Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

16.716 Nelayan Kecil di Jateng Gagal Melaut Akibat Dilanda Ombak Tinggi

16.716 Nelayan Kecil di Jateng Gagal Melaut Akibat Dilanda Ombak Tinggi
Nelayan di Kabupaten Tangerang terdampak wabah COVID-19 (ANTARA FOTO/Fauzan)
Share Article

Semarang, IDN Times - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah menyebutkan tak kurang 16.716 nelayan yang memiliki perahu mesin di bawah 15 Gross Ton (GT) tidak bisa melaut lantaran terkena imbas ombak tinggi yang melanda perairan Pantau Utara (Pantura) dan perairan Pantai selatan (Pansela) Jawa Tengah.

1. Mayoritas nelayan Pantura dan pansela menunda melaut

ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng, Fendiawan Tiskiantoro, ribuan nelayan berperahu kecil sebagian besar terdampak kenaikan gelombang laut yang melanda perairan utara maupun perairan selatan.

Perahu nelayan di bawah 15 GT biasanya bisa membawa tiga orang setiap kali melaut.

"Tapi kalau ombaknya lagi tinggi kayak gini mereka kemungkinan besar menunda berlayar. Karena dengan ombak ketinggian 1,25 meter aja kapal-kapal nelayan yang kecil udah gak bisa beroperasi," ujar Fendiawan saat dikonfirmasi IDN Times, Selasa (27/12/2022). 

2. Hanya nelayan one day fishing yang berani melaut

Ilustrasi nelayan (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Ilustrasi nelayan (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Fendi mencontohkan, banyak nelayan di Pelabuhan Tasikagung yang memilih libur bekerja karena semua dermaga setiap harinya dilanda ombak tinggi. 

Tak cuma itu saja, ia berkata para nelayan yang memiliki perahu di atas 30 GT juga memilih menunda melaut sampai cuacanya kembali mereda. 

Siklus yang dialami para nelayan merupakan kondisi tahunan yang mana selama 12 bulan, nelayan hanya bisa beroperasi delapa bulan. Sedangkan empat bulan sisanya digunakan untuk libur melaut dan memperbaiki alat jaring dan perahunya. 

"Palingan yang bisa curi-curi kesempatan itu yang sifatnya one day fishing atau nelayan yang nyari ikannya diselang-seling, nah mereka masih berani cari ika. Apalagi kan sebenarnya pas musim baratan kayak gini di perairan banyak sekali ikannya. Cuman yang kapal kapasitasnya besar di atas 30 GT kebanyakan berlindung di kepulauan sampai cuaca membaik," sambungnya. 

3. DKP Jateng minta nelayan jangan melaut saat ombak tinggi

ilustrasi laut dan ombak (IDN Times/Sunariyah)
ilustrasi laut dan ombak (IDN Times/Sunariyah)

Lebih lanjut, ketimbang kondisi cuaca tahun lalu, ia memaparkan cuaca ekstrem yang terjadi sekarang jauh lebih besar dampaknya. 

Ia bahkan berusaha berkomunikasi dengan masing-masing kantor syahbandar wilayah pesisir untuk menginformasikan berkaitan dengan bahaya melaut bagi para nelayan. 

"Kita melalui syahbandar pelabuhan saat ini sering ingatkan kepada nelayan lebih baik untuk meningkatkan kehati-hatian. Jangan melaut dulu karena cuacanya sedang tergolong ekstrem. Meski ini tentunya berpengaruh pada produksi ikan yang menjadi sangat sedikit," ungkapnya. 

4. Dinas Kelautan tiap daerah diminta salurkan dana paceklik

Seorang nelayan bersiap mengisi BBM di SPBU Nelayan, Bitung, Sulawesi Utara, saat peluncuran Program Solusi Nelayan, Sabtu (24/9/2022). IDNTimes/Ungke Pepotoh/bt
Seorang nelayan bersiap mengisi BBM di SPBU Nelayan, Bitung, Sulawesi Utara, saat peluncuran Program Solusi Nelayan, Sabtu (24/9/2022). IDNTimes/Ungke Pepotoh/bt

Fendi pun kini mendorong kepada Dinas Kelautan masing-masing daerah di Jawa Tengah untuk menumbuhkan rasa empatinya dengan menyalurkan dana paceklik.

Dana paceklik yang dimaksud Fendi berupa uang tunai yang selama ini dihimpun oleh tiap kantor Dinas Kelautan sebagai dana simpanan untuk berjaga jika setiap waktu terjadi bencana alam yang dialami para nelayan. 

5. Cuaca mereda saat akhir Februari 2023

Kepala BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno menunjukkan pergerakan awan hujan yang terpantau dari citra satelit milik BMKG. (IDN Times/Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang)
Kepala BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno menunjukkan pergerakan awan hujan yang terpantau dari citra satelit milik BMKG. (IDN Times/Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang)

Selain itu, ia akan memanfaatkan dana dari Baznas untuk membantu kesulitan ekonomi yang dialami nelayan kecil. Baznas akan dikucurkan dalam bentuk pemberian paket sembako. 

"Ada juta asuransi dari program nelayan kerja yang sering kita cairkan buat 10 ribu orang setiap tahun. Ini tujuannya buat melindungi keselamatan jiwa para nelayan," akunya. 

Fendi menambahkan cuaca ekstrem yang melanda wilayah perairan diperkirakan mereda akhir Februari 2023 mendatang.

"Perkirakannya cuaca mereda akhir Februari 2023," tukasnya. 

Share Article
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Dhana Kencana
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More

Mantan Artis Terlibat Kasus Pig Butchering di Jateng, Modusnya Ngonten

01 Jun 2026, 17:05 WIBNews