Peternak memanen telur ayam ras di sentra peternakan ayam petelur Desa Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Di sektor riil, tantangan terbesar pengendalian harga saat ini bukan pada seberapa banyak petani menanam, melainkan ke mana hasil panen itu dijual. Secara akumulatif, Jawa Tengah memiliki total produksi pangan yang surplus dan jauh melampaui kebutuhan warganya. Namun, disparitas harga tetap terjadi akibat tingginya volume pasokan yang lari ke luar wilayah.
"Sebenarnya produksi kita cukup kalau dibandingkan dengan kebutuhannya, tapi ternyata harganya masih tetap tinggi karena sebagian itu distribusinya ke luar wilayah Jawa Tengah. Nah, yang kita coba lakukan adalah menjembatani hal itu," jelasnya.
Untuk memutus rantai kebocoran itu, BI Jawa Tengah kini aktif mempertemukan petani dengan off-taker lokal.
"Jadi barang-barang yang kita produksi kita harapkan bisa diserap off-taker lokal dan nanti dipasarkan kembali di wilayah Jawa Tengah, terutama untuk daerah yang defisit," tambahnya.