Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Dampak Positif Puasa Ramadan bagi Penderita Hipertensi

ilustrasi ramadhan (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi ramadhan (pexels.com/Thirdman)
Intinya sih...
  • Metabolic switch terjadi saat puasa, mengubah cara tubuh mendapatkan energi dan dikaitkan dengan penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi.
  • Berpuasa meningkatkan indeks augmentasi, membuat pembuluh darah lebih lentur dan mudah menyesuaikan dengan tekanan darah tubuh pada pasien hipertensi.
  • Puasa menyebabkan penurunan insulin yang membuat pembuluh darah lebih rileks dan fleksibel, serta mengurangi vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Berpuasa merupakan rukun Islam yang wajib dijalankan oleh umat muslim selama bulan Ramadan. Namun, bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), puasa kerap menjadi tantangan tersendiri.

Padahal, jika kamu melakukannya dengan benar, puasa justru membawa manfaat kesehatan yang signifikan. Penasaran apa saja pengaruhnya? Berikut adalah penjelasan mengenai lima efek positif berpuasa bagi kamu yang memiliki riwayat hipertensi.

1. Terjadinya metabolic switch pada tubuh

ilustrasi ramadhan (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi ramadhan (pexels.com/Thirdman)

Saat puasa di bulan Ramadhan, umat muslim tidak makan dan minum mulai dari waktu imsak hingga bedug maghrib. Tubuh pun tidak memperoleh asupan makanan dan minuman selama beberapa jam. Kondisi ini menyebabkan tubuh mengalami perubahan dalam sistem operasinya.

Ketika dalam kondisi normal, tubuh memperoleh energi dengan memanfaatkan glukosa. Namun, saat berpuasa selama lebih dari 8 jam, cara tubuh untuk mendapatkan energi berubah dengan memanfaatkan keton dan lemak. Perubahan ini disebut dengan metabolic switch, dimana fenomena ini dikaitkan oleh para peneliti dengan mekanisme penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi selama proses puasa berdasar New England Journal of Medicine.

2. Indeks augmentasi membaik

ilustrasi hipertensi (wikimedia.org/Steven Fruitsmaak)
ilustrasi hipertensi (wikimedia.org/Steven Fruitsmaak)

Kelenturan pembuluh darah membantu untuk tekanan darah tetap stabil. Indeks augmentasi yang rendah menunjukan jika pembuluh darah mengalami kekakuan dan sulit untuk menyesuaikan dengan tekanan darah tubuh. Namun, pada studi The Journal of the Pakistan Medical Association, berpuasa ternyata memberi solusi masalah ini.

Dengan melakukan puasa, indeks augmentasi pada tubuh pun meningkat. Sehingga, pembuluh darah pun menjadi lentur dan mudah menyesuaikan dengan tekanan darah tubuh. Namun, fenomena ini terjadi hanya pada pasien hipertensi tanpa disertai dengan masalah ginjal.

3. Pembuluh darah lebih rileks

ilustrasi vasokonstriksi (wikimedia.org / http://www.scientificanimations.com/)
ilustrasi vasokonstriksi (wikimedia.org / http://www.scientificanimations.com/)

Berpuasa menyebabkan tubuh mengalami proses metabolic switch. Proses ini selain mengubah sistem energi tubuh, juga mempengaruhi hormon insulin. Ketika dalam kondisi metabolic switch, terjadi penurunan hormon insulin pada tubuh.

Penurunan insulin menyebabkan perubahan dalam aktivitas saraf simpatik dan parasimpatik. Dengan terjadinya penurunan insulin, aktivitas saraf simpatik menjadi turun yang menyebabkan berkurangnya vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah. Sehingga, pembuluh darah menjadi lebih rileks dan fleksibel dengan tekanan darah tubuh (Cell Metabolism, 2018).

4. Perubahan penyerapan natrium di ginjal

ilustrasi organ ginjal (unsplash.com/Robina Weermeijer)
ilustrasi organ ginjal (unsplash.com/Robina Weermeijer)

Penurunan kadar hormon insulin selama berpuasa membawa banyak sekali perubahan dalam sistem kerja tubuh. Salah satunya, perubahan dalam penyerapan natrium yang ada dalam darah di organ ginjal.

Dalam keadaan normal, natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Sayangnya, terlalu banyak natrium yang diserap ginjal, menyebabkan tekanan darah meningkat karena volume darah naik. Namun, ketika berpuasa, kadar insulin yang menurun menyebabkan penurunan pula pada penyerapan natrium di ginjal. Akibatnya, terjadi peningkatan diuresis atau pengeluaran air dan penurunan volume darah. Dengan demikian, tekanan darah cenderung menurun (Diabetology & Metabolic Syndrome, 2014).

5. Pelepasan faktor neurotropik oleh otak

ilustrasi organ otak (unsplash.com/Robina Weermeijer)
ilustrasi organ otak (unsplash.com/Robina Weermeijer)

Ketika seseorang berpuasa, kinerja biologis tubuh pun akan berubah seiring dengan kondisi yang dialami. Dalam hal ini, ketika berpuasa terjadi pelepasan faktor neurotropik pada otak berdasarkan jurnal Nutrients.

Pelepasan faktor neurotropik ini memberikan dampak pada aktivitas saraf parasimpatik dan peningkatan sensitivitas insulin. Kedua kondisi ini saling bersinergi dalam membantu penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi saat mereka melakukan puasa.

Efek positif puasa di bulan Ramadan ini menjadi kabar baik bagi penderita hipertensi. Selain menunaikan kewajiban agama, kamu juga dapat mengefisiensikan penanganan masalah tekanan darah tinggi.

Namun, pastikan kamu tetap melakukan pemeriksaan rutin dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai puasa. Langkah ini penting untuk mencegah efek samping yang mungkin timbul akibat perbedaan kondisi fisik setiap individu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
Dhana Kencana
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

5 Rutinitas Ibadah Nabi Muhammad SAW yang Patut Diteladani saat Ramadan

19 Feb 2026, 07:00 WIBNews