisi selatan (termasuk titik Puncak Surono) berada di wilayah Kabupaten Banyumas.

Kapan letusan freatik terakhir dari Gunung Slamet yang tercatat secara resmi?

Meski artikel menyebutkan aktivitas terakhir pada tahun 2009, catatan vulkanologi dari PVMBG menunjukkan bahwa Gunung Slamet sebenarnya sempat mengalami peningkatan aktivitas berupa letusan freatik dan embusan abu tebal yang cukup signifikan pada tahun 2014 (antara bulan Maret hingga September).

Apa itu tradisi "Ruwat Bumi" yang sering dilakukan masyarakat di kaki Gunung Slamet?

Ruwat Bumi adalah upacara tradisional tahunan yang dilakukan oleh warga lereng gunung (salah satunya masyarakat Bambangan) setiap bulan Sura atau Muharram. Ritual ini digelar sebagai bentuk syukur, penghormatan kepada penguasa gaib yang dipercaya menjaga gunung (Mbah Jamur Dipa), sekaligus doa bersama agar warga selalu diberi keselamatan (slamet) dari bencana vulkanik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article