Comscore Tracker

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap Asri

Tak bergeming meski diiming-imingi uang miliaran rupiah

Perubahan iklim menjadi satu diantara ancaman nyata yang sudah ada di depan mata, namun masih banyak di antara kita yang tak menyadarinya dan cenderung abai dengan terus melakukan aktivitas yang memperburuk kerusakan alam.

Meski begitu di berbagai daerah di Indonesia masih ada orang-orang yang peduli dengan kelestarian lingkungan dengan melakukan berbagai upaya melestarikan alam, dan upaya meredam laju kerusakan akibat perubahan iklim. Usaha yang mereka lakukan ini seringkali tanpa ada pamrih atau berharap adanya imbalan, bahkan mereka rela mengeluarkan biaya sendiri untuk upaya tersebut.

Hanya demi alam lestari dan memberi manfaat kepada banyak orang, para pahlawan pelestari lingkungan ini rela melakukan berbagai upaya demi bumi lebih baik, dan mewariskan lingkungan yang nyaman ditinggali anak, cucu dan generasi mendatang.

Liputan kolaborasi pekan ini IDN Times bakal mengangkat upaya mereka yang layak disebut para pahlawan pelestari lingkungan baik itu individu, aktivis lingkungan, tokoh adat, maupun organisasi yang konsen dan memperjuangkan serta melakukan aksi nyata menjaga lingkungan.

1. Tekad Nusep Supriadi mengembalikan keasrian Sungai Cikapundung

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriNusep Supriadi (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Ingatan Nusep Supriadi warga Kota Bandung menerawang ke masa puluhan tahun yang lalu, saat itu Ia masih kecil, Ia dan teman-teman sebaya riang gembira bermain di sungai Cikapundung. Airnya jernih. Lebarnya lebih dari sekarang. Anak-anak di sekitar bantaran menjadikan Sungai Cikapundung sebagai tempat untuk bersenang-senang.

Tapi sekarang, kondisi Sungai Cikapundung berbalik 180 derajat. Sampah rumah tangga, kotoran hewan, hingga kotoran manusia masuk ke sungai sepanjang 28 Km ini. Hal tersebut berdampak pada pencemaran bakteri E-coli yang terkandung dalam air sungai.

"Ikan khas sungai seperti benter, kehkel, badar, ini sudah punah sekarang. Saat sungai mulai tercemar secara tidak langsung keberadaan ikan itu juga hilang," ujar Nusep.

Melihat kondisi ini Nusep bersama teman-temannya bertekad untuk mengembalikan kondisi sungai kembali asri, menjadi tempat hidup ikan-ikan dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air warga Bandung yang belakangan mengalami permasalahan kekeringan.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Nusep dan warga setempat yakni menginisiasi penggunaan mata air yang tidak jauh dari Serlok Bantaran. Keluar dari gua kecil di sekitar bantaran, air ditampung telebih dahulu untuk kemudian dialirkan ke 100 rumah warga yang ada di RT 06/RW 11, Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap.

Dia berkeyakinan, salah satu alasan mata air di tempatnya masih ada karena di kawasan bantaran terdapat banyak pohon bambu. Dari literasi yang dipelajari Nusep, bambu adalah tanaman yang bagus dalam ekosistem air.

Sistem perakaran tanaman bambu sangat rapat. Akar-akarnya menyebar ke segala arah, baik menyamping atau pun ke dalam. Lahan tanah yang ditumbuhi rumpun bambu biasanya menjadi sangat stabil. Tak mudah terkena erosi. Oleh karena itu air juga lebih mudah menyerap ke dalam tanah yang ditumbuhi tanaman tersebut.

Dari ilmu tersebut, Nusep pun kian giat mempelajari macam-macam bambu. Bukan hanya dari dalam negeri, dia pun mencari bambu dari luar negeri seperti dari kawasan Amerika Selatan, hasilnya kini Nusep telah melakukan upaya pembenihan 18 jenis bambu yang diharapkan mampu menampung air dan menjadikan sumber mata air untuk warga.

"Dari sini (Serlok Bantara) sampai ke bagian atas (Sungai Cikapundung) ada 12 mata air yang bisa dimanfaatkan," kata dia.

Tak hanya bambu, Nusep juga ingin mengembalikan identitas Sungai Cikapundung.
Sungai Cikapundung sendiri merupakan bahasa Sunda berasal dari bahasa Sunda yang berarti sungai yang di sekitarnya banyak ditumbuhi pohon Kapundung.

Sayang, keberadaan pohon kepundung saat ini makin sulit ditemui di bantaran sungai Cikapundung. "Ini yang membuat saya dan teman di Serlok Bantaran masih terus menanam pohon khas Sungai Cikapundung. Khususnya pohon kapundung yang jadi cikal bakal penamaan sungai ini," kata Nusep.

Hingga saat ini Nusep baru menyelesaikan penanaman benih pohon sekitar 2 km ke arah Curug Dago dari Serlok Bantaran. Penanaman pun baru di bagian kiri saja.

Tak berhenti di situ upaya lain yang dilakukan Nusep yakni dengan melakukan edukasi mengajak masyarakat untuk ikut melestarikan sungai dengan mendirikan kelompok bermain Kukuyaan yang lebih banyak bermain air atau disebut //gegejeburan//.

Lewat aktivitas Kukuyaan, Nusep dan warga sekitar bantaran Sungai Cikapundung secara kolektif mengajak masyarakat lain untuk bisa menyisir sungai sambil menaiki ban. Kukuyaan mencoba memberi edukasi khususnya kepada para pelajar dan wisatawan akan kondisi Sungai Cikapundung yang tidak lepas dari keberadaan sampah. Harapannya kegiatan ini bisa menyadarkan wisatawan baik warga Bandung maupun luar kota untuk sama-sama menjaga kualitas air sungai.

"Di komunitas ini saya ingin melakukan perbaikan sungai dan juga memberdayakan masyarakat agar bisa meningkatkan ekonomi mereka. Karena jika ekonominya sudah terbangun dari sini, maka aksi sosial akan lebih mudah berjalan," ujar Nusep.

Baca Juga: Nusep Supriadi dan Tekad Mengembalikan Keasrian Sungai Cikapundung

2. Kisah para pejuang penanam mangrove, bentengi dari abrasi dan upaya tingkatkan kesejahteraan warga

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriKetua KTH Rejosari, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Sancoko. (IDN Times/Daruwaskita)

Berawal dari upaya mencegah lahan pertanian agar tak terkena abrasi, Sancoko dan warga Padukuhan Tegalrejo, Kalurahan Srigading, dan Padukuhan Baros, Kalurahan Tirtoharho, Kapanewon Sanden, Yogyakarta merasakan banyak manfaat dari penanaman mangrove.

