Merinding! Pengalaman, Perempuan di Purwokerto 40 Tahun Kerja Merias Jenazah

- Asmani, perempuan asal Banyumas, telah 40 tahun mengabdikan diri sebagai perias jenazah sejak 1986 dan melayani berbagai agama serta adat dengan penuh ketulusan.
- Ia pernah mengalami kejadian tak terlupakan seperti air mata jenazah yang berhenti setelah bagian tubuhnya disatukan kembali sebelum dimakamkan.
- Asmani menegaskan tantangan utama bukan hal mistis, melainkan kondisi fisik jenazah; ia menjalani profesinya dengan empati dan keikhlasan sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Banyumas, IDN Times - Bagi sebagian orang, melihat jenazah saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Namun, hal itu justru menjadi bagian dari keseharian Lay Te Kim alias Asmani Tiawabangi sebuah nama Jawa. Perempuan asal Banyumas ini telah mengabdikan diri sebagai perias jenazah sejak tahu 1986 atau selama kurang lebih 40 tahun.
Profesi yang bagi banyak orang terdengar menyeramkan justru dijalaninya dengan penuh ketulusan. Tak pernah sekalipun ia merasa takut, bahkan ketika harus menangani korban kecelakaan, pembunuhan, hingga jenazah dengan kondisi tubuh yang rusak parah.
Asmani mengaku ketertarikannya pada dunia pemulasaraan jenazah muncul sejak masih kecil. Saat teman-teman sebayanya menghindari pemakaman, ia justru senang mengamati prosesi terakhir seseorang. "Sejak kecil saya memang suka. Saya tidak takut melihat orang meninggal. Mungkin memang sudah ada bakatnya,"ujarnya saat berbincang dengan IDN Times di Kelenteng Hok Bek Tio, Purwokerto, Seni (6/7/2026).
Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi profesi yang ditekuninya hingga sekarang. Selama empat dekade, ia telah merias hampir 200 jenazah dari berbagai usia, latar belakang, agama, hingga suku.
1. Melayani semua agama dan adat

Asmani mengaku ketertarikannya pada dunia pemulasaraan jenazah muncul sejak masih kecil. Saat teman-teman sebayanya menghindari pemakaman, ia justru senang mengamati prosesi terakhir seseorang. "Sejak kecil saya memang suka. Saya tidak takut melihat orang meninggal. Mungkin memang sudah ada bakatnya,"ujarnya saat berbincang dengan IDN Times di Kelenteng Hok Bek Tio, Purwokerto, Seni (6/7/2026).
Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi profesi yang ditekuninya hingga sekarang. Selama empat dekade, ia telah merias hampir 200 jenazah dari berbagai usia, latar belakang, agama, hingga suku.
Menurut Lay, setiap jenazah memiliki tata cara penghormatan yang berbeda. Karena itu, ia selalu mengikuti permintaan keluarga maupun adat yang dianut. Ada yang ingin dikenakan kain jarik, gaun, maupun pakaian tertentu sebagai penghormatan terakhir.
Ia juga terbiasa menangani pemulasaraan jenazah umat Islam, Kristen, Katolik, hingga masyarakat Tionghoa yang masih menjalankan tradisi leluhur. "Yang penting kita menghormati keluarga dan keyakinannya,"katanya.
2. Pengalaman yang sulit dilupakan

Selama puluhan tahun bekerja, Asmani mengalami banyak peristiwa yang masih membekas dalam ingatannya. Salah satunya terjadi sekitar dua dekade lalu saat ia merias seorang nenek yang air matanya terus mengalir meski telah meninggal.
Awalnya ia tak mengetahui penyebabnya. Belakangan keluarga menjelaskan bahwa kaki sang nenek baru diamputasi di rumah sakit dan belum disatukan dengan jenazah. Setelah kaki tersebut dibawa pulang dan diletakkan bersama jenazah sebelum dimakamkan, air mata yang semula terus keluar berhenti dengan sendirinya.
Ada pula pengalaman ketika darah tiba-tiba keluar dari wajah jenazah setelah cucu yang sangat dirindukan datang memberikan penghormatan terakhir. Bagi Asmani, kejadian-kejadian seperti itu menjadi bagian dari pengalaman panjang yang tak mudah dijelaskan.
3. Tantangan kondisi jenazah dan tak pernah merasa dihantui

Meski pekerjaannya selalu berdekatan dengan kematian, Asmani mengaku tak pernah mengalami gangguan gaib. Ia justru memandang pekerjaannya sebagai bentuk pelayanan terakhir kepada seseorang yang telah meninggal dunia. "Saya tidak pernah dihantui. Saya merasa hanya membantu mereka pulang dengan baik," katanya.
Bukan kisah mistis yang menjadi tantangan utama, melainkan kondisi fisik jenazah. Korban kecelakaan dengan wajah rusak atau pasien yang mengalami perubahan warna kulit menjadi pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ekstra. Asmani harus menentukan teknik rias yang tepat agar keluarga tetap dapat melihat wajah orang yang mereka cintai dalam kondisi terbaik saat perpisahan terakhir.
Kini semakin banyak orang yang mulai belajar menjadi perias jenazah. Namun bagi Asmani, profesi ini tidak cukup hanya bermodal keberanian. Menurutnya, dibutuhkan empati, kesabaran, dan keikhlasan karena yang dihadapi bukan hanya jenazah, tetapi juga keluarga yang sedang berduka. "Ini bukan hanya merias wajah. Kita sedang membantu keluarga memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang mereka cintai," ujarnya.
Bagi Asmani, setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Selama masih diberi kesehatan, ia ingin terus menjalankan profesi yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama 40 tahun. "Roh itu suatu saat pasti kembali kepada Allah. Saya hanya membantu mereka menjalani perjalanan terakhir dengan layak dan penuh hormat," tutupnya.





















