Semarang, IDN Times – Banyak orang masih rajin mengganti password, mengaktifkan verifikasi dua langkah, hingga merahasiakan PIN bank. Namun, ada satu data pribadi yang justru semakin sering dibagikan tanpa disadari, yakni wajah.
Hidup di era kecerdasan buatan (AI), wajah bukan lagi sekadar foto profil atau identitas visual. Data biometrik tersebut kini menjadi “kunci digital” yang digunakan untuk membuka ponsel, mengakses rekening bank, verifikasi pinjaman online, hingga layanan publik berbasis pengenalan wajah.
Guru Besar Bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata (SCU) Semarang, Prof. Ridwan Sanjaya, mengingatkan bahwa risiko kebocoran data wajah jauh lebih serius dibanding password.
“Kalau password bocor, kita tinggal mengganti password. PIN bisa diganti. Tapi wajah tidak bisa diganti,” kata Ridwan kepada IDN Times.
Lantas, bagaimana cara melindungi wajah agar tidak disalahgunakan untuk penipuan digital, deepfake, atau pencurian identitas?