Ya warga di sana awalnya dibayangi abrasi yang membuat areal persawahan mereka tenggelam. Abrasi yang disebabkan pertemuan aliran sungai Opak dan sungai Winongo Kecil.

Bersama masyarakat sekitar, Sancoko kemudian membudidayakan tanaman mangrove atau bakau yang ada di kawasan Laguna Pantai Samas.

"Dari awal saya tidak berpikir untuk menyelamatkan lingkungan namun bagaimana caranya agar abrasi tidak semakin meluas dan lahan pertanian milik warga tidak terdampak abrasi," ungkapnya ketika ditemui IDN Times di Pos Angkatan Laut (Posal) Pantai Samas pada Kamis (16/9/2021) malam.

Usaha yang dilakukan Sancoko dan pemuda sekitar mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, BUMN, kampus-kampus dan juga LSM. Mereka mendapatkan bantuan bibit pohon mangrove hingga pendanaan agar bakau bisa ditanam di kawasan Laguna Pantai Samas.

Bantuan tersebut turut melecutkan semangat pemuda dari Padukuhan Tegalrejo untuk memelihara bibit pohon mangrove yang ditanam di Laguna Pantai Samas. Namun, kata Sancoko, tak mudah untuk memastikan bibit mangrove bisa hidup dan tumbuh menjadi besar.

Adanya sampah yang dibawa oleh aliran sungai Opak dan Winongo Kecil membuat bibit mangrove yang ditanam mati. Apalagi jika tempat untuk menanam bibit mangrove sedimen tanah masih tipis.

"Ya akhirnya sebelum menanam bibit mangrove kita membuat pagar agar sampah tidak menerjang bibit mangrove yang baru kita tanam," ungkapnya.

Usaha yang dilakukannya dengan menanam bibit pohon mangrove yang kini sudah tumbuh setinggi dua meter bahkan sudah ada yang hampir tujuh meter sudah dirasakan dampaknya oleh warga. Abrasi yang menyebabkan lahan persawahan hilang saat ini tak lagi terjadi. Demikian pula ekosistem di kawasan Laguna Pantai Samas kembali hidup.

"Petani saat ini tak lagi ketakutan tanaman yang ditanam mati akibat terjangan angin yang membawa kadar garam hingga banyak pemancing yang berburu ikan di Laguna Pantai Samas hingga dijadikan kawasan wisata edukasi," ungkap pria yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini.

Sancoko mengaku tak pernah memikirkan akan mendapatkan penghargaan dari pemerintah atas usaha yang dilakukannya bersama pemuda di Padukuhan Tegalrejo turut menyelamatkan lingkungan. Sebab, tujuan awalnya adalah menyelamatkan lahan pertanian di sisi utara Laguna Pantai Samas.

"Saya juga tidak berpikir jauh kalau ternyata keberadaan mangrove juga sebagai barier alami jika terjadi tsunami atau lainnya. Saya itu petani, bagaimana lahan pertanian itu selamat saja," tambahnya lagi.

Di Jawa Tengah meredam laju abrasi di pesisir Pantai Utara (Pantura) juga dilakukan oleh millennial, generasi muda yang tergabung di dalam Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (Kesemat). Organisasi mahasiswa yang bernaung di Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu turut berpartisipasi dalam konservasi dan restorasi mangrove.

Selama 20 tahun, ada dua area konservasi mangrove yang dirawat oleh Kesemat antara lain di Teluk Awur Kabupaten Jepara yang di sana juga berdiri Mangrove Education Center of Kesemat dan memiliki 30 spesies mangrove. Kemudian, Semarang Mangrove Center yang memiliki dua lokasi konservasi, yaitu di Mangkang Wetan dan Mangunharjo Tugu Kota Semarang.

Presiden Kesemat, Ghifar Naufal Aslam mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki area mangrove terluas di dunia. Luasnya mencapai 3,2 juta hektar atau 23 persen dari total luasan mangrove di dunia. Namun, seiring waktu tingkat kehilangan dan degradasi ekosistem juga sangat tinggi baik itu oleh alam maupun ulah manusia.

"Maka itu, kami di Semarang terus berupaya untuk merehabilitasi dan merestorasi mangrove agar dampak kerusakan lingkungan tidak terus meluas. Namun, upaya itu belum bisa maksimal karena banyak kepentingan," ungkapnya saat dihubungi IDN Times, Jumat (17/9/2021).

Alih fungsi lahan disebut sebagai masalah dan menjadi kendala Kesemat dalam melestarikan mangrove di kawasan pesisir Pantura Jawa. Banyak lahan yang dikuasai pemodal atau perusahaan, sehingga ketika mereka ingin melakukan penanaman tidak bisa berjalan sesuai rencana.

Hingga kini Kesemat memiliki 28 anggota aktif sudah menanam mangrove di area seluas 3 hektar di Teluk Awur Jepara. Sedangkan, di Semarang sendiri 700 ribu bibit mangrove sudah ditanam di area seluas satu hektar.

Tidak berhenti pada penanaman, penyelamatan lingkungan melalui pelestarian mangrove juga berkelanjutan pada pemberdayaan masyarakat di lingkungan konservasi. Kesemat memiliki warga binaan di dua lokasi di Kota Semarang. Upaya ini untuk menaikkan taraf hidup masyarakat pesisir Pantura Jawa.

Seperti di Mangkang Wetan Kesemat mendampingi kelompok warga pengolah kopi mangrove bernama Arjuna Berdikari. Sedangkan di Mangunharjo, mendampingi warga melalui kelompok Srikandi Pantura membuat aneka makanan olahan dan batik pewarna alam dari mangrove.

Upaya itu berbuah manis bagi kelompok mahasiswa yang menjadikan Kesemat sebagai laboratorium kehidupan sekaligus pembelajaran. Tidak hanya bisa melakukan penelitian dan praktik kerja, kerja keras organisasi ini dalam melestarikan lingkungan sudah mendapatkan penghargaan.

Antara lain peraih Kalpataru untuk Kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di tahun 2019. Kemudian, Kesemat juga mendapat anugerah sebagai Organisasi Pemuda Terbaik dan menyabet enam penghargaan di tingkat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip, Indonesia, dan Asia Tenggara. Selain itu, Kesemat juga diundang oleh Presiden RI Joko Widodo dan mendapat penghargaan Wana Lestari sebagai Pecinta Alam Terbaik di Indonesia.

Upaya pelestarian mangrove juga dilakukan oleh personel kepolisian dari Korps Polairud Polda Kalimantan Timur (Kaltim) Bripka Taufik Ismail. Upaya yang dilakukan di antaranya penanaman kembali lahan mangrove yang rusak, menjaga habitat lahan bakau dari ancaman perusakan maupun sampah dan juga edukasi kepada masyarakat dan pelajar pentingnya pohon mangrove untuk keselamatan lingkungan.

