Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Beras dan Telur Cepat Ludes, Pangan Murah Digagas Seminggu Sekali
Gerakan Pangan Murah untuk menjaga ketahanan pangan di Kota Semarang. (Dok. Pemkot Semarang)
  • Beras dan telur paling cepat habis dalam Gerakan Pangan Murah Semarang, sehingga Wali Kota Agustina Wilujeng mendorong peningkatan pasokan dan pelaksanaan minimal sepekan sekali hingga tingkat RW.
  • Januari–Agustus 2026, GPM digelar di 1.085 titik dengan omzet Rp5,013 miliar; program serentak Agustus menjangkau 729 RW serta menyalurkan 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng.
  • Pemkot Semarang juga mengembangkan Bulir Padi untuk mendorong keluarga memproduksi pangan melalui pekarangan, kolam lele, dan ayam petelur, melengkapi intervensi harga lewat Kempling Semar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Semarang, beras dan telur murah cepat habis karena banyak orang membelinya. Wali Kota Agustina ingin pasar pangan murah ada paling tidak seminggu sekali dan dekat rumah warga. Dari Januari sampai Agustus, pasar ini sudah datang ke banyak tempat. Warga juga diajak menanam makanan, memelihara lele, dan ayam di rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Beras dan telur menjadi dua komoditas yang paling cepat ludes dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Semarang. Tingginya permintaan itu membuat Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong GPM digelar lebih sering, bahkan hingga tingkat RW.

1. GPM perlu digelar rutin

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memantau harga pangan di pasar tradisional. (dok. Pemkot Semarang)

Agustina mengatakan, GPM melalui Kempling Semar tidak seharusnya hanya muncul ketika terjadi gejolak harga pangan. Program tersebut perlu dibuat rutin agar warga bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau tanpa harus pergi jauh dari lingkungan tempat tinggal.

“Harapannya kegiatan pangan murah ini tidak berhenti pada hari ini saja, tetapi tetap berlanjut dan konsisten sepanjang tahun,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).

Saat berdialog secara daring dengan 16 kecamatan, Agustina mendapat laporan bahwa beras dan telur menjadi komoditas yang paling cepat habis. Temuan itu akan menjadi bahan evaluasi untuk menyesuaikan volume pasokan sekaligus meningkatkan frekuensi pelaksanaan.

“Jika memungkinkan, frekuensinya bisa ditingkatkan, paling tidak sepekan sekali. Semakin sering digelar, tentu manfaatnya akan semakin dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

2. GPM jangkau 1.085 titik

Pemerintah Kota Semarang menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak di 177 Kelurahan yang dipusatkan di Halaman Balaikota Semarang, Rabu (11/3/2026). (dok. Pemkot Semarang)

Dorongan tersebut muncul di tengah cakupan GPM Kota Semarang yang terus meluas. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, GPM telah digelar di 1.085 titik dengan total omzet mencapai Rp5,013 miliar.

Khusus GPM serentak tingkat RW selama Agustus, program tersebut telah menjangkau 729 dari 1.532 RW di Kota Semarang.

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng telah disalurkan, selain berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Kempling Semar sendiri beroperasi setiap hari secara bergiliran dari satu kampung ke kampung lainnya dengan melibatkan pemerintah kota, distributor pangan dan pengurus wilayah.

Dengan pola tersebut, pemerintah ingin akses pangan tidak terkonsentrasi di satu lokasi atau hanya tersedia dalam agenda tertentu, tetapi mendekati permukiman warga.

3. Dorong ketahanan pangan dari tingkat keluarga

Program Ketahanan Pangan Keliling Semarang (Kempling Semar) di Kota Semarang mulai beroperasional menjangkau permukiman warga untuk menawarkan komoditas pangan dengan harga murah. (IDN Times/bt)

Selain memperbanyak GPM, Pemkot Semarang mulai mendorong ketahanan pangan dari tingkat keluarga.

Melalui program Bulir Padi (Budi Daya Pekarangan Pangan dan Gizi), masyarakat diajak memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk menghasilkan sebagian kebutuhan pangan.

Program tersebut mencakup budidaya tanaman pangan, kolam lele hingga ayam petelur yang dapat dikembangkan di lingkungan RT/RW.

“Kita perlu membangun ‘rumah pangan’ mandiri dari tingkat keluarga untuk mengantisipasi potensi gejolak maupun tantangan ekonomi di masa depan,” ujar Agustina.

Artinya, strategi pangan murah Semarang tidak hanya mengandalkan intervensi harga melalui GPM. Pemerintah juga mulai mendorong warga memiliki sumber pangan sendiri agar ketergantungan terhadap pasokan pasar bisa dikurangi.

4. Bentuk intervensi yang langsung sentuh masyarakat

Program Ketahanan Pangan Keliling Semarang (Kempling Semar) di Kota Semarang mulai beroperasional menjangkau permukiman warga untuk menawarkan komoditas pangan dengan harga murah. (IDN Times/bt)

Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Bank Indonesia. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, menilai Kempling Semar menjadi salah satu bentuk intervensi yang langsung menyentuh masyarakat.

“Kami mengapresiasi komitmen Kota Semarang yang konsisten melakukan langkah nyata dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga. Kempling Semar menjadi bentuk intervensi yang tepat waktu dan langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dengan permintaan beras dan telur yang terus tinggi, Pemkot Semarang kini menghadapi pekerjaan berikutnya, yakni memastikan pangan murah tidak hanya tersedia, tetapi tersedia cukup, rutin, dan sedekat mungkin dengan rumah warga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article