Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Serabi Bandung Jual di Banyumas, Laris Manis Jelang Buka Puasa
Serabi Bandung yang dijual di Wangon, tetap laris sebagai tambahan menu berbuka puasa, Kamis (5/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Menjelang buka puasa di Wangon, Banyumas, lapak serabi milik Rasyudin ramai diserbu pembeli hingga dua kilogram adonan habis hanya dalam dua jam berjualan.
  • Serabi Bandung dengan topping modern dan serabi Jawa bergaya klasik dijual berdampingan, mencerminkan perpaduan cita rasa tradisional dan inovasi kuliner di satu gerobak sederhana.
  • Antusiasme warga menunjukkan jajanan tradisional seperti serabi tetap digemari lintas usia, menjadi pilihan takjil favorit meski tren makanan modern terus bermunculan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Bulan Ramadan selalu menghadirkan lanskap yang berbeda di sejumlah titik keramaian. Di Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, denyut itu terasa jelas setiap sore.

Wangon dikenal sebagai gerbang pertama Banyumas dari arah selatan, penghubung arus kendaraan dari Cilacap menuju pusat kota Purwokerto.

Di tengah lalu lintas yang padat menjelang berbuka, aroma santan dan tepung beras yang dipanggang menyeruak dari sebuah lapak sederhana. Di sanalah Rasyudin menggantungkan harapan dari jajanan tradisional bernama serabi.

1. Jualan hanya dua jam habiskan dua kilo tepung

Selama Ramdan 2026, Rasyudin, penjual serabu Bandung di Wangon habiskan dua kilogram tepung untuk jualan selama dua jam, Kamis (5/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Sejak hampir dua tahun terakhir, Rasyudin rutin membuka lapaknya setiap pukul 16.00 WIB. Ia menutup jualan sekitar pukul 18.00 WIB, tepat saat azan magrib berkumandang.

“Jualan dari jam empat sampai jam enam, basanya dua kilo habis,"ujar Rasyudin.

Dua kilogram adonan itu diolah menjadi beberapa varian Serabi Bandung, Pancong Lumer, hingga Serabi Gula Merah atau yang ia sebut serabi Jawa. Ramadan menjadi momentum paling ramai. Mayoritas pembeli datang untuk mencari takjil berbuka puasa.

Wangon sebagai simpul perlintasan membuat pembelinya bukan hanya warga lokal, tetapi juga pengguna jalan yang melintas. Lokasi strategis di tengah kota, arah selatan menuju Cilacap, menjadi faktor pendukung tingginya penjualan.

2. Dua gaya serabi "hidup berdampingan"

Serabi Bandung yang baru masak sebelum diolah dengan berbagai varian topping "hidup berdampingan" dengan serabi lokal banyumas yang menggunakan gula jawa, Kamis (5/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Kehadiran serabi Bandung di Wangon bukan tanpa makna, karena serabi atau surabi dikenal luas sebagai jajanan khas Bandung. Secara tradisional, surabi dibuat dari campuran tepung beras dan santan, dimasak di atas tungku tanah liat dengan bara api, menghasilkan tekstur lembut di bagian tengah dan renyah di pinggirannya.

Dalam perkembangannya, surabi Bandung identik dengan inovasi topping mulai dari cokelat, keju, hingga varian gurih seperti oncom.

Berbeda dengan itu, serabi khas Banyumas cenderung mempertahankan gaya klasik. Adonannya lebih tipis, disajikan polos atau dengan kuah gula merah cair (kinca). Rasanya sederhana gurih santan berpadu manis legit gula jawa.

Surabi Bandung berkembang dengan aneka topping modern, sementara serabi Jawa mempertahankan cita rasa tradisional dengan kuah gula merah sebagai identitasnya, dua gaya serabi tersebut justru berdampingan dalam satu gerobak.

3. Jajanan tradisional tetap punya tempat kuat di hati

Erna saat membeli serabi Bandung untuk berbuka puasa, Kamis (5/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Menjelang azan, pembeli datang silih berganti. Salah satunya Erna, warga Cilibang, Cilacap, Ia membeli empat serabi untuk berbuka puasa bersama anak anaknya.

“Buat buka puasa sama anak anak di rumah, anak tiga, jadi beli empat, satunya harha enam ribu,"katanya sambil tersenyum.

Bagi Erna, serabi Bandung Harganya terjangkau, rasanya familiar, dan mudah dinikmati semua kalangan usia. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat, bahkan di tengah gempuran jajanan modern.

Editorial Team