Tak hanya tanaman mangrove, perhatian Taufik juga tak lepas pada biota laut dilindungi yang sempat menjadi incaran masyarakat. Sampai di pesisir Tanah Grogot, Paser pun edukasi pelestarian laut pun digencarkan.

Kerang Mimi atau kepiting tapal misalnya. Hewan langka ini beberapa waktu lalu selalu menjadi buruan untuk dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Melihat itu, Taufik pun turun tangan dengan menggaet beberapa tokoh sekitar untuk memberikan edukasi terkait kepiting tapal dan manfaat penanaman mangrove di sekitar pesisir pantai sana.

Hasilnya, kini masyarakat menjadikan pesisir Grogot sebagai ekowisata edukasi. "Ya Alhamdulillah, sekarang malah jadi tempat wisata di sana. Yang awalnya tidak tahu sama sekali soal mimi justru sekarang dilestarikan," ucapnya.

Tak hanya itu Taufik juga mengajari para wanita-wanita pesisir Pantai Manggar mengolah buah mangrove menjadi bedak dingin. Tak hanya bermanfaat menjaga lingkungan, mengrove ternyata juga memiliki nilai ekonomis yang dapat menjadi sumber penghasilan warga.

Baca Juga: Kiprah Kesemat, Para Milenial Perawat Mangrove di Pesisir Pantura Jawa

Baca Juga: Bripka Taufik Ismail, Polisi yang Dedikasikan Diri di Teluk Balikpapan

Baca Juga: Lestarikan Mangrove, Sancoko Selamatkan Laguna Pantai Samas

3. Manfaatkan lahan pribadi untuk agroferestri, Suhendri tak tergiur meski diiming-imingi uang miliaran rupiah

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriBapak tua bernama Suhendri (80) sendirian menjaga hutan agroforestri di Kutai Kartanegara. (IDN Times/Nina)

Upaya melestarikan lingkungan dilakukan oleh Suhendri (80) warga Jalan Pesut Bukit Biru Tenggarong Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim). Ia membuat lahan pribadinya yang seluas 1,5 hektare menjadi hutan agroforestri.

Pepohonan setinggi puluhan meter tumbuh subur di dalam hutan kota kota tersebut. Suasananya sangat teduh dengan embusan angin semilir disertai kicauan burung liar. Suasana hutan yang sebenarnya sudah mulai jarang bisa ditemui di Kaltim.

Selama bertahun-tahun, pria perantauan asal Jawa Barat ini menanami tanah garapannya dengan berbagai jenis pepohonan berbatang keras, tujuannya mulia, agar anak cucunya di masa depan masih bisa merasakan keindahan alam hutan.

"Kalau saya tidak ada lagi, saya titip pesan ke anak cucu, pohon atau hutan ini jangan pernah ditebang. Kecuali pohonnya memang tumbang. Silakan dimanfaatkan. Saya tidak ridha kalau hutan ini harus hilang," ujar Suhendri dengan suara bergetar, Jumat (17/9/2021).

Suhendri muda merantau ke Kaltim sejak tahun 70 an untuk bekerja di salah satu perusahaan kayu di Kaltim, pada masa itu daerah tersebut masih dipenuhi hutan primer belantara Kalimantan.

"Waktu itu saya datang ke Kaltim karena tawaran pekerjaan. Ya pekerjaan itu di pabrik kayu. Miris saya lihat pohon ditebang tebang, saya pilih keluar,” tuturnya.

Ia pun lalu membeli sebidang tanah seluas 1,5 hektare yang kemudian diubahnya menjadi agroforestri dengan berbagai jenis pohon. Semenjak itu pula, seluruh hidupnya dihabiskan merawat kawasan hutan pribadinya ini.

Suhendri mulai merawat hutan ini sejak tahun 1974 hingga sekarang, Bukan perkara gampang merawat hutan seluas 1,5 hektare secara mandiri tanpa memperoleh bantuan dari siapa pun. Setiap enam bulan sekali Ia berkeliling memastikan hutan aman dari gangguan masyarakat hingga ancaman kebakaran hutan.

"Setiap 6 bulan, saya pasti cek hutan. Bersihkan daun keringnya. Itu untuk mencegah bencana kebakaran hutan. Saya pagarin juga, biar orang orang jahil gak masuk," terangnya.

Pernah juga suatu saat, Suhendri dikecewakan pihak-pihak yang menjanjikan akan mengucurkan bantuan bagi masyarakat yang menjaga hutan. Namun kenyataannya dana tersebut tak kunjung cair.

"Menjaga hutan ini kan juga butuh operasional. Seperti, alat alat pembersih, untuk perawatan hutan, bahkan berbagai macam obat untuk menjaga pohon tetap kuat, tapi pemerintah diam saja," kesalnya.

Meski tidak didukung oleh pemerintah, upayanya melakukan konservasi tersebut ternyata menarik perhatian dan dukungan para mahasiswa dan peneliti. Bahkan mahasiswa asing juga ikut menyokong upaya menjaga hutannya tersebut. Salah satu yakni mahasiswa yang berasal dari Jepang bernama Takeshi dan melakukan penelitian di sana.

Mahasiswa ini melakukan penelitian tentang kandungan produksi oksigen di lingkungan hutan sekaligus memetakan berbagai jenis kayu.

Meski mahasiswa tersebut telah kembali ke negara asalnya serta meraih gelar profesor pertanian dari salah satu universitas di Jepang, hubungan Suhendri dengan Takeshi tetap terjalin akrab, bahkan ia selalu memperoleh kiriman uang sebesar Rp1 juta per bulan untuk ikut merawat hutan tersebut.

Tekad Suhendri untuk menjadikan lahan miliknya tersebut sebagai agroforestri tetap kuat dan tak goyah meski beberapa kali diiming-imingi uang dalam jumlah besar untuk melepas lahannya tersebut.

Hutan yang dirawatnya sejak puluhan tahun tersebut pernah ditawar hingga miliaran rupiah, namun uang yang banyak tak membuat Suhendri tergiur. Ia dengan tegas menolak untuk memenuhi amanah sudah diberikan Presiden Soekarno di masa lalu.

"Saya tidak butuh uang itu, saya butuh masyarakat sehat tanpa harus kekurangan oksigen yang bersih. Saya ini penyambung lidah rakyat. Dan saya amanah dengan pesan Bapak Soekarno. Beliau minta saya jaga hutan di negeri ini," kisahnya.

Bahkan suatu saat, Suhendri berniat membangun pondok di dalam hutan yang akan dinamainya dengan istilah study caffe. Suatu tempat di mana semua orang bisa belajar tentang arti penting lingkungan bagi kehidupan manusia.

