Semarang, IDN Times - Beras dan telur menjadi dua komoditas yang paling cepat ludes dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Semarang. Tingginya permintaan itu membuat Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong GPM digelar lebih sering, bahkan hingga tingkat RW.
Beras dan Telur Cepat Ludes, Pangan Murah Digagas Seminggu Sekali

1. GPM perlu digelar rutin
Agustina mengatakan, GPM melalui Kempling Semar tidak seharusnya hanya muncul ketika terjadi gejolak harga pangan. Program tersebut perlu dibuat rutin agar warga bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau tanpa harus pergi jauh dari lingkungan tempat tinggal.
“Harapannya kegiatan pangan murah ini tidak berhenti pada hari ini saja, tetapi tetap berlanjut dan konsisten sepanjang tahun,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).
Saat berdialog secara daring dengan 16 kecamatan, Agustina mendapat laporan bahwa beras dan telur menjadi komoditas yang paling cepat habis. Temuan itu akan menjadi bahan evaluasi untuk menyesuaikan volume pasokan sekaligus meningkatkan frekuensi pelaksanaan.
“Jika memungkinkan, frekuensinya bisa ditingkatkan, paling tidak sepekan sekali. Semakin sering digelar, tentu manfaatnya akan semakin dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
2. GPM jangkau 1.085 titik
Dorongan tersebut muncul di tengah cakupan GPM Kota Semarang yang terus meluas. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, GPM telah digelar di 1.085 titik dengan total omzet mencapai Rp5,013 miliar.
Khusus GPM serentak tingkat RW selama Agustus, program tersebut telah menjangkau 729 dari 1.532 RW di Kota Semarang.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng telah disalurkan, selain berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Kempling Semar sendiri beroperasi setiap hari secara bergiliran dari satu kampung ke kampung lainnya dengan melibatkan pemerintah kota, distributor pangan dan pengurus wilayah.
Dengan pola tersebut, pemerintah ingin akses pangan tidak terkonsentrasi di satu lokasi atau hanya tersedia dalam agenda tertentu, tetapi mendekati permukiman warga.
3. Dorong ketahanan pangan dari tingkat keluarga
Selain memperbanyak GPM, Pemkot Semarang mulai mendorong ketahanan pangan dari tingkat keluarga.
Melalui program Bulir Padi (Budi Daya Pekarangan Pangan dan Gizi), masyarakat diajak memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk menghasilkan sebagian kebutuhan pangan.
Program tersebut mencakup budidaya tanaman pangan, kolam lele hingga ayam petelur yang dapat dikembangkan di lingkungan RT/RW.
“Kita perlu membangun ‘rumah pangan’ mandiri dari tingkat keluarga untuk mengantisipasi potensi gejolak maupun tantangan ekonomi di masa depan,” ujar Agustina.
Artinya, strategi pangan murah Semarang tidak hanya mengandalkan intervensi harga melalui GPM. Pemerintah juga mulai mendorong warga memiliki sumber pangan sendiri agar ketergantungan terhadap pasokan pasar bisa dikurangi.
4. Bentuk intervensi yang langsung sentuh masyarakat
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Bank Indonesia. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, menilai Kempling Semar menjadi salah satu bentuk intervensi yang langsung menyentuh masyarakat.
“Kami mengapresiasi komitmen Kota Semarang yang konsisten melakukan langkah nyata dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga. Kempling Semar menjadi bentuk intervensi yang tepat waktu dan langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Dengan permintaan beras dan telur yang terus tinggi, Pemkot Semarang kini menghadapi pekerjaan berikutnya, yakni memastikan pangan murah tidak hanya tersedia, tetapi tersedia cukup, rutin, dan sedekat mungkin dengan rumah warga.
Curated For You
- Stabilkan Harga, Dishanpan Gencarkan Pangan Murah di Pekalongan03 Sep 2025, 12:47 WIB
- Pasar Pangan Murah Berjalan di Semarang Bikin Warga Senang Belanja24 Jul 2025, 14:03 WIB