BRI Setor Pajak Rp8,1 Triliun ke Negara, Terbesar di Industri Keuangan

- BRI menyetor pajak Rp8,1 triliun pada kuartal I 2026, menjadikannya penyumbang pajak terbesar di industri keuangan nasional dengan total kontribusi negara mencapai Rp19,1 triliun.
- Dalam tiga tahun terakhir, BRI konsisten berkontribusi besar bagi negara dengan total setoran mencapai puluhan triliun rupiah melalui pajak dan dividen yang terus meningkat setiap tahunnya.
- Penyaluran kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun, sementara DPK naik 9,4 persen dan dana murah (CASA) mencapai 68,07 persen dari total DPK.
Semarang, IDN Times – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali menegaskan posisinya sebagai penyumbang pajak terbesar di industri keuangan nasional. Sepanjang kuartal I 2026, bank di bawah supervisi Danantara itu telah menyetor pajak sebesar Rp8,1 triliun ke kas negara.
1. Total kontribusi BRI ke negara capai Rp19,1 triliun

Jika digabungkan dengan dividen tahun berjalan sebesar Rp11 triliun, total kontribusi BRI kepada negara pada Januari–Maret 2026 mencapai Rp19,1 triliun. Capaian tersebut memperkuat peran BRI sebagai salah satu penopang utama penerimaan negara melalui sektor keuangan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, pembayaran pajak bukan sekadar pemenuhan kewajiban perusahaan, tetapi menjadi bentuk kontribusi langsung terhadap pembangunan nasional.
“Kami percaya bahwa kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan tidak hanya menjadi bentuk tanggung jawab perusahaan, tetapi juga bagian dari kontribusi langsung bagi kemajuan bangsa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (14/7/2026).
Momentum yang bertepatan dengan peringatan Hari Pajak Nasional setiap 14 Juli ini menegaskan komitmen BRI untuk terus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan melalui kontribusi terhadap penerimaan negara.
2. Kontribusi BRI terhadap negara konsisten dalam 3 tahun terakhir

Kontribusi BRI terhadap negara tersebut juga menunjukkan tren yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, total setoran BRI mencapai Rp50,5 triliun, terdiri atas pajak Rp27,3 triliun dan dividen Rp23,2 triliun. Nilai tersebut meningkat menjadi Rp57,6 triliun pada 2024, dengan komposisi pajak Rp31,9 triliun dan dividen Rp25,7 triliun.
Sementara itu, pada 2025, total kontribusi mencapai Rp55,8 triliun, yang terdiri dari pajak Rp28,1 triliun dan dividen Rp27,7 triliun.
Setoran pajak tersebut mencakup berbagai jenis kewajiban kepada negara, mulai dari Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan Badan, Bea Meterai, hingga pajak daerah.
Menurut Hery, besarnya kontribusi tersebut mencerminkan posisi strategis BRI dalam mendukung struktur fiskal pemerintah sekaligus memperkuat pembangunan ekonomi nasional.
‘’Kemampuan BRI menjaga kontribusi kepada negara ditopang oleh kinerja bisnis yang tetap tumbuh pada awal tahun. Hingga akhir Maret 2026, BRI Group membukukan laba bersih Rp15,5 triliun. Total aset perseroan meningkat 7,2 persen secara tahunan menjadi Rp2.250 triliun,’’ terangnya.
3. Penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 13,7 persen

Pada sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 9,4 persen menjadi Rp1.555,1 triliun.
Komposisi dana murah (CASA) juga terus meningkat hingga mencapai Rp1.058,6 triliun, atau setara 68,07 persen dari total DPK, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 65,77 persen.
Hery menegaskan, penciptaan nilai perusahaan harus tercermin dalam manfaat ekonomi yang dirasakan negara melalui penerimaan pajak.
“Bersama Danantara Indonesia, BRI akan terus mengakselerasi pertumbuhan yang berkualitas sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat semakin optimal melalui penerimaan pajak negara,” tandasnya.




















