Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Cara Pemprov Jateng Cegah Krisis Pangan Tahun 2023

5 Cara Pemprov Jateng Cegah Krisis Pangan Tahun 2023
(Ilustrasi petani.pxhere)
Share Article

Semarang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang berusaha meningkatkan produksi tanaman pangan terutama padi, jagung dan kedelai (pajale). Sehingga nantinya bisa dimanfaatkan mencukupi kebutuhan masyarakat ketika terjadi krisis pangan tahun 2023 mendatang. 

Pelaksana Tugas Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Indri Nur Septiorini menuturkan sektor pertanian Jawa Tengah akan melakukan terobosan untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. 

Di antaranya dengan penerapan indeks pertanaman (IP) 400. Dengan kata lain sebuah lahan bisa ditanam hingga empat kali. "Bukan hanya untuk padi, komoditas pertanian lain pun bisa menerapkan hal ini," kata Indri, Senin (24/10/2022).

1. Distanbun janji bantu pemberian benih unggul bagi para petani

Ilustrasi sawah. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Ilustrasi sawah. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Tak cuma itu saja, para petani masing-masing kabupaten/kota difasilitasi bantuan pupuk organik untuk perbaikan struktur dan tesktur tanah sehingga tanah menjadi subur. 

Pemprov, kata Indri turut memberikan benih unggul bersertifikat serta alsintan guna mendukung percepatan dan efisiensi dalam kegiatan usaha tani. 

Ia menuturkan faktor SDM juga sangat menentukan dalam pencapaian target produksi sehingga kompetensi petani, petugas terus ditingkatkan dengan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas petani maupun petugas. 

2. Optimis bisa antisipasi kejadian tahun depan

ilustrasi aktivitas pertanian. (Dok. Kementan)
ilustrasi aktivitas pertanian. (Dok. Kementan)

Lebih lanjut, proses pendampingan dan pengawalan dilakukan Petugas Pengamat organisme penggangu tanaman (OPT) melalui peramalan, pengendalian OPT.

"Insyaallah kita optimis. Kita juga ada strategi mengantisipasi hal-hal yang banyak dikhawatirkan oleh banyak pihak termasuk kami. Dengan strategi ini kami optimis (memasuki 2023)," ujar Indri. 

3. Produksi kedelai Jateng minus

Penyaluran kedelai bersubsidi oleh Perum Bulog ke perajin tahu dan tempe. (dok. Bulog)
Penyaluran kedelai bersubsidi oleh Perum Bulog ke perajin tahu dan tempe. (dok. Bulog)

Meski demikan, pihaknya mengakui kondisi harga dan ketersediaan pangan juga berpaut dengan stabilitas ekonomi dan pasokan energi. "Harus kerja antar sektor seperti dinas ketahanan pangan dan dinas perdagangan," ungkapnya. 

Berdasarkan catatan Distanbun Jateng, berkaitan produksi tanaman padi, jagung, kedelai atau pajale, sementara ini hanya kedelai yang produksinya minus. Sementara komoditas padi dan jagung untuk konsumsi dan pakan ternak melebihi kebutuhan. 

4. Produksi padi tahun ini diprediksi mencapai 5,5 juta ton

ilustrasi petani (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
ilustrasi petani (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Tercatat realisasi produksi padi hingga September 2022 mencapai 8.238.177 ton.  Prediksi tahun 2022  untuk produksi padi bisa mencapai 9.579.069 ton, atau sekitar 5,5 juta ton beras. 

Pada 2020 produksi beras mencapai 5,43 juta ton. Sedangkan produksi beras di tahun 2021 atau sekitar 5.531.297 ton beras. 

Adapun, untuk produksi jagung hingga September 2022 mencapai 3.047.712 ton. Sementara, produksi kedelai hingga bulan yang sama baru mencapai 47.246 ton. 

5. Dishanpan akan beri subsidi dari anggran APBD

Ilustrasi pupuk subsidi. (Dok. Kementan)
Ilustrasi pupuk subsidi. (Dok. Kementan)

Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng mencatat, produksi pangan pokok seperti beras memang mengalami surplus. Kepala Dishanpan Jateng Dyah Lukisari mengatakan, harga beras dipengaruhi juga oleh dinamika pasar. 

Dyah menjelaskan, selain pengaruh belum adanya panen terjadi pula kenaikan permintaan. Ia menyebutkan adanya informasi sebuah perusahaan swasta yang melakukan pembelian beras cukup besar. Hal itu secara tidak langsung ikut mengerek harga beras di pasaran. 

Oleh karena itu, beberapa strategi telah dirancang untuk menstabilkan harga dan pasokan. Seperti program subsidi kepada konsumen atau produsen, disesuaikan dengan kondisi harga pangan saat itu. 

"Kita akan terapkan subsidi dengan APBD untuk harga naik atau turun. Selama ini kan dengan CSR. Anggaran sudah disiapkan cuma cara mengoperasionalkan secara administrasi kita rembug TAPD dan inspektorat.  Prinsipnya harga naik  atau turun, bisa kita subsidi harga plus bantuan distribusi," urainya. 

6. Jateng diklaim tidak akan alami krisis pangan

Ilustrasi Resesi (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Resesi (IDN Times/Arief Rahmat)

Program ini menurut Dyah sudah diterapkan oleh Pemprov Jateng. Seperti yang diperintahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan gerakan "ASN Berbagi" dengan cara membeli komoditas tomat, kubis dan telur yang saat itu harganya anjlok. 

Dengan cara tersebut, para petani yang telah susah payah menanam tidak mengalami kerugian. Hal lain yang dilakukan pemerintah ialah dengan melakukan bazar pangan. Selain itu BUMD Agro Jateng Berdikari diharapkan mampu menjadi off taker dalam bidang pangan. 

"Insyaallah untuk pangan di Jateng kita tidak krisis di 2023. Kita sentra pangan juga punya instrumen untuk melakukan stabilisasi pasokan dan potensi pangan lokal kita banyak," pungkas Dyah.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More

Rahasia Nonton TV di Laptop Tanpa Kuota, 100 Persen Legal dan Anti-Lag!

28 Jun 2026, 07:00 WIBNews