Baca Juga: Kisah Kakek Tua Penjaga Hutan Agroforestri di Kukar

4. Iwan Dento usung konsep ekowisata melawan tambang di Rammang-rammang

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriTokoh masyarakat Rammang-rammang, Iwan Dento. Dok.pribadi

Namanya berkaitan erat dengan karst, utamanya yang terbentang di kawasan Rammang-rammang. Tepatnya di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Iwan Dento, beberapa kali terlibat aksi penyelamatan lingkungan di wilayah gugusan pegunungan kapur itu. Lelaki itu juga selalu berdiri di garda terdepan saat ada pihak-pihak yang ingin merusak keindahan karst.

Iwan pernah memotori warga untuk menolak kehadiran tambang di kawasan karst saat pemerintah setempat memberikan izin bagi investor untuk membuka tambang batu marmer dan gamping di tahun 2009.

Di tahun 2013, gerakan penolakan itu akhirnya membuahkan hasil dengan dibatalkannya izin tambang. Di tahun 2015, kawasan Rammang-rammang pun mulai dibuka untuk pariwisata.

Karena usahanya itu, laki-laki yang bernama asli Muhammad Ikhwan AM ini pun dikenal sebagai perintis ekowisata Rammang-rammang. Namun kali ini dia lebih ingin disebut sebagai pemerhati karst.

"Sebenarnya kan motivasi utamanya itu adalah anak. Jadi secara sederhana saya punya anak, kemudian saya merasa kalau sesuatu yang baik di bumi ini itu harusnya dinikmati sendiri. Tidak menyusahkan anak-anak saya. Kalau kemudian dia berdampak pada wilayah-wilayah yang lebih luas, menurut saya itu bonus," kata Iwan.

Bagi Iwan, kelestarian pegunungan karst ini sangat penting untuk dipertahankan dan dijaga. Karena menurutnya, berbicara soal karst atau lingkungan secara umum maka ada dua hal besar yang sebenarnya harus diselamatkan. Artinya, jika kedua hal itu tidak diselamatkan, maka keduanya akan hilang.

Kedua hal itu adalah kehidupan dan identitas. Jika karst itu rusak maka kehidupan sekitarnya juga akan rusak, mulai dari tercemarnya air, rusaknya pohon, flora dan fauna bahkan manusia itu sendiri.

Begitu pula saat menyangkut soal identitas yang selalu berkaitan dengan kultur. Baginya, kultur dalam masyarakat tidak terlepas dari ruang. Maka dari itu, masyarakat dan lingkungannya perlu dibangun bersama.

"Itulah alasan budaya-budaya kita lahir, dua hal besar itu menjadi alasan kenapa pelestarian lingkungan sangat penting," tutur Iwan.

Sebagai informasi, karst Rammang-rammang merupakan pegunungan kapur terluas ketiga di dunia setelah yang ada di Tiongkok dan Vietnam. Keindahannya juga tidak main-main karena selain pegunungan kapur, ada juga panorama sawah, sungai dan hijaunya pepohonan.

Di kawasan ini juga ada ratusan gua yang tercatat pernah ditinggali manusia prasejarah. Salah satu gua yang terkenal adalah Gua Leang-leang karena di dinding gua itu terdapat lukisan yang diperkirakan berusia 40.000 tahun.

Belum lagi, keanekaragaman hayati yang terdapat di hutan-hutan sana. Semua keindahan ini merupakan bagian Geopark Maros-Pangkep yang kini diusulkan ke UNESCO.

Salah satu upaya konservasi yang dilakukan Iwan dan warga yakni dengan melakukan kegiatan ekowisata karena eksploitasinya menjual jasa lingkungan.

Di awal-awal merintis konsep ekowisata, Iwan juga mengaku banyak pro dan kontra. Namun baginya itu bukan hambatan, melainkan tantangan yang harus dihadapi.

Lebih jauh lagi, Iwan merasakan banyak manfaat dengan menjadi pemerhati karst. Dengan jalan ini, dia merasa mampu menjaga kehidupan generasinya. Dia juga merasa mampu menjaga ruang-ruang hidup dan kebudayaan.

"Tetapi kalau kita berbicara finansial, kalau pun itu ada maka saya pikir itu hanya tambahan saja. Artinya pikiran kita tidak ke sana," katanya.

Baca Juga: Kisah Iwan Dento Melawan Tambang di Rammang-rammang

5. Panut Hadisiswoyo 20 tahun menjaga Orangutan di Sumatera

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriPanut Hadisiswoyo (IDN Times/Istimewa)

Konsisten bukan hal mudah bagi Panut Hadisiswoyo. Lebih dari 20 tahun ia menjadi aktivis lingkungan di Sumatera Utara. Selama itu pula, ia mendedikasikan dirinya menjaga ekosistem hutan dengan menyelamatkan Orangutan lewat Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC).

Panut bercerita, awal mula pertemuannya dengan Orangutan dimulai saat ia berada di Aceh. Kala itu, Orangutan mendatangi Panut dengan tatapan yang cukup lama. Pandangan itu menjadi penyulut untuk bergerak menyelamatkan Orangutan.

"Saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Orangutan itu seperti manusia. Luar biasa spesies ini. Saya masih ingat tatapan matanya yang membuat saya menjadi terpanggil untuk merawat," ungkap Panut.

Namun perjalanan panjang itu dilalui tak terlepas dari tantangan. Hal itu kemudian membuatnya mendapat sejumlah penghargaan bergengsi.

Atas konsisten dirinya lewat yayasan tersebut, pada 2019, Panut dinobatkan menjadi salah satu dari 35 orang yang terlibat dalam aksi global menjaga lingkungan yang diberikan oleh Kementerian Luar Negeri Inggris.

Tak berhenti di situ, ia juga mendapat penghargaan yang diberikan Ratu Inggris, Queen’s Anniversary Award pada 2008, Whitley Award yang diberikan Keluarga Bangsawan Kerajaan Inggris tahun 2015, dan Emerging Explorer oleh National Geography pada 2016.

Bagi Panut keberadaan Orangutan memiliki peran penting untuk menjaga ekosistem hutan. Dalam amatan Panut, Orangutan membantu proses regenerasi hutan karena Orangutan memakan biji-bijian. Setelah biji itu di makan, Orangutan menyebar bijian itu di kawasan hutan. "Fungsi Orang Utan di hutan itu menjadi satwa kunci, indikator untuk keberlangsungan hutan," ujarnya.

Tanpa Orangutan dan rumahnya, kata Panut sulit untuk menghindari dampak perubahan iklim. "Kita tahu isu climate change, karena hutan berkurang. Ketika orang utan dan rumahnya hutan dipertahankan maka akan menjadi indikator penting untuk menghasilkan oksigen yang penting untuk manusia dan bisa mengurangi emisi ketika banyak polusi," ungkap Panut.

