Banyak Bule Kepincut Gamelan, Karawitan Jawa Gak Akan Punah!

- Banyak warga asing di Eropa, Amerika, Australia, dan New Zealand tertarik mempelajari gamelan, membuktikan karawitan Jawa tetap diminati dan tidak akan punah.
- Karawitan Jawa dianggap lebih dari sekadar musik tradisional karena mencerminkan filosofi hidup dan nilai keselarasan yang menarik perhatian masyarakat global.
- Prof Widodo mendorong pelaku karawitan beradaptasi dengan era digital serta mendekatkan diri ke Gen Z melalui media sosial dan inovasi karya tanpa meninggalkan akar tradisi.
Semarang, IDN Times - Pagelaran kesenian karawitan Jawa sampai sekarang tetap digandrungi masyarakat Indonesia. Sekretariat Gamelan Indonesia (SGI) menunjukkan fakta bahwa banyaknya bule di Eropa, Amerika Serikat hingga New Zealand yang tertarik belajar gamelan justru mematahkan prediksi kalau karawitan Jawa akan punah di masa mendatang.
1. Predikat karawitan sebagai seni adi luhung sudah melekat

Sekjen SGI, Prof Widodo Msn mengatakan karawitan selama ini bisa diterima dengan baik di seantero dunia.
"Dan saya yakin walaupun karawitan Jawa akan punah seperti dikhawatirkan banyak orang, tapi saya yakin tidak. Predikat karawitan sebagai kesenian adi luhung sudah melekat dan umurnya sudah melewati masa yang macam-macam," kata Widodo yang barusan dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Seni Karawitan Jawa di Auditorium Prof Muryanto, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sekaran Kecamatan Gunungpati, Senin (20/4/2026).
2. Karawitan Jawa menggambarkan nilai-nilai budaya

Di samping itu, dirinya tak risau apabila masyarakat Indonesia kurang berminat mempelajari karawitan. Sebab masih banyak warga asing yang tertarik mempelajari karawitan terutama di Amerika Serikat, Australia, Eropa dan New Zealand.
Temuan terbaru juga menyebutkan munculnya Institut Gamelan Amerika. Sebaran kesenian karawitan juga merambah ke Inggris dan hampir seantero Eropa. "Nyatanya sekarang hampir seluruh daratan di dunia ini memainkan kesenian gamelan," tegasnya.
Tingginya antusiasme masyarakat luar negeri untuk belajar karawitan Jawa tak lepas dari pergeseran perilaku yang berada di titik jenuh.
Seseorang yang memilih belajar karawitan otomatis beralih mempelajari sebuah filosofi hidup pada kegiatan kesenian.
Karawitan Jawa bukan sekadar seni musik tradisional, melainkan representasi nilai budaya yang menekankan prinsip keselarasan dalam kehidupan. Karawitan Jawa yang sudah berusia ratusan tahun telah melewati dinamika perjalanan kebudayaan yang panjang.
"Andaikata di sini tidak dipedulikan, tapi di sana tetap diminati. Di Amerika ada Institut Gamelan Amerika. Juga di Inggris dan hampir seluruh daratan Eropa di New Zealand, Australia. Animo masyarakat malah lebih banyak di luar negeri. Mereka belajarnya tenanan. Tidak hanya musik tetapi juga mempelajari filosofinya. Di era matrealisti ini mereka jenuh akhirnya beralih mempelajari karawitan," jelasnya.
3. Pemain karawitan diminta dekatkan diri dengan Gen Z

Biar seni karawitan tetap langgeng pada masa mendatang, dirinya mendorong para pemainnya beradaptasi dengan memanfaatkan aplikasi medsos dan perangkat lunak lainnya.
Selain itu, ia mendorong pemain karawitan secara masif mendekatkan diri dengan komunitas anak-anak Gen Z dengan memproduksi karya karya baru sembari mempertahankan konsep dan nilai untuk tetap dijaga.
Adapun ia saat ini juga mengembangkan inovasi rekonstruksi laras dan model garap gending yang melahirkan pendekatan baru dalam pengembangan karawitan tanpa meninggalkan akar tradisi. Inovasi telah menghasilkan puluhan gending, dengan 28 di antaranya tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang dimanfaatkan sebagai karya artistik sekaligus media pembelajaran.
4. Setiap guru besar perlu tunjukkan inovasi ilmu pengetahuan

Sedangkan pada hari ini, selain Prof Widodo, Unnes juga mengukuhkan tiga guru besar lainnya. Antara lain Prof Taufiq Hidayah, M.Kes yang jadi guru besar bidang pedagogi olahraga, Prof Sigit Priatmoko, M.Si, guru besar bidang kimia terapan dan Prof Rina Supriatnaningsih, M.Pd, guru besar bidang keterampilan berbicara.
Rektor Unnes, Prof S Martono menyampaikan para guru besar yang dikukuhkan hari ini diharapkan mampu memberi sumbangsih terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi bagi kampusnya.
















