Serabi Bandung yang baru masak sebelum diolah dengan berbagai varian topping "hidup berdampingan" dengan serabi lokal banyumas yang menggunakan gula jawa, Kamis (5/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Kehadiran serabi Bandung di Wangon bukan tanpa makna, karena serabi atau surabi dikenal luas sebagai jajanan khas Bandung. Secara tradisional, surabi dibuat dari campuran tepung beras dan santan, dimasak di atas tungku tanah liat dengan bara api, menghasilkan tekstur lembut di bagian tengah dan renyah di pinggirannya.
Dalam perkembangannya, surabi Bandung identik dengan inovasi topping mulai dari cokelat, keju, hingga varian gurih seperti oncom.
Berbeda dengan itu, serabi khas Banyumas cenderung mempertahankan gaya klasik. Adonannya lebih tipis, disajikan polos atau dengan kuah gula merah cair (kinca). Rasanya sederhana gurih santan berpadu manis legit gula jawa.
Surabi Bandung berkembang dengan aneka topping modern, sementara serabi Jawa mempertahankan cita rasa tradisional dengan kuah gula merah sebagai identitasnya, dua gaya serabi tersebut justru berdampingan dalam satu gerobak.