Dari hal tersebut, keterlibatan semua pihak dibutuhkan untuk melestarikan keberadaan Orangutan dan rumahnya. "Menjaga bumi bisa melalui konservasi orangutan, artinya kalau kita tidak mempertahankan orang utan, sumber air akan hilang dan lainnya," ujarnya.

Langkah lain yang dilakukan Panut dengan melakukan pendampingan dan riset penelitian terkait dengan penyelamatan Orangutan. "Kita saat ini sudah ada ratusan untuk anggota dan divisi OIC. Baik yang ada di sekitar taman Lauser ataupun di luar taman Lauser," katanya.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi Panut dalam menyelamatkan Orangutan, seperti proses menyadarkan masyarakat dalam menyajikan informasi untuk melakukan aksi nyata melindungi satwa mamalia tersebut. "Selain itu tantangan kami itu sebenarnya tantangan zaman," kata Panut.

Tantangan lain, menurut Panut, tingginya kebutuhan hidup masyarakat untuk menggerus hutan, seperti membuka lahan akibatnya hutan semakin menipis. "Sehingga persoalannya tidak berhenti. Adanya kebutuhan masyarakat tapi hutan semakin terbatas," ujarnya.

Tantangan selanjutnya, kata Panut belum ada upaya kongkrit menawarkan solusi kesejahteraan bagi masyarakat yang memanfaatkan hutan untuk sumber perekonomian. Hal tersebut diperburuk dengan kurangnya sinegeritas pemerintah dan instansi lingkungan dalam mendukung program penyelamatan Orangutan dan isu lingkungan lainnya. "Ini permasalahan yang dihadapi bersama," kata Panut.

Tidak cukup bergerak sendiri untuk kelestarian Orangutan dan rumahnya. Dari itu, Panut berharap peran serta anak muda untuk keberlangsungan hidup Orangutan dan lingkungan.

"Sebenarnya harapan saya, kita harus memiliki kebanggaan terhadap lingkungan kita. Kita juga menjaga untuk tidak merusak lingkungan. Bagaimana kita menjadi pelopor untuk pencegahan, apakah harus diam? Kalau tidak kita siapa lagi. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Anak muda jadilah explorer untuk lebih aware dengan lingkungan," ucapnya.

Baca Juga: Perjuangan Panut Hadisiswoyo, 20 Tahun Menjaga Ekosistem Hutan

6. Warga Banyumanik sulap sampah menjadi pupuk kompos dan tempat budidaya maggot

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriKepala UPTD TPA Jatibarang mengecek kondisi peternakan maggot. IDN Times/Fariz Fardianto

Cara lain konservasi dan menjaga lingkungan yakni diantaranya dengan mengelola dan mengolah sampah agar tak mencemari lingkungan. Berbagai upaya juga dilakukan oleh warga Banyumanik di Semarang untuk pengelolaan sampah. Mereka punya cara jitu mengurangi timbunan sampah.

Di Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik misalnya, warga setempat memilih membangun sebuah TPS 3R yang dimanfaatkan untuk mengurangi sampah hasil buangan dari rumah-rumah dan restoran.

Warga Pedalangan yang tergabung dalam Kelompok Pemeliharaan dan Pengolahan (KPP) memperoleh bantuan dari Kementerian PUPR senilai Rp600 juta untuk mendirikan satu TPS 3R.

"Kita baru mengoperasikan TPS 3R sejak 25 Agustus kemarin. Ini dilengkapi satu mesin pencacah untuk memilah sampah organik dengan non organik," kata Ketua KKP Pedalangan, Sasminto ketika berbincang dengan IDN Times, Selasa (14/9/2021).

Pembuatan TPS 3R, katanya jadi solusi untuk mengatasi pembuangan sampah milik masyarakat. Selama ini warga Pedalangan kerap membuang sampah di kecamatan lain lantaran tak pernah memiliki tempat pembuangan sampah mandiri.

Dengan dibuatkan TPS 3R, menurutnya setiap warga lebih mudah mengolah sampah untuk dijadikan pupuk kompos. Selain itu, atas inisiatif DLH Kota Semarang, pihaknya juga diberi fasilitas membudidayakan magot serta menanam aneka ragam pohon durian dan jambu.

"Sedikit demi sedikit sampah dari pembuangan rumah-rumah warga diolah jadi kompos dan dipakai untuk menyuburkan tanaman yang ada di TPS 3R. Ini juga buat kesejahteraan warga terutama membantu warga kurang mampu," terangnya.

Nanik Kusrini, Lurah Pedalangan menyambut baik pembuatan TPS 3R yang mampu mengolah jadi pupuk kompos. Dengan cakupan wilayah yang luas, warganya diharapkan bisa efektif mengolah sampah supaya mengurangi tumpukan sampah di jalanan.

Terpisah, Kepala UPT Kebersihan dan Pengolahan Sampah Wilayah III DLH Semarang, Nguncar memperkirakan lokasi TPS 3R di Pedalangan bisa menampung ratusan kilogram sampah milik 200 warga.

"Pembuatan TPS 3R Ini pertama di Semarang, hasil bantuan dari PUPR. Budidaya maggotnya juga bisa dipakai untuk pakan lele dan ternak. Nantinya kalau berhasil akan dipasarkan ke para peternak," terangnya.

Di Bali upaya pengelolaan sampah juga dilakukan melalui Komunitas Malu Dong. Melalui kegiatan yang sifatnya membangun, memupuk dan menumbuhkan generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Komang Sudiarta (55) yang sudah 12 tahun konsisten menjaga lingkungan dengan Gerakan Malu Dong kepada IDN Times Ia menceritakan kepeduliannya terhadap lingkungan tumbuh karena ia meyakini apabila persoalan lingkungan tidak tertangani dengan baik, maka akan menjadi bencana.

"Kalau tidak betul-betul ditangani dengan baik, dengan cepat, profesional, Bali akan hancur. Apalagi di pariwisata. Itu keinginan saya mengapa saya melakukan ini, mengapa kepedulian saya bisa lebih,” jelas pria yang akrab disapa Om Bemo tersebut pada Kamis (16/9/2021).

Melalui gerakan Malu Dong yang digagasnya pada tahun 2009 lalu, ia mulai bekerja di level paling bawah menyelesaikan empat elemen persoalan sampah, di antaranya eksekusi, edukasi, sosialisasi, dan fasilitasi.

"Susah mengajak (masyarakat). Ya harus datang dari dirinya sendiri untuk berubah. Banyak anak muda merapat di Malu Dong. Semua anak-anak millennials, kami jarang generasi tua. Anak-anak sekolah itu. Kami merangkul semua komunitas," jelasnya.

