Cahaya 1.008 Dipa Warnai Mahashivaratri di Candi Prambanan, Magis!

- Kirab Budaya dan Bendera 1.000 Meter
- Prosesi kirab budaya sejauh lima kilometer dari Candi Kedulan menuju Candi Prambanan.
- Pembawa benda sakral dan air suci dari 36 provinsi serta pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter.
- 1.008 dipa dinyalakan secara serempak di pelataran candi, diiringi bunyi damaru dan video mapping di Candi Prambanan.
- Harmonisasi ruang spiritual, dan kekayaan seni budaya
- Pentingnya menjaga harmoni antara pelestarian nilai spiritual dengan penguatan sektor pariwisata.
Klaten, IDN Times – Pelataran Candi Prambanan mendadak berubah menjadi lautan cahaya yang magis pada Sabtu malam. Ribuan orang berkumpul, saksi dari sejarah baru dalam perayaan Mahashivaratri yang digelar secara kolaboratif sebagai puncak Prambanan Shiva Festival. Bukan sekadar upacara, momen ini menjadi penanda kembalinya Prambanan sebagai living monument sebuah warisan budaya yang terus hidup dan dilestarikan secara turun-temurun.
1. Kirab Budaya dan Bendera 1.000 Meter

Rangkaian acara ini dimulai dari prosesi kirab budaya sejauh lima kilometer dari Candi Kedulan menuju Candi Prambanan yang menampilkan barisan pembawa benda sakral serta air suci dari 36 provinsi serta pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter. Prosesi berlanjut ke Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dari 36 provinsi dan sembilan candi Nusantara disucikan oleh 35 Sulinggih sebagai simbol pembersihan diri dan harmoni semesta.
Suasana semakin magis tatkala 1.008 dipa atau pelita dinyalakan secara serempak di pelataran candi, diiringi bunyi damaru serta sajian video mapping di Candi Prambanan menjadi sajian visual yang menggugah. Ritual kemudian memasuki inti penyucian melalui upacara Abhisekam yang berlangsung dalam beberapa tahapan hingga fajar menyingsing, menciptakan atmosfer meditasi mendalam demi kedamaian dunia.
2. Harmonisasi ruang spiritual, dan kekayaan seni budaya

Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menyampaikan pentingnya menjaga harmoni antara pelestarian nilai spiritual dengan penguatan sektor pariwisata. Beliau memaparkan bahwa festival ini adalah bukti nyata bahwa situs warisan dunia bisa berperan ganda sebagai ruang ibadah yang khidmat sekaligus destinasi budaya berkelas internasional.
"Prambanan Shiva Festival merupakan bukti bahwa kami ingin candi ini tidak hanya berdiri kokoh sebagai monumen masa lalu, tetapi benar-benar hidup sebagai warisan budaya yang sakral. Dari sisi pariwisata, kegiatan ini diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” jelasnya.
Direktur InJourney Destination Management, Febrina Intan, menambahkan bahwa perhelatan ini merupakan harmonisasi ruang spiritual, dan kekayaan seni budaya. Ruang yang mempertemukan inklusivitas dengan sakralitas, serta modernitas melebur dengan tradisi.
"Keagungan Prambanan kita harapkan hadir secara inklusif, sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk dapat ikut mengagumi, menghargai, dan terinspirasi oleh keagungan situs suci ini. Kita ingin menunjukkan bahwa spiritualitas tidak harus memisahkan, tetapi justru menyatukan," jelas Febriana dalam keterangan resminya.
3. Dorong Pariwisata Berkelas Internasional

Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, mengapresiasi Mahashivaratri di Candi Prambanan ini. Menurutnya, Candi Prambanan sebagai kuil Shiva terbaik yang pernah ia lihat di dunia, memiliki potensi besar untuk dikunjungi wisatawan yang berasal dari India.
"Kami akan mendorong agar wisatawan India, yang jumlahnya besar di Bali, juga diarahkan berkunjung ke Yogyakarta termasuk menyaksikan langsung kekayaan warisan budaya seperti Candi Prambanan," jelasnya.
Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya menegaskan Mahashivaratri adalah momentum untuk membangun manusia Indonesia yang utuh secara lahir, batin, dan sosial. Prosesi pembentangan bendera Merah Putih sepanjang hampir seribu meter di kirab budaya Mahashivaratri ini menjadi simbol kuat persatuan dan semangat kebangsaan dalam balutan spiritualitas.
"Melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, festival ini diteguhkan sebagai sebuah tonggak baru dalam pengelolaan warisan budaya yang menyatukan spiritualitas, kebudayaan, dan pariwisata dalam satu tarikan napas kebangsaan, terangnya.
4. Cinta kasih doa merupakan hal yang universal

Salah satu pengunjung Mahashivaratri, Echa mengatakan bahwa dirinya bersyukur bisa turut serta mengikuti penyalaan 1008 Dipa di halaman Candi Prambanan ini. Terlebih, upacara ini bisa diikuti oleh siapapun dari beragam latar belakang agama sehinga bisa merasakan harmoni dalam keberagaman.
"Cinta kasih doa itu memang buat siapa saja, universal gitu. Jadi bersyukur bisa berada di sini, ngerasain energinya, berbagi energinya, di momen ini. Bersyukur dan kami malah berterima kasih sudah ada kesempatan berkunjung ke acara seperti ini," jelas pengunjung asal Jakarta ini.
Mahashivaratri diselenggarakan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, di antaranya Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Agama RI melalui Dirjen Bimas Hindu, dan Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, Kementerian Kebudayaan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), InJourney Destination Management dan didukung oleh Pertamina Patra Niaga.


