Malu Dong menurutnya merangkul semua komunitas di setiap kabupaten di Bali. Mulai dari siswa sekolah hingga semua komunitas di setiap kabupaten. Sejak tahun 2009, hingga saat ini ia perkirakan ada 60 persen dari generasi muda Bali berkumpul dan mendedikasikan dirinya untuk peduli lingkungan bersama Malu Dong. Ia juga telah menerbitkan buku berjudul Sampahku Tanggung Jawabku, hasil kerja sama dengan beberapa pihak.

Ia menegaskan Malu Dong tidak bergerak memanfaatkan atau mengelola sampah. Tugasnya adalah membangun, memupuk dan menumbuhkan generasi agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dalam tahap eksekusi di lapangan, sampah-sampah tersebut akan diambil oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Selain peran pemerintah, Bemo menegaskan agar para pengusaha juga memiliki tanggung jawab terhadap kemasan-kemasan yang mereka produksi. Menurutnya, tidak ada yang lebih bertanggung jawab selain kita sendiri sebagai tuan rumah negeri ini.

"Biar gak seenaknya mereka membuat kemasan-kemasan. Terus gak peduli," tegasnya.

Baca Juga: Komang Sudiarta 12 Tahun Konsisten Rawat Alam Lewat Gerakan Malu Dong

Baca Juga: Cara Jitu Warga Banyumanik Semarang Kurangi Timbunan Sampah, Bikin Bangga!

7. Cara unik Millenial ikut merawat bumi, mulai dari sampah untuk pembayaran hingga aplikasi jual beli sampah

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriTiga mahasiswa ITS yang bikin aplikasi E-Trash. Dok. Humas ITS.

Novian Dharma Putra (32), warga Kelurahan Taman Baru, Kabupaten Banyuwangi, mempunyai cara unik untuk mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan agar tak terkontaminasi sampah.

Selain menerima uang tunai untuk pembayaran, Novian juga menerima pembayaran sekantong sampah dengan secangkir kopi darinya.

Layanan minum kopi dengan bayar sampah ia buka setiap hari Jumat. Novian ingin menyampaikan kampanye lingkungan, agar masyarakat bijak dengan sampah, tidak buang sembarangan dan menyadari bahwa sampah memiliki nilai ekonomis.

"Ide kopi bayar sampah ini sudah jalan satu bulan, sudah lima kali kegiatan," kata Novian saat ditemui di kediamannya, di Perumahan Agus Salim Residence, Banyuwangi, Minggu (14/7/2021).

Lain lagi dengan tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang mencetuskan sebuah aplikasi berbasis web bernama E-Trash.

Intan Mey Setyaningrum, Latifatul Fajriyah mahasiswa Teknik Fisika serta Fadhila Rosyidatul 'Arifah mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi menjelaskan, E-Trash merupakan platform jual beli sampah dan produk recycle atau daur ulang.

Mulanya, kata Fadhila, ide mengenai E-Trash muncul dengan tujuan agar masyarakat dapat dengan mudah menukarkan sampah anorganik atau barang bekas dengan koin yang bisa dikonversikan ke uang tunai. "Dengan begitu, secara tak langsung kami dapat membantu perekonomian masyarakat agar lebih stabil," ujarnya.

Untuk menggunakan platform ini, pengguna tidak perlu mengunduh di Playstore, melainkan bisa diakses melalui https://www.etrashidn.com. Selanjutnya, pengguna perlu mendaftarkan akun dengan email dan login terlebih dahulu.

"Dalam platform ini, pengguna juga diberi kesempatan untuk bertindak sebagai pembeli sekaligus penjual,” ujar mahasiswi yang aktab disapa Intan itu.

Bagi pengguna platform yang berada di wilayah Surabaya, mereka dapat menjual atau membeli barang dengan enam kategori. Kategori-kategori itu antara lain, botol plastik, elektronik bekas, botol kaca, kardus, buku dan koran bekas, serta kayu dan bambu. Pengguna hanya perlu menyertakan alamat dan foto sampah yang akan dijual.

"Selanjutnya, pihak E-Trash akan menghampiri lokasi dan memberikan sejumlah uang kepada penjual,” ucap Intan. Namun, apabila barang dari penjual memiliki nominal rupiah yang kecil, maka pihak E-Trash tidak bisa melakukan penjemputan.

Pada platform ini, penjual dapat mengunggah gambar produk, nama produk, deskripsi produk, hingga jumlah stoknya sendiri. Penjual akan mendapatkan uang usai pesanan terselesaikan. Namun, dari nilai transaksi itu akan terpotong sebesar lima persen.

Pengguna juga dapat membeli sampah dan mengetahui detail dari barang yang akan dibelinya. Pembeli dari luar kota pun tidak perlu khawatir karena E-Trash sudah menyediakan sistem rekening bersama.

"Artinya, uang pembeli baru akan diteruskan ke penjual usai barang sampai dengan kondisi baik, sehingga tidak akan ada penipuan,” terang Intan.

Platform ini dilengkapi dengan lima fitur menarik. Di antaranya adalah fitur home untuk mencari produk, fitur keranjang untuk mengetahui produk yang ingin dibeli, fitur cash flow untuk mengetahui riwayat keuangan yang telah dilakukan, serta fitur notifikasi untuk menerima pesan dan riwayat transaksi yang telah dilakukan.

"Selain itu, juga terdapat fitur account untuk mengatur profil pembeli dan toko bagi penjual," kata dia.

Baca Juga: Novian, Pemuda Banyuwangi yang Jual Kopi Bayar dengan Sampah

Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan E-Trash, Platform Jual Beli Sampah Online

8. Pegiat lingkungan hadapi upaya intimidasi dan lobi-lobi belum stigma negatif dari masyarakat

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriIrfan Musarin Kunang, Direktur Walhi Lampung. (Instagram/@irfan.musarin).

Menjadi pegiat peduli lingkungan itu tak mudah. Terlebih mengemban amanat besar menjadi direktur dalam wadah organisasi gerakan lingkungan hidup tertua di Tanah Air yaitu, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Lampung.

Irfan Musarin Kunang, Direktur Walhi Lampung periode 2019-2023 menyebutkan sederet upaya intimidasi hingga berbagai iming-iming lobi turut mewarnai perjalanannya selama berperan aktif mengawal isu lingkungan.

"Secara persoalan juga ikut datang, upaya intimidasi dan intervensi terhadap kita juga ikut terjadi. Upaya lobi-lobi turut mewarnai kegiatan kita di Walhi selama ini," kata Irfan.

Menurutnya, lobi tersebut bukan hanya ditawarkan melalui personal pribadi, kendati upaya itu coba diiming-imingi melalui orang-orang terdekat Irfan.

"Pihak lawan biasanya menawarkan berupa uang, barang, atau kendaraan dengan nilai bervariatif. Ini tantangan kita, bagaimana harus bisa mengawasi diri dan tetap mempersatukan visi dan misi di tengah masyarakat," terang dia.

Selain itu juga adanya pandangan negatif masyarakat terhadap keberadaan Walhi dan pegiat lingkungan. Irfan tak menampik adanya stigma negatif masih acapkali terjadi saat melakukan upaya-upaya kelestarian alam di daerah mereka masing - masing.

"Pasca reformasi banyak bermunculan LSM 'nakal', tapi itu harus menjadi tantangan dimana kita dapat meyakinkan masyarakat bahwa perjuangan ini bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk masyarakat dan lingkungan," terang dia.

Selain itu, masyarakat Lampung sudah cukup mengenal perihal organisasi Walhi. "Jadi kita tinggal mendudukkan persoalan yang ada di lokasi tersebut," sambungnya.

Selain menyoroti sederet kasus menyangkut pelestarian lingkungan, Irfan bersama Walhi Lampung juga mengatakan sudah dan terus melakukan upaya beragam akan kelestarian alam.

Itu seperti halnya mengedukasi tentang lingkungan kepada masyarakat dan mahasiswa, termasuk aksi-aksi penyelamatan lingkungan berupa penanaman pohon, bersih-bersih pantai, dan lainnya.

"Di samping itu kita ikut melakukan kajian-kajian menyangkut pokok pembahasan lingkungan, ini penting sebagai bahan peninjauan titik lokasi kasus lingkungan," tandas Irfan.

Irfan di masa kepemimpinannya di Walhi Lampung juga tercatat telah melakukan sederet upaya pelestarian lingkungan hidup. Itu sejak 2015 dan masih terus berlangsung hingga hari ini.

Upaya tersebut misalnya, advokasi kasus tambang pasir laut di Gunung Anak Krakatau (2015), mendampingi petani Tulang Bawang terlibat konflik dengan PT BNIL (2016), melaporkan pembukaan tambang ilegal di perbatasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Pesisir Barat dan melaporkan Illegal logging di Gunung Betung (2017).

Selain itu, pihaknya juga mendorong Pemerintah Provinsi Lampung mencabut izin pertambangan pasir laut PT LIP di daerah laut Lampung Selatan (2019), meminta pencabutan pertambangan pasir laut PT Sejati 555 di Lampung Timur serta pendampingan kriminalisasi nelayan (2020).

"Mengawal sejumlah kasus reklamasi dan termasuk kita mendorong aparat penegak hukum mengusut temuan limbah di Lamtim Agustus 2020 kemarin, serta kasus limbah serupa terjadi di tahun ini," terang pemilik akun Instagram @irfan.musarin tersebut.

Baca Juga: Kisah Irfan Musarin Pegiat Lingkungan, Lawan Intimidasi dan Imingan Uang

9. Ali Goik kampanyekan pelestarian alam lewat lagu

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriAli Goik (IDN Times/Dokumen)

Upaya menjaga kelestarian alam juga dilakukan dalam bentuk edukasi melalui seni. Salah satunya dilakoni oleh Ali Goik seniman dan pegiat pelestarian alam asal Sumatera Selatan.

Melalui musik Ali menyuarakan pentingnya konservasi lingkungan untuk menyelamatkan alam dan juga ekosistem di dalamnya. Ali menciptakan lagu dengan lirik sarat akan pentingnya menjaga hutan dan ekosistem di dalamnya.

"Hutan adalah rumah kami. Gajah Harimau kawan kami. Jangan kau hancurkan hutan kami dengan mimpi tambangmu." Itulah sepenggal lagu ciptaan Ali Goik.

Lagu berjudul 'Jangan Belah Hutan Kami' menjadi karya yang mengingatkan masyarakat Sumsel dengan agenda baru pemerintah maupun pihak swasta, saat membangun jalan untuk mengangkut hasil tambang batu bara. Jalan tersebut akan membelah hutan harapan yang menjadi hutan alam dataran rendah terakhir milik Sumatera Selatan dan Jambi.

"Lagu-lagu yang saya ciptakan bertema pelestarian alam, tidak lain sebagai cara mengajak masyarakat peduli, baik pada flora dan fauna yang tersisa, maupun komunitas masyarakat adat yang ada. Saya mengampanyekan lewat lagu, bahwa inilah tinggal satu-satunya hutan alam dataran rendah yang tersisa di Sumsel," ungkap Ali Goik kepada IDN Times, Rabu (15/9/2021).

Ali menilai, kampanye pelestarian alam menggunakan lagu menjadi metode yang efektif mengajak masyarakat menyadari bahwa hidup manusia tidak terlepas dari alam. Masyarakat lebih mudah menerima pengetahuan soal pelestarian dari sebuah karya seni, ketimbang berbicara berjam-jam soal cara pelestarian alam.

"Motivasinya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak merusak lingkungan, kampanye lewat lagu saya pikir lebih efektif dan banyak orang yang mendengar. Yang penting kita konsisten," ungkap Direktur Yayasan Depati dan Pemerhati Kebudayaan Batanghari Sembilan itu.

Dirinya mencontohkan pernah membuat lagu tentang lingkungan berjudul 'Sungsangku Bersih'. Saat itu, Sungsang yang berada di kawasan perairan pantai timur Sumsel terlihat tidak terurus. Dirinya lalu mengajak masyarakat Sungsang untuk menjaga lingkungan dengan tak membuang sampah sembarangan.

Proses kreatif itu dianggapnya efektif ketika masyarakat Sungsang berbenah, kemudian menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu tempat pariwisata unggulan di Sumsel.

"Respon masyarakat yang tadinya tidak peduli jadi peduli. Masyarakat yang tadinya cuek sebelum saya buat lagu, setelah didengarkan Alhamdulilah saat ini beguyur (Beranjak) bersih dan bagus," jelas dia.

Ali Goik merasa perlu mengampanyekan hutan alam terakhir Sumsel lewat lagu. Apalagi kini salah satu hutan di Sumsel terancam dengan adanya rencana pembangunan jalan batu bara sepanjang 30,7 kilometer menghubungkan Musi Rawas hingga Bayung Lencir, Musi Banyuasin, yang juga melewati Kabupaten Batanghari, Jambi, sekitar 8,2 kilometer.

Ali bercerita, jika hutan harapan hancur berarti masyarakat akan kehilangan 26 spesies hewan dan tumbuhan langka. Begitu juga dengan 228 keluarga suku kubu Sumsel dan suku anak dalam Batin Sembilan Jambi akan kehilangan penghidupan. Hutan harapan menjadi benteng terakhir mereka bertahan menjaga alam.

Suku Kubu merupakan suku terakhir di Sumsel yang hidup secara nomaden di dalam hutan. Mereka bertahan hidup dengan cara berburu. Pembangunan jalan khusus angkutan batu bara membuat mereka kewalahan dan semakin terpinggirkan.

"Di dalam hutan banyak komunitas suku Kubu Sumsel. Masih banyak juga binatang dilindungi seperti gajah dan harimau," ujar dia.

Ali Goik bersama rekan-rekan lain dari Pemerhati Lingkungan, LSM, terus mengupayakan agar pemerintah pusat khususnya di Sumsel dapat berbenah. Kelestarian alam menjadi tolak ukur masyarakat yang hidup di dalamnya. Semakin banyak alam yang rusak, maka bencana alam selalu mengintai.

"Sama seperti di Palembang ini yang terkenal karena kota Sungai dan Rawa. Tapi lihat sekarang, rawa ditimbun dan sungai-sungai kecil menghilang. Sungai besar mengalami pendangkalan. Dampaknya banjir saat musim hujan," tutup dia.

Ali Goik sudah mengeluarkan beberapa album lagu bertemakan kelestarian alam. Pesannya hanya satu, mengingatkan masyarakat untuk sadar akan hubungan manusia dan alam yang semakin hari seolah manusia memunggungi alam.

Baca Juga: Ali Goik Ajak Warga Sumsel Lestarikan Alam Lewat Lagu

10. Banksasuci jadi tempat vaksinasi, ikut menjadi bagian demi mencapai kekebalan kelompok

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriAde Yunus Saat menunjukan botol plastik bekas yang dikumpulkan Banksasuci (IDN Times/Muhammad Iqbal)

Tak melulu tentang menjaga lingkungan, kesehatan masayarakat di masa pandemik COVID-19 juga dilakukan oleh Taman Bank Sampah Sungai Cisadane juga menjadi lokasi vaksinasi. Hal itu dilakukan untuk mempercepat program vaksinasi daerah.

"Alhamdulillah, kita Sudah laksanakan Kegiatan Percepatan Vaksinasi di wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang, dengan total lebih kurang 6.000 Dosis," kata Ade Yunus, Direktur Banksasuci Foundation, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Ade, kegiatan vaksinasi yang dilaksanakannya merupakan upaya turut serta terlibat aktif membantu pemerintah dalam mewujudkan herd immunity atau kekebalan komunitas.

"Selama pandemik tempat wisata edukasi kami tutup, sejak itu pula, kami berkomitmen untuk membantu pemerintah untuk mengakhiri masa pandemik menuju endemik, bila herd immunity sudah tercapai, kita bisa beraktivitas seperti biasa dengan adaptasi kebiasaan baru," tambahnya.

Banksasuci memulai kegiatan Tur Vaksinasi sejak awal Agustus lalu yang dimulai di Kecamatan Kelapa Dua, Kecamatan Sukadiri, Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang dan Berakhir di markas Banksasuci Kecamatan Cibodas Kota Tangerang.

Banksasuci terbentuk pada Desember 2012. Berawal dari lima orang pemuda pehobi naik dan turun gunung mendapat ilham di sebuah saung kecil di tepian Sungai Cisadane. Kala itu, mereka ingin membersihkan aliran sungai dari sampah.

Mereka adalah Iyus yang kala itu berusia 32 tahun, Dayak Supriatna (27), Afandi Ahmad (26), Ade Yunus (25), dan Almarhum Uca (30). Keinginan mereka tak muluk, hanya ingin membersihkan sungai dan belukar di tepian dan sekitar delta Sungai Cisadane.

Cita-cita itu mereka tuangkan dengan membuat komunitas sosial bernama Banksasuci yang berlokasi di Gang Muara Buntu, RT 03 RW 01, Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang.

Banksasuci sendiri merupakan akronim dari Bank Sampah Sungai Cisadane. Disebut "bank sampah" karena pada praktiknya, mereka mengumpulkan sampah dari Sungai Cisadane dan menerima tabungan sampah dari warga dan kelompok-kelompok masyarakat untuk selanjutnya dibarter dengan sebuah barang kebutuhan atau berupa nominal angka rupiah.

Tak disangka, Banksasuci justru menjelma menjadi pintu rejeki baginya dan puluhan orang.

Salah satu program Banksasuci adalah mengambil sampah dari Sungai Cisadane menggunakan perangkap sampah apung atau disebut waste trap. Alat ini dibentangkan selebar dari tepi ke tepi sungai yang mengalir dari hulu di gunung Salak Bogor dan bermuara di Tanjung Burung, utara Kabupaten Tangerang itu.

Ade Yunus bercerita bahwa di awal-awal mereka hanya menggunakan alat sederhana untuk waste trap, yakni berbahan dasar bambu. Modal pun tak banyak, Rp15 ribu saja. Sayangnya, alat itu tidak bertahan lama dalam melawan melimpahnya sampah yang melaju kencang dihempas aliran sungai.

Upaya berat Ade Yunus cs tentu tak hanya itu. Ade beserta rekannya juga harus membereskan belukar di sekitar bentangan waste trap mereka.

Ade dan kawan-kawannya pun ingin menghilangkan stigma sungai itu sebagai "tempat jin buang anak". "Karena lokasi itu identik dengan kesan seram dan mistik. Kami ingin masyarakat berteman dengan sungai," kata Ade Yunus kepada IDN Times, Senin (14/12/2020).

Dari bambu itu, kini Banksasuci sudah bisa menggunakan waste trap yang lebih modern dan bisa menampung sampah lebih banyak.

Setiap hari, Banksasuci berhasil mengumpulkan sekitar 120 hingga 200 kilogram sampah. Isinya bermacam-macam, mulai dari sampah dedaunan hingga plastik botol. Alat waste trap yang dimiliki Banksasuci juga berfungsi sebagai sebagai jembatan apung menuju delta sungai.

Rekor sampah terbanyak yang berhasil diraup dari sungai terjadi saat peristiwa Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cipeucang, Tangerang Selatan longsor ke Sungai Cisadane pada 22 Mei 2020. Saat dan usai peristiwa itu Banksasuci bisa menjebak sampah sebesar satu ton dalam sehari.

Merawat Bumi, Cerita Para Pelestari Lingkungan Menjaga Alam Tetap AsriIDN Times/Aditya Pratama

Tim Penulis:Ardiansyah Fajar, MohamadUlil, Muhammad Iqbal, Muhammad Rangga Efrizal, Ayu AfriaUlitaErmalia, Daruwaskita, DebbieSutrisno, TamaWiguna, Anggun Puspitoningrum, Sri Wibisono, FarizFardianto, AshrawiMuin, MasdalenaNapitupulu

Baca Juga: Aktivis Lingkungan Banksasuci Bantu Percepatan Vaksinasi 

Topic:

